
Di dalam perjalan pulang ke rumah Melati terus berdiam diri ia terpikirkan mengenai pertemuannya barusan dengan Ibu tirinya, Sita.
Entah angin atau setan apa yang merasuki jiwa Sita hingga Sita jadi membenci dirinya. Sekelebat ingatannya dulu saat mereka masih tinggal bersama Sita begitu menyayangi dirinya bahkan Sita tak pernah segan-segan untuk memarahi Mawar jika ia tengah ribut dengan Mawar hanya karena hal sepele.
Sita yang selalu ada untuknya di saat-saat Melati membutuhkan dirinya, Sita selalu tulus menyayanginya, lalu mengapa Sita begitu membencinya. Belum lagi apa yang Sita lakukan pada Mario, Sita seolah gelap mata dan haus akan uang.
Arash yang melihat Melati melamun sejak mereka masuk ke dalam mobil, hanya bisa menghela nafasnya pelan. Apa yang bisa diperbuat olehnya untuk wanita itu ? Lagi pula Arash pikir apa pentingnya Melati baginya ?
Arash berdecak kesal mengapa dirinya mendadak memperdulikan perasaan Melati ?
Setelah melewati perjalanan yang begitu panjang, mobil Arash tiba di halaman rumah. Mereka kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah bersama-sama. Tentu saja Melati menjadi murung dan lesu sebab ia masih teringat akan perlakuan Sita.
"Tolong siapkan, ini untuk Arish !" Arash meminta kepala pelayan untuk memindahkan pesanan Arish dan membawa ke kamarnya.
"Arash ?" panggil Mentari pada putra kesayangannya.
__ADS_1
"Iya Ma." jawabnya
"Kenapa Melati ? Apa dia sakit ?" tanya Mentari yang tidak sengaja melihat Melati yang seperti tidak bersemangat masuk ke kamarnya.
"Mungkin sakit hati Ma !" jawab Arash
"Sakit hati ?" Mentari bingung dengan ungkapan putranya tersebut. "Kau tidak mengerjainya kan ?" Mentari langsung menatap tajam Arash hingga Arash menjadi tidak suka dengan sikap Mamanya yang selalu membela Melati semenjak Melati tinggal bersama mereka.
"Aku tidak berani mengusik anak kesayangan Mama !" jawab Arash malas.
"Arash, Kau tidak boleh bicara seperti itu. Andai Kau tahu bagaimana hidupnya dulu, pasti Kau akan menerima Melati seperti saudara Mu." Mentari menasehati putranya, karena memang benar hubungan Melati dan Arash tidak pernah akrab hanya Arish yang mau dekat dan akrab bersama Melati.
"Mau pergi lagi ?" tanya Mentari
"Hem.."
__ADS_1
"Bersama Farhan atau bersama Danisa ?" tanya Mentari kemudian, hingga Arash tak terima jika tak dipercayai oleh Mamanya.
"Kenapa Mama jadi percaya padaku ?"
"Karena Kau pernah mengecewakan Mama. Mama tidak suka dengan Danisa, ingat Arash fokus utama Mu saat ini adalah sekolah, Mama tidak Mau Kau berpacaran apalagi dengan Danisa !" kata Mentari
"Kenapa Mama tidak menyukainya ? Lagi pula Aku selalu mempertahankan prestasiku di sekolah. Ayolah Ma, Aku bukan anak kecil lagi usia Ku sebentar lagi menginjak 18 tahun. Sesuai permintaan Papa, Aku akan menuruti keinginannya menjadi penerus perusahaan. Lalu apa lagi yang kurang ? Aku hanya minta sedikit kebebasan, Ma."
"Tapi Arash..."
"Apa Ma ? Sudah lah Aku lelah, Aku ingin istirahat !" Arash mengakhiri percakapan bersama Mamanya dengan memilih pergi masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Mentari, ia hanya bisa menatap nanar dari kejauhan tubuh putranya yang hendak pergi ke kamarnya. Mentari pikir mungkin kah dirinya selalu memberikan aturan yang berlebihan pada Arash. Padahal Mentari hanya ingin yang terbaik untuk kedua anak-anaknya. Sebab ia tak ingin anak-anaknya terjerumus dalam pergaulan bebas.
Apalagi mengingat Danisa, mengapa Mentari tak menyukai gadis itu semua ada sebabnya itu karena....
__ADS_1
...****************...
Gaes..komen yang banyak aku update satu bab lagi kalo banyak yang komen 🤭