
Sorry Gaes aku lupa update kemarin, hari ini aku update banyak janji deh, asal banyak yang komen yaa..🤣
...----------------...
3 Minggu kemudian,
Arish menatap lurus ke depan dimana diruang tengah para pelayan tengah sibuk mempersiapkan segala persiapan acara pernikahan Melati dan Arash.
Arish pikir ini benar-benar di luar nalarnya. Bisa-bisanya kedua orangtuanya menikahkan Melati dan Arash padahal mereka masih sekolah. Apa ini zaman Siti Nurbaya ? Bukan ini bukan lagi zaman baheula ini zaman milenial, tapi kenapa Arish pikir kedua orang tuanya menjadi kolot. Apa karena dulu kedua orang tuanya menikah karena sebuah perjodohan ? Makanya mereka mau mempraktekkannya dengan Arash.
Lalu bagaimana dengan dirinya ? Apa dia nanti akan mengalami nasib yang sama, punya istri karena pilihan kedua orang tua ?
Oh tentu saja Arish tidak mau itu terjadi padanya. Sudah cukup dirinya merasakan sakit hati karena cinta bertepuk sebelah tangan sebab cintanya telah layu sebelum berkembang, bahkan ia pun sudah kalah sebelum berperang.
"Arish, kenapa Kau belum berganti pakaian ?" kata Mentari yang melihat putranya masih mengenakan pakaian rumahan.
"Acaranya kan masih lama, Ma." kata Arish cemberut, lalu Mentari melihat perubahan dari wajah putra kesayangannya tersebut, Mentari pikir ada yang tidak beres dari Arish yang tidak Mentari ketahui.
__ADS_1
"Kau kenapa, Arish ?" tanya Mentari dengan lembut.
"Tidak ada apa-apa, Ma !" Arish kemudian berlalu pergi dari hadapan Mentari, dan berjalan ke arah taman belakang rumah yang pastinya sudah di dekor sedemikian rupa oleh tukang dekor.
Mentari hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu tiba-tiba kepala pelayan menyerahkan jas milik Arish yang baru saja tiba.
Mentari kemudian membawa jas Arish ke kamarnya, begitu Mentari meletakkan jas Arish di gantungan pakaian. Mata Mentari menyipit kala melihat sebuah buku bewarna coklat, di atas nakas. Entah mengapa ia seakan tertarik untuk membuka buku tersebut.
Mentari kemudian membukanya, dan membaca lembar demi lembar tulisan Arish yang tiba-tiba membuatnya penasaran.
"Hah ? Apa maksudnya ? Siapa yang Arish tulis disini ?" kata Mentari, lalu ia membaca di halaman selanjutnya.
'Apa Kau tahu, hatiku berdebar sangat kencang saat Kau berada disisi Ku. Jiwa Ku penuh semangat memulai hari saat Kau tersenyum kepada Ku, senyuman yang mampu membuat Ku tidak bisa tidur karena terbayang akan cantiknya diri Mu.'
"Sejak kapan putra Ku, jadi romantis begini ?" kata Mentari lagi
'Jantung Ku berdebar saat kencang bahkan aku penuh gelisah saat Aku tanpa sengaja akan mencium Mu.'
__ADS_1
"What ?!!!" pekik Mentari
"Kenapa Dia tidak pernah memahami perasaan Ku, perhatian yang pernah Ku berikan, Kenapa ? Perasaan Ku kesal bukan main kala melihat Dia berjalan dengan yang lain."
"Apa yang harus Ku katakan, Aku bingung kenapa lidah Ku kelu saat ingin menyatakan perasaan Ku padanya !"
"Baru saja Aku membeli buket mawar merah, Ku pikir ini adalah hari bahagia untuk Ku, ternyata Aku salah. Cinta Ku bertepuk sebelah tangan, Dia sudah bersama dengan yang lainnya."
"Aku tidak bisa tidur malam saat mendengar Dia akan menikah, apa yang harus Ku lakukan ? Mengikhlaskan cinta pertama Ku meski pun cinta Ku tak terbalaskan !"
"Siapa yang wanita yang dimaksud Arish ?" Mentari bingung sendiri, sebab Arish tidak menuliskan nama wanita yang ada di dalam bukunya.
Hingga tiba-tiba Arish masuk ke dalam kamarnya, matanya membulat sempurna kala melihat Mentari membaca buku harian miliknya. Dengan cepat Arish mengambil buku tersebut dari tangan Mentari, hingga Mentari menatap putranya dengan sorot tanda tanya yang besar.
"Arish ?"
...****************...
__ADS_1