
Gaes...aku update 4 bab, kalo banyak yang koment aku bakal update lagi 😂🤣😁🙏
......................
"Yaak...apa yang Kau lakukan !"
Saat ini Arash membawa Melati masuk ke dalam kamar mereka. Arash membawa Melati dengan paksa hingga Melati bersungut-sungut pada Arash.
"Kenapa Kau mengabaikan pesan Ku ?" tanya Arash dengan intens.
Selama ini mereka hanya bisa berbalas pesan dan juga melakukan video call namun Melati enggan untuk menampakkan wajahnya saat Arash menghubunginya lewat video call.
Apalagi sudah satu bulan ini ia tak lagi membalas pesan dari Arash, sebab Melati ingin melihat sejauh mana pria itu mulai menyukai dan mencintai dirinya. Karena sudah cukup baginya dulu ia diperlakukan semena-mena oleh Arash, karena Arash masih mencintai Melati.
Awal mula Arash menikah dengan Melati, hanya karena ia ingin membuat Danisa cemburu dan memohon kembali kepadanya. Namun siapa sangka, Arash terjebak di dalam permainannya sendiri, Danisa tak kembali padanya karena lebih memilih bersama Bern, dan Arash sendiri malah larut dalam perasaannya pada Melati dan mulai mencintainya.
__ADS_1
"Kuota Ku, habis !" elak Melati ia mengalihkan tatapannya ke arah lain, sebab ia begitu canggung ditatap seperti itu oleh Arash.
"Jawaban tidak bermutu !" kata Arash kemudian ia meraih tekuk Melati dan mencium bibir Melati tanpa permisi hingga Melati membelalakkan kedua matanya.
"Hhhmpph.."
Ciuman itu begitu lembut walaupun sedikit memaksa sebab Melati tak mau membalas ciuman Arash. Namun beberapa detik kemudian, Arash bisa membuka mulut Melati hingga lidahnya dengan leluasa mengekspor.
"Aku merindukan Mu." lirih Arash membelai bibir Melati dengan lembut hingga Melati seolah merasa terbuai dengan apa yang dilakukan oleh Arash.
"Aku tidak !" Melati kembali mengelak namun Arash bisa menebak jika Melati juga merindukan dirinya, mungkin Melati hanya gengsi.
Cinta itu datang tanpa disadari oleh keduanya. Jarak membuat keduanya menyadari kalau cinta itu datang tanpa tahu kapan. Hanya saja mereka sibuk menata diri masing-masing. Arash yang fokus pada kuliahnya dan belajar banyak tentang bisnis begitu pun Melati ia menata masa depannya dengan meneruskan pendidikannya dan saat ini sudah menjadi seorang dosen di salah satu universitas terbaik.
"Pergi saja kalau Kau mau !" jawaban Melati membuat Arash membalikkan badannya ke arah Melati dan menatap Melati dengan mata elangnya.
__ADS_1
Melati sempat tak percaya, Arash yang dulu dingin, arogan, dan semaunya berubah 180 derajat sekarang. Melati sampai tak bisa berkata apa-apa lagi. Bukankah ini yang ia mau sejak dulu, membuat Arash bisa menerima dirinya dan hubungan pernikahan mereka. Haruskah Melati merasa bahagia ?
Tapi disisi lain ada hal yang masih mengganjal dalam lubuk hatinya yang paling dalam, tentang Danisa ! Apakah benar Arash sudah tak peduli lagi pada Danisa dan melupakan wanita itu ?
"Sepertinya sudah seharusnya Aku..." Arash yang kesal dengan Melati ia kemudian menarik Melati dan menggendongnya seperti koala menuju tempat tidur mereka.
"Eh..mau ngapain ?" Melati terkesiap dengan sikap Arash yang tiba-tiba merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Kau selalu menggoda Ku, Aku ini pria yang normal. Apalagi beberapa hari lalu, apa Kau sengaja ingin memamerkan tubuh Mu, pada Ku ?" Arash membuka jas yang melekat ditubuhnya dan membuka kancing kemejanya.
"Hah ? Menggoda Mu ?" Melati terkejut bukan main.
Ya, pada waktu itu Melati tak sengaja meletakkan ponselnya di atas meja namun ia lupa untuk merubah kamera panggilan video call dari Arash, sebab pada waktu itu Melati sedang berganti pakaian di walk in closed.
"Jadi bagaimana, Apa Aku boleh melakukannya ?" Arash mengungkung tubuh Melati hingga detak jantung mereka saling beradu.
__ADS_1
Deg
...****************...