
Arash mendengar suara teriakan dari dalam gedung pertemuan sekolah, ia sebenarnya tak sengaja lewat di area gedung tersebut karena ingin menemui Devan yang sedang berada di lapangan tenis sekolah.
Arash mencoba membuka pintu namun sepertinya pintunya terkunci dari dalam. Terlalu lama jika ia meminta bantuan penjaga sekolah untuk membuka pintu tersebut sebab suara teriakan dan tangisan di dalam membuat Arash semakin penasaran.
Dengan terpaksa Arash membuka pintu secara paksa dengan cara menendangnya, hingga pintu itu terbuka lebar.
BRAK
"Hah...Ar..rash !" Wilona dan Marcelia terkejut melihat siapa orang mendobrak pintu tersebut. Mereka kini dilanda ketakutan luar biasa saat melihat kilatan kemarahan di wajah Arash.
Arash langsung menghampiri Melati yang masih terduduk di lantai karena tubuhnya begitu sakit semua dan juga nyeri.
"Brengsek kalian !" maki Arash pada Wilona dan Marcelia seketika mereka berlari keluar gedung namun ternyata mereka dicegat oleh Arish dan Aurel.
"Amankan dua siluman itu ! Bawa mereka ke ruang kepala sekolah !" kata Arash dengan tegas sedangkan Arash langsung menggendong Melati menuju pusat kesehatan sekolah.
"Tidak mau, jangan bawa Kami !" Wilona dan Marcelia memberontak saat tubuh mereka dibawa oleh Arish dan Aurel bahkan mereka juga di bantu oleh Devan dan juga Farhan yang tiba-tiba datang.
"Kalian berdua memang selalu membuat onar, kali ini kena Kalian !" kata Farhan ia memegangi tangan Wilona di belakang.
......................
"Sudah Ku bilang jangan dekat-dekat dengan dua wanita itu !" gumam Arash yang terus menggendong Melati sampai menuju pusat kesehatan sekolah. Mereka bahkan menjadi pusat perhatian para siswa siswi.
__ADS_1
"Astaga...kapan Aku bisa sepertinya ? Digendong oleh pangeran impian."
"Aku mau digendong juga !"
Bahkan beberapa diantara para siswa siswi tersebut mengabadikan moment saat Arash menggendong Melati lewat kamera ponsel mereka. Mereka bahkan mengirimkan foto-foto itu ke grup sekolah hingga menjadi tranding topik para siswa siswi.
"Astaga....Beruntung sekali wanita itu !"
"Ternyata Arash cepat move on dari Danisa !"
"Siswi kelas berapa, yang berani mengalahkan Danisa ?"
Dan masih banyak lagi komentar para siswa dan siswi di grup sekolah yang membuat Danisa semakin marah dan terbakar api cemburu.
Lain halnya dengan Arash dan Melati, mereka tidak tahu menahu soal informasi di grup sekolah. Sebab Arash mencemaskan keadaan Melati yang begitu memprihatinkan.
Setelah Melati di periksa oleh petugas kesehatan sekolah, Arash kemudian mendudukkan diri di kursi samping ranjang Melati.
Melati yang masih sadar langsung menoleh ke arah Arash. Sudah berapa kali pria itu menyelamatkan dirinya, meskipun sikap Arash selalu dingin dan menyebalkan padanya.
"Terimakasih." lirih Melati
"Tidak perlu berterima kasih, Kau memang selalu berhutang Budi pada Ku !" kata Arash dengan datarnya.
__ADS_1
"Aku selalu menyusahkan Mu !" lirih Melati lagi.
"Iya, Kau memang selalu menyusahkan !" kata Arash yang membuat Melati langsung mendudukkan pandangan matanya.
"Sebentar lagi Mama dan Papa akan datang, dua wanita gila itu sepertinya memang harus diberi pelajaran supaya tidak membuat onar lagi pada Mu !"
Melati mengangkat kepalanya dan menatap Arash. "Banyak sekali hutang Budi Ku pada Mu, bagaimana cara Ku membalasnya." keluh Melati kemudian yang membuat Arash menarik ujung bibirnya.
"Gampang ! Iya kan saja nanti perkataan Ku !" kata Arash dengan tegas.
"Hah ? Maksudnya ?" tanya Melati dengan bingung karena ucapan Arash begitu ambigu untuknya.
"Nanti Kau akan tahu !" Arash kemudian bangkit dari duduknya lalu tiba-tiba Arish dan Aurel datang menghampiri Melati.
"Melati...Apa Kau baik-baik saja ?" tanya Arish cepat memastikan kondisi Melati, ia begitu khawatir akan Melati.
"Aku baik-baik saja, Arish." jawab Melati apa adanya. Kemudian ia menatap Arash dimana Arash juga menatap dirinya.
"Syukurlah Kau baik-baik saja." Arish dengan refleks memeluk Melati karena ia begitu khawatir pada wanita yang ia sukai tersebut.
Aurel bisa melihat jelas kalau Arash dan Arish saling menyukai Melati. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya entah mungkin suatu saat akan ada peperangan antar saudara hanya karena wanita.
...****************...
__ADS_1