GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
BINGUNG


__ADS_3

"Dasar wanita edan, kemana saja Kau ? Dimana Kau, wahai si Bunga Zainal !" ucap Mentari begitu kesal pada sahabatnya itu dalam panggilan video call.


"Aku...disini..." Bunga memutar kamera ponselnya di mode belakang dengan menampilkan pemandangan kota Cappadocia, Turki.


"Astaga !" pekik Mentari menutup mulutnya, ia tak percaya jika sahabatnya itu ternyata lari dan tinggal di Turki saat ini.


"Lihat, gadis desa ini ternyata bisa berada di luar negeri !" kata Bunga dengan bangganya.


"Hoh...Kau berlagak ya !" cibir Mentari hingga membuat Bunga terkekeh mendengarnya.


"Aku senang melihat Mu hidup kembali, Mentari !" kata Bunga


"Hei, Kau kita aku mati suri ?" balas Mentari dengan santainya.


"Hahaha, katanya kalau orang koma terus hidup lagi namanya mati suri !" jawab Bunga kemudian.


"Kata siapa ?" sentak Mentari

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan dukun sebelah desa kita, dukun number one Mbah Mijan !" jawab Bunga dengan percaya diri sambil terkekeh geli.


"Hais...ternyata selain Harry kau juga percaya dengan dukun palsu itu !" cibir Mentari


"Ya...mau bagaimana ya menjelaskannya, soalnya ucapannya kadang ada benarnya !" celetuk Bunga


"Ah, sudah lah jangan bahas dukun ! Apa Kau tidak kasihan pada Albert ?" tanya Mentari


"Albert ?" Bunga menarik sudut bibirnya membentuk senyuman penuh arti. Mendengar nama pria yang pernah menjadi suaminya itu, rasanya begitu ambigu baginya. Tentu saja ia kasihan karena telah memisahkan Farhan darinya tapi disisi lain ia juga masih begitu kecewa atas apa yang pernah Albert lakukan padanya dulu.


......................


"Apa Kau sudah tidak waras ? Dimana Bunga ? Apa pentingnya urusan Mu dengan Ku, lagi pula mana Ku tahu dimana Dia !" jawab Mario tak suka dengan kehadiran Albert, meskipun yang membuat kesalahan adalah Naura namun tetap saja akar permasalahannya adalah Albert.


"Tidak mungkin Kau tidak tahu dimana keberadaan mereka, Aku yakin Kau menyembunyikan sesuatu tentang mereka yang tidak ku ketahui !" ucap Albert kekeh dengan keyakinannya jika Mario tahu dimana keberadaan Bunga dan Farhan.


"Apa Kau kurang ngopi dan merokok ? Hais...ribet sekali hidup Mu !" ejek Mario ia kemudian lebih memilih menyesap kopi di cangkirnya.

__ADS_1


"Kalau Kau jadi Aku, pasti Kau akan merasakannya !" jawab Albert


"Kenapa juga Aku harus merasakan hal sama seperti yang Kau rasakan !" jawab Mario dengan santainya.


"Satu tahun mereka menghilang Mario, Kau mungkin tidak akan tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat dicinta !" jawab Albert menyugar rambutnya.


Mario tersenyum mengejek pada Albert tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat dicintai katanya ! yang benar saja, ia bahkan menuggu Mentari sadar dari masa koma dalam waktu satu tahun.


"Kau gila atau bagaimana ? Apa Kau lupa kalau istri Ku koma dan satu tahun kemudian ia baru bisa bangun dari tidur panjangnya ? dan itu semua gara-gara ulah istri Mu yang tak tahu rasa syukur !" jawab Mario berubah geram melihat Albert.


Albert terdiam, apa yang dikatakan oleh Mario memang benar. Albert sudah frustasi dan bingung harus bagaimana dan dimana mencari keberadaan Bunga dan Farhan.


"Aku mohon Mario, tolong beri tahu dimana keberadaan mereka !" Albert sampai bersujud di kaki Mario dan membuat Mario membulatkan kedua matanya serta risih.


"Hei, apa yang Kau lakukan Albert ! Apa Kau sudah gila ?!"


Lain halnya dengan Mentari sedari tadi ia menguping pembicaraan suami dan Albert, kini Mentari menyadari jika Albert benar-benar merasa menyesal dan begitu kehilangan Bunga dan Farhan.

__ADS_1


"Apa iya harus Ku beri tahu ?" lirih Mentari ia bingung dengan dirinya, apakah ia harus memberitahu keberadaan Bunga atau tidak.


__ADS_2