
"Masak apa, Mentari ?" tanya Helena yang melihat menantunya sibuk di dapur bersama dua koki yang tengah memasak.
"Masak makanan spesial biar suami Ku klepek-klepek, Ibu Mertua !" jawab Mentari sambil tersenyum manis.
"Oh iya, nanti buat lebih ya, untuk Daddy dan Mommy !" pinta Helena tersenyum manis pula.
"Siap, Ibu mertua, dengan senang hati !" jawab Mentari antusias
"Sip !" Helena mengacungkan jari jempolnya.
"Ibu mertua mau kemana, cantik sekali ?" tanya Mentari yang melihat tampilan Ibu mertuanya.
"Mommy mau pergi arisan Sayang, Mommy pergi dulu ya ! Daa..." Helena pun pergi dari hadapan Mentari sedangkan Mentari hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa Ibu mertua tidak pernah belajar memasak dengan kalian ?" tanya Mentari dengan dua koki tersebut
"Selama kami bekerja disini, Nyonya besar tidak pernah mengijakkan kakinya di dapur."
"Oh, pantas saja Ibu Mertua Ku bisanya hanya goreng telur, kalau tidak ada kalian mungkin Bapak mertua bisa sering bisulan !" kata Mentari dengan santainya dan membuat dua para koki itu terkekeh mendengarnya.
......................
"Bu Lusi, ini berkas yang Tuan Mario minta." ucap karyawan bagian keuangan menyerahkan berkas pada Lusi.
"Oke, terimakasih." jawab Lusi tersenyum manis.
"Sudah jam makan siang, apa Bu Lusi mau ikut makan siang bersama Ku ?" kata karyawan bagian keuangan tersebut, sebut saja namanya Yoga.
"Ah, iya kebetulan Aku tidak punya teman. Baiklah ayo kita ke kantin !" ajak Lusi
__ADS_1
Kemudian mereka berdua berjalan ke kantin dan duduk saling berhadapan makan siang bersama. Kebersamaan makan siang antara Lusi dan Yoga tersebut ternyata tak sengaja dilihat oleh Harry yang juga ingin makan siang.
Raut wajah Harry berubah masam saat melihat Lusi dan Yoga saling bercerita dan bersenda gurau mereka berdua terlihat begitu akrab, hingga membuat Harry kesal melihatnya.
Harry terus memperhatikan Lusi dan Yoga dengan tangannya yang terus mengaduk-aduk makanan di piringnya.
"Pak Harry kenapa ? Tidak selera makan ?" tanya rekannya hingga membuat Harry tersadar.
"Ah, tidak ada ! Ayo makan !" Harry pun menyantap makan siangnya dengan hati yang entah bagaimana untuk mendefinisikannya.
Beberapa jam kemudian, setelah makan siang usai, Harry menuju ruangan Mario sebelum ia masuk ke ruangan Mario, Harry melihat Lusi yang masih asyik menelpon seseorang.
"Mana laporan keuangannya ?" ucap Harry dengan wajah datar hingga membuat Lusi terkaget dengan suara Harry barusan.
"Apa Kau tidak punya sopan santun ?" balas Lusi menatap Harry sinis.
"Kau yang tidak punya tata krama, ini jam kerja tapi Kau malah sibuk dengan ponsel Mu !" kata Harry tak kalah sengit.
"Kalau iya kenapa ? Apa masalah Mu ? Aku berhak menegur Mu karena Aku tangan kanan Tuan Mario." jawab Harry hingga membuat Lusi merasa kalau Harry pria yang sombong.
"Hei jangan sombong Kau !"
"Siapa yang sombong, Aku tidak pernah sombong apalagi berbohong !" sindir Harry
"Ber.. bohong.. Bohong apanya ?" ucap Lusi terbata-bata.
"Hanya Aku yang tahu kebohongan Mu, Nona Lusi !" Harry menyunggingkan senyuman dibibirnya.
"Jangan ngadi-ngadi Kau !"
__ADS_1
"Aku tidak mengada-ada, tapi faktanya !"
"Memangnya Aku berbohong apa ?" tanya Lusi lagi
"Apa Aku harus menjelaskan kebohongan Mu ?"
"Memang dasar pria aneh, sudah mengada-ada cerita ! Aku tidak pernah berbohong pada pria mata keranjang seperti Mu !" skak Lusi yang membuat Harry terperanjat.
"Mata keranjang kata Mu ? Kau itu yang wanita palsu !" balas Harry tak mau kalah.
"Tadi pembohong sekarang palsu ! Hei Tuan Harry yang terhormat, tidak perlu Kau memberi cap pada Ku yang tidak-tidak !" ucap Lusi dengan suara agak meninggi.
Pertengkaran diantara Lusi dan Harry ternyata terdengar dari dalam ruangan Mario. Mario dan Mentari membuka pintu dan benar saja Lusi dan Harry tengah perang bicara.
"Dasar pembohong ! Penipu !"
"Kau yang pembohong !"
"Kau !"
"Memangnya dia bohong apa ?" Mentari ikut nimbrung sebab ia bingung mana yang benar mana salah diantara Harry dan Lusi.
"Apa perlu Ku beritahu mereka Kau pakai beha tiga lapis !" bisik Harry hingga membuat Lusi terperanjat kaget dan seketika itu pula Lusi memukul kepala Harry dengan buku.
^^^Bugh ^^^
"Aaaaw...!"
"Uh.. Itu pasti sakit sakali !" Mario bergedik melihat Harry begitupun dengan Mentari.
__ADS_1
...****************...