GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
SENIOR


__ADS_3

"Sayangnya Aku tidak mau, dan lihat waktu Mu sudah habis !" ucap Safira dengan angkuhnya ia kemudian berlalu bersama kedua temannya dan meninggalkan Mentari.


"Hah ?!" Mentari mebelalakkan matanya, Mentari pun merasa kesal karena menganggap Safira mengerjai dirinya.


Dan dengan terpaksa Mentari pun menerima hukuman dari seniornya yaitu mencari sepuluh ekor belalang. Tentu saja hukuman tersebut sangat mudah Mentari lakukan, jika itu dilakukan di desa bukan di kampus sebab di kampus tempatnya kuliah tidak ada semak-semak kalau pun ada itu di belakang kampus.


Mentari pun dengan berat hati pergi ke belakang kampus seorang diri ke belakang gedung kampus. Ia mendapatkan beberapa belalang yang ia masukkan ke dalam kantong plastik.


"Baru ada enam, huft...!" Mentari mendengus kesal teman-temannya yang lain sudah bersiap untuk pulang sedangkan dia masih sibuk mencari belalang.


"Rasanya ingin ku sempal saja mulut Safira itu dengan Belalang !" Mentari menjadi kesal dan marah mengingat prilaku Safira beberapa jam lalu.


Mentari pun terus mencari belalang sampai tiba-tiba ia melihat ada rumah pohon.


"Punya siapa ?" Mentari melihat rumah pohon itu dengan seksama ia memperhatikan rumah tersebut hingga tiba-tiba pintu rumah tersebut terbuka dengan sendirinya tak ada angin tak ada hujan.


Mentari menjadi kaget dan ketakutan menganggap mungkin saja dirumah itu ada hantunya.


"Hantu...!" Mentari berteriak dan belari menuju gedung pertemuan saat ia berlari tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang.


...Bruk ...

__ADS_1


Tubuh mentari jatuh tepat di atas tubuh seorang pria, dia adalah Presiden BEM Bara Valentino.


... Pucuk di cinta ulam pun tiba yang sedari tadi di lihat kini berada di pelukan ! ...


Sejenak Bara terpaku dengan pesona cantiknya Cahaya Mentari, benar-benar ia sudah jatuh cinta dengan adik tingkatnya.


"Ma.. Maaf Kak !" Mentari langsung bangkit dari tubuh Bara hingga keduanya merasa saling tak enak hati dan canggung.


"Tidak apa-apa, lain kali lihat-lihat kalau berjalan." balas Bara dengan ramah.


"Iya Kak !"


Apa yang terjadi diantara Bara dan Mentari nyatanya di lihat oleh Safira ia semakin kesal karena menganggap kalau Mentari sengaja mendekati Bara dan mencari perhatian. Sebab Safira sudah lama naksir dengan Bara dan selalu mencuri kesempatan agar bisa berdekatan dengan Bara.


Mentari dan Bara menoleh ke arah Safira.


"Mana belalangnya ?" tanya Safira cepat .


"Ini !" Mentari memberikannya pada Safira.


"Kenapa cuma enam ? masih kurang empat !" protes Safira

__ADS_1


"Susah nyarinya Kak ! Lagi pula Saya kan sudah berusaha." jawab Mentari mentap sebal dalam hati pada Safira karena Safira memberikan hukuman hanya untuk mengerjai dirinya.


"Dasar gadis kampung manja !" sentak Safira


"Sudahlah Safira lagi pula walau pun belalangnya tidak lengkap setidaknya dia sudah berusaha." Bara mencoba membela Mentari agar Safira bisa memaklumi.


"Tapi kan... " ucapan Safira terputus saat Bara terlebih dahulu memberikan ultimatum padanya.


"Aku presiden BEM disini dan Aku yang memutuskan !" kata Bara dengan tegas.


"Tidak bisa seperti itu, Bara !" Safira masih tak terima dan kekeh kalau Mentari harus menyelesaikan hukumannya.


"Sudah cukup !" ucap Bara hingga Safira terdiam.


"Kembali lah ke kelompok Mu, kegiatan ospek akan segera selesai !" Bara memberikan perintah pada Mentari dan Mentari mengiyakannya.


"Terimakasih Kak !" Mentari begitu senang dan menang akhirnya dia tidak perlu repot lagi mencari belalang.


Safira semakin geram dan tak suka dengan Mentari ia menatap tajam Mentari dan Mentari hanya bisa memberikan senyuman mengejek pada Safira sebelum ia meninggalkan Safira dan Bara.


"Dasar ! Tunggu saja Kau, dasar gadis kampung !" Batin Safira.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2