GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
ARASH SUDAH BERUBAH


__ADS_3

"Kau mau melakukannya dengan Mu, tapi Aku harus tahu dulu prihal hubungan Mu dengan Danisa ?!" Melati mencegah Arash untuk menyentuh tubuhnya.


Wajar saja jika Arash meminta haknya, sebab Melati adalah istrinya. Sudah tujuh tahun mereka menikah namun mereka belum pernah melakukan hubungan badan. Bagaimana pula mereka mau melakukannya jika mereka saja hidup terpisah.


"Danisa ?" Arash terdiam mendengar nama wanita itu. Sudah lama ia tak mendengar nama itu, seperti apa dia sekarang dan bagaimana kabarnya ia sudah tak tahu dan tak peduli lagi dengan wanita itu.


"Jangan membahas wanita itu !" sahut Arash dengan suara beratnya.


"Aku hanya memastikan, sebab Aku tak ingin terluka dan disakiti untuk kesekian kalinya, oleh Mu. Bukan kah Kau menikahi Ku pada awalnya karena ingin membuat Dia cemburu ? Lantas bagaimana sekarang ? Apa artinya Aku di mata Mu ?" ucap Melati dengan serius.


Arash terdiam sembari menatap manik mata Melati dengan dalam. Arash pikir wanita bisa menebak perasaan pria dengan mudah, nyatanya Arash salah. Wanita memang butuh penjelasan panjang kali lebar supaya jelas dan mengerti. Sebab ia itulah wanita .


"Kau sangat berarti bagi Ku, karena Kau adalah istri Ku dan Kau adalah orang yang berhasil membuat Ku bertekuk lutut pada Mu itu karena Aku jatuh cinta pada Mu !" jawab Arash dengan pelan hingga membuat Melati menutup mulutnya karena terus saja merasa tak percaya dengan perubahan sikap Arash padanya.


"Apa Kau masih belum percaya pada Ku ?" tanya Arash dengan serius.


Melati diam dan bungkam sebab tak tahu harus bagaimana membalas ucapan Arash serta perasaannya..

__ADS_1


"Percaya atau tidak Kau adalah istri Ku, Aku meminta hak Ku karena Aku adalah suami Mu, sebagai seorang istri Kau harus menjalankan kewajiban Mu !" kata Arash lagi hingga membuat Melati tertegun.


Cup


Arash mengecup kening Melati dengan lembut. "Mandilah, Kita bisa melakukanya nanti setelah Kau siap !" Arash bangkit dari atas tempat tidur dan berjalan keluar kamar menetralkan dirinya. Sebab berada di dekat Melati membuat Burungnya terasa sesak di balik celana yang ia kenakan.


Melati menepuk keningnya dan merutukki kebodohannya.


"Kewajiban..kewajiban !"


......................


"Papa akan mengadakan pesta pergantian kepemimpinan, siap kan diri Mu Arash." kata Mario saat ini mereka tengah menikmati makan malam bersama.


"Kapan ?" tanya Arash pelan tanpa ekspresi.


"Dua hari lagi, semua sudah dipersiapkan. Papa yakin perusahaan kita bisa semakin berkuasa dibawa pimpinan Mu." kata Mario dengan penuh keyakinan, sebab selama ini ia sudah mendidik putranya itu tanpa terlewatkan sedikit pun mengenai perusahaannya.

__ADS_1


"Apa yang membuat Papa begitu yakin ?" kata Arash.


"Papa bisa melihat itu di mata Mu, Kau tidak akan mengecewakan Mama dan Papa !" jawab Mario dengan serius.


"Terimakasih, atas kepercayaan, Papa..Mama." kata Arash dengan tulus menatap Mario dan Mentari secara bergantian.


"Kau putra Ku, sudah seharusnya Aku memberikan yang terbaik untuk Mu." Mario menatap Arash.


"Tapi Aku ingin Arish pulang saat penobatan itu di laksanakan !" kata Arash dengan suara beratnya.


Mendengar nama Arish membuat Mentari terdiam. Putranya yang satu itu sengaja menghindar dari rumah, dengan alasan ingin melanjutkan pendidikan kedokterannya. Padahal bukan itu alasannya, melainkan Arish ingin menghindari Melati.


Pada akhirnya Mentari mengetahui perasaan yang tak terbalas yang dirasakan oleh putranya itu. Sudah sering Mentari menasehati Arish, untuk belajar menerima kenyataan dan berlapang dada. Tapi entah mengapa Arish seolah tak terima, perasaannya pada Melati tetap tertancap dalam hatinya, bahkan Arish menganggap biarlah ia mencintai seorang diri meski tak dapat memiliki.


"Dia akan pulang besok !" kata Mario dengan tegas, hingga membuat Melati dan Mentari menoleh ke arahnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2