
"Hah ? Apa itu barusan ? Astaga bibir Ku ! Haaa...!" Melati berteriak sampai Arash yang haru saja berlalu pergi dari hadapan Melati menyunggingkan senyuman di bibirnya bahkan ia memegangi bibirnya seolah bibir Melati telah menjadi candu untuknya.
"Kenapa Kau tersenyum tidak jelas ?" teman sekelas Arash yang juga anak dari sahabat Mentari, dia adalah Farhan anaknya Bunga dan Albert.
"Apa Kau habis kepentok gagang sapu Pak Kudir ?" Farhan kembali bertanya hingga ia terkekeh sendiri dan membuat Arash langsung mengerucutkan bibirnya.
"Berisik sekali Kau !" Arash mengeluarkan buku tulisnya dari dalam tasnya.
"Jadi ngmong-ngmong Kau putus dengan Danisa, huh...Aku tidak mengerti kenapa Kalian bisa putus padahal Kalian sudah seperti perangko yang selalu menempel." kata Farhan pelan sambil mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka.
"Berhentilah bicara kerjakan saja tugas Mu atau Ku sumpal mulut Mu dengan kertas ini !"
__ADS_1
Arash memberikan ultimatum pada Farhan dan seperti biasa Farhan akan bias-biasa saja menerima sikap Arash sebab mereka bersahabat dan tidak menganggap itu semua serius.
"Oke..oke..tenang saja ! Tapi hari ini Apa kita jadi main futsal ?" tanya Farhan memastikan sebab mereka sudah berencana untuk main futsal hari ini bersama teman-teman mereka yang lain.
"Jemput Aku pakai mobil baru Mu !" Arash menjawab tanpa menoleh pada Farhan sebab ia sedang mengerjakan tugas di buku tulisnya.
Farhan mendesah pelan jika ditanya dengan mobil baru pasalnya Ayahnya si Albert tidak mengizinkannya membawa mobil tersebut sebab SIM nya belum jadi, masih harus menunggu satu Minggu lagi untuk bisa membawanya.
"Ini semua gara-gara Ayah Ku ! Apalagi dia terus memaksa untuk Aku kuliah di luar negeri di kampus yang sama seperti dirinya dulu pernah berkuliah. Padahal cita-cita Ku bukan menjadi seorang pengusaha tapi seorang atlet, Apa dia tidak pernah melihat prestasi segudang milik Ku ? Hais..." kata Farhan panjang lebar ia menjadi frustasi sendiri karena impiannya harus ia kubur dalam-dalam.
Mendengar celotehan Farhan, sejenak Arash merasa kasihan dengan kembarannya, Arish. Saudara kembarnya itu sangat menginginkan menjadi seorang dokter bedah. Tapi Mario tidak mengizinkannya untuk menjadi dokter sebab Mario ingin dirinya dan Arish mengambil alih perusahaan yang begitu besar milik keluarga Scherzinger.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, bel pulang berbunyi menandakan para siswa untuk pulang. Arash masuk ke dalam mobilnya dan mengirim pesan pada Melati untuk mencarinya di halaman parkir mobil.
"Aku di parkiran mobil !"
Melati membaca pesan tersebut ia menghela nafasnya kali ini sepertinya ia akan pulang pergi sekolah bersama pria dingin seperti kulkas itu.
Namun sedetik kemudian ia terpikirkan sesuatu.
"Tunggu, kenapa Aku jadi harus menurut padanya ?"
"Lama-lama Aku bisa gila hanya karena pasal dia menyelamatkan Ku, dia jadi harus menurut padanya...hais..belum lagi dia berani mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dasar pria play boy ! Kenapa juga banyak siswi disini yang tergila-gila padanya." Melati hanya bisa mengucapkan itu dalam hatinya.
__ADS_1
...****************...