GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
SAUDARA RIBUT


__ADS_3

Arish langsung menjauhkan wajahnya dari Melati saat Arash masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya Arash sudah masuk ke dalam kamar Arish saat Arash hendak mengambil sesuatu di wajah Melati.


Ada perasaan tidak suka ketika melihat saudara kembarnya itu begitu dekat dengan Melati. Apalagi jika ia tidak cepat memergoki mereka berdua pasti Arish tanpa sengaja sudah mencium Melati.


Arash tentu saja tidak terima sebab yang Arash tahu hanya dirinya orang pertama yang mencium Melati dan ia tak terima jika ada orang lain yang berani menciumnya. Entahlah mengapa tiba-tiba ia memiliki perasaan itu, meskipun perasaannya masih ambigu sebab masih terbayang akan Danisa.


"Kalian sedang apa ?" tanya Arash datar dan seolah pura-pura tidak tahu.


"Ah...Melati menemani Ku makan !" jawab Arish dengan santainya.


"Oh, Kau sudah sembuh bukan ? Itu artinya Kau bisa masuk sekolah !" kata Arash.


"Ck..Kau sudah seperti Papa !" sungut Arish yang melihat sikap Arash yang tak jauh bahkan sangatlah replikanya Mario.


"Jangan menggerutu, cepat habiskan makanan Mu. Aku ingin bicara pada Mu. Dan Kau pergilah dari kamar ini !" kata Arash lalu menatap Melati.

__ADS_1


"Oh baiklah !" jawab Melati.


Setelah kepergian Melati Arish jadi tak selera makan apalagi Arash mengusirnya dengan cara seperti itu, dan itu membuat Arish tak menyukai sikap Arash padanya.


"Tidak kah Kau bersikap baik padanya ? Dia juga bagian keluarga ini, anggaplah sedikit Dia seperti saudara Mu !" protes Arish setelah ia meletakkan nampan makanannya di atas meja.


"Dia bukan saudara Ku, bahkan dia bukan terlahir dari rahim Mama Ku. Lantas mengapa Aku harus perduli dan menganggapnya seperti saudara Ku !" jawab Arash datar dan membuat Arish tak menyukai sikap Arash.


"Kau jangan seperti itu, Kau membencinya hanya karena hal sepele." jawab Arish, ia tentu saja tahu masalah Arash dan Melati.


"Sepele katamu ? Mama dan Papa bahkan tidak mau menegur Ku, bahkan mereka pada waktu itu mereka membekukan kartu debit dan kredit Ku. Memberi Ku uang saku yang sangat sedikit." protes Arash yang mengingat bagaimana dulu Mentari dan Mario memberikannya hukuman.


"Andai Kau tahu Arash siapa Danisa, pasti Kau tidak akan sudi untuk jatuh cinta padanya !" ucap Arish dalam hati.


Arish terpengarah mendengar Arash. "Kata orang benci bisa berubah jadi cinta." Jawab Arish dengan santainya. Dan membuat Arash tertawa mengejek.

__ADS_1


"Haha..yang benar saja ! Hal konyol seperti apa itu ?"


"Dia lebih baik dari pada Danisa !" kata Arish apa adanya.


"Tutup mulut Mu, sudah lah Aku tidak jadi bicara dengan Mu !" kata Arash dengan ketus.


Arish menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Arash padanya, sebegitu kah rasa Arash pada Danisa hingga Arash lebih memilih Danisa ketimbang saudara dan orang tuanya.


"Benar-benar budak cinta, kalau Kau tahu yang sebenarnya pasti Akan menyesal !" sungut Arish yang tiba-tiba menjadi kesal pada Arash.


Arash membanting pintu kamar Arish dengan kencang hingga membuat Arish terperanjat kaget dan meneriaki Arash.


BRAKK


"Yaaaak...Arash !"

__ADS_1


"Lama-lama bisa rusak pintu kamar Ku kalau sering dibanting olehnya. Sepertinya Aku harus meminta pada Papa untuk mengganti pintu kamar ini dengan pintu baja agar tahan banting jika pria gila itu suatu saat membanting pintu kamar ini lagi !"


...****************...


__ADS_2