GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
DIPECAT


__ADS_3

BRAKK


Danisa membuka pintu dengan sangat kencang hingga membuat Arash yang sedang fokus dengan laptopnya langsung mendongakkan kepalanya menatap wanita yang ada di masa lalunya itu.


"Apa Kau tidak punya sopan santun !" kata Arash dengan dingin.


Danisa menelan kasal air ludahnya sendiri, Arash benar-benar sudah berubah. Tak seperti yang Arash dulu ia kenali.


"Tuan Arash, pertama Aku minta maaf atas kelancangan ku dan kedua Aku hanya ingin meminta hak Ku, sesuai kontrak kerja di perusahaan ini." kata Danisa tanpa ba-bi-bu, dan membuat Arash hanya diam memperhatikan Danisa ia ingin melihat apa yang mau Danisa lakukan padanya.


"Apa maksud Mu ? Kau ingin hak apa ?" tanya Arash dengan santainya.


"Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun selama satu pekan telah bekerja di perusahaan ini, lantas mengapa Anda memecat Ku. Rasanya ini tidak etis, sebab Aku tidak memiliki kesalahan apapun untuk dipecat dari perusahaan ini !" Danisa melayangkan protesnya pada Arash, dan Arash hanya diam tak berekspresi.


"Jadi apa mau Mu ?" kata Arash


"Aku tidak mau kehilangan pekerjaan Ku, Tuan." kata Danisa dengan cepat dan Arash menyunggingkan senyuman di bibirnya.

__ADS_1


"Ini perusahaan Ku, Aku adalah pemimpinnya, jadi terserah Aku ingin memecat Mu atau tidak !" kata Arash dengan santainya.


"Anda tidak profesional Tuan Arash !" kata Danisa menekankan kata-katanya.


"Berhenti mendikte Ku !" kata Arash menatap tajam Danisa.


"Benar bukan ? Anda memecat Ku bukan karena Aku memiliki masalah di perusahaan, tapi karena Aku atau hubungan Kita yang pernah ada dimasa lalu !" ucap Danisa dengan spontan.


Harry yang sejak tadi mendengar percakapan antara Arash dan Danisa, kini ia paham mengapa Arah tidak mau Danisa menjadi sekretarisnya.


"Kau salah, Nona Danisa ! Aku butuh sekretaris yang berpotensi dan profesional. Sedangkan Kau tidak mumpuni sama sekali. Dan terakhir, kapan Kita ada dimasa lalu ? Aku bahkan baru melihat Mu ! Siapa Kau, bahkan Aku tidak tahu ! Kau jangan besar kepala !" kata Arash menatap tajam Danisa hingga membuat Danisa merasa terhenyak.


"Keluar dari ruangan Ku sekarang !" usir Arash dengan suara beratnya.


"Tapi Tuan..." ucapan Danisa terputus saat Arash kembali mengusir dengan membentaknya dengan keras.


"Keluar !!!!!"

__ADS_1


"Harry !" pekik Arash memanggil nama Harry untuk masuk ke dalam ruangannya. Secepat kilat Harry kemudian masuk ke dalam menghadap Arash.


"Bawa wanita tak tahu diri ini keluar dari ruangan Ku !" titah Arash menunjuk Danisa.


"Baik Tuan !" kata Harry menganggukkan kepalanya patuh dengan perintah Arash.


Harry membawa Danisa keluar dari ruangan Arash. Danisa memberontak dan tak terima dengan sikap dan keputusan Arash yang secara sepihak memecatnya.


"Lepaskan Aku !"


Selepas kepergian Danisa, Arash menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Ia menghela nafasnya, dalam hati dan pikirannya mengenai wanita itu ia tak ingin melihat seujung kuku pun atau mendengar suaranya pun ia tak sudi. Sudah cukup ia mengetahui betapa busuknya wanita seperti Danisa, yang rela mengorbankan kehormatannya demi mendapatkan kesuksesan.


Tak lama Harry masuk ke dalam ruangannya dengan membawa berkas dan meletakkannya di meja kerja Arash.


"Maaf kan Saya Tuan, Saya tidak tahu kalau Danisa adalah wanita yang ada dimasa lalu Tuan Muda !" kata Harry pelan, ia sudah mencari tahu semua latar belakang Danisa. Harry tentu saja terkejut sebab Danisa adalah mantan istri Tuan Bernando yang merupakan pemilik perusahaan entertainment terkenal di Ibu Kota.


"Tidak masalah ! Putuskan semua kerja sama yang berkaitan dengan Tuan Bernando, banyak perusahaan entertainment lainnya yang modelnya bisa Kita pakai untuk mengiklankan produk perusahaan ini !" kata Arash.

__ADS_1


"Baik Tuan !"


...****************...


__ADS_2