
Albert masuk ke dalam ruang bersalin dalam keadaan yang memprihatinkan, sebab wajahnya penuh memar karena mendapatkan banyak pukulan dari Mario.
Albert melihat Bunga yang kini tengah kesakitan hendak melahirkan bayinya. Ia tak menyangka jika Bunga tengah mengandung anaknya, rasa sesal dan penyesalan menghampiri Albert. Jika saja ia tahu Bunga tengah hamil tidak mungkin ia meninggalkannya, secinta apapun ia pada Naura. Tetap saja Bunga setidaknya pernah hadir di hidupnya.
“Bunga…!” lirih Albert lansung memegang tangan Bunga.
“Tu..tuan Al..” Bunga terkejut sembari menahan rasa sakit kontraksi yang selalu datang tanpa jeda sebab dibawah sana bayinya akan segera keluar.
“Bunga, lihat Aku. Ayo Kau pasti bisa melahirkan bayi Mu, bayi Kita !” ucap Albert memberikan semangat pada Bunga agar Bunga kuat melahirkan bayinya.
“Ahhh..sakit !”
“Ayo mengejan Nona, sekarang !”
“Aaaaaa.”
__ADS_1
“Bunga, ayo Kau pasti bisa !” Albert mengecup kening Bunga dan terus menggenggam tangan Bunga.
Hingga beberapa saat kemudian perjuangan panjang melahirkan seorang bayi itu sukses, Bunga begitu lega dan bahagia karena bayinya kini sudah lahir ke dunia dengan ke adaan selamat dan sehat.
“Selamat, Nona. Anda sudah menjadi Ibu sekarang, bayinya berjenis kelamin laki-laki sehat dan tampan !” ucap Bidan tersebut meletakkan bayi Bunga yang baru lahir ke dada Bunga untuk dilakukan inisiasi menyusui dini.
Bunga menangis bahagia, ia tak menyangka kalau ia sudah melahirkan seorang anak dan kini ia telah menjadi seorang Ibu. Ia tak bisa mengungkapkan rasa bahagianya, selain dengan cara menangis bahagia bahkan ia terus menciumi pucuk kepala bayinya dengan lembut.
...………………...
“Apa yang kau katakan, Dok !” Mario meremas kerah baju dokter yang baru saja memberikan penjelasan padanya mengenai operasi Mentari.
Mario harus menelan pil pahit saat dokter menjelaskan kondisi Mentari, kalau Mentari saat ini dalam keadaan koma setelah di operasi.
“Tidak, Mentari akan baik-baik saja, istri Ku pasti akan sadar kan, Mom, Daddy !” Mario menangis dia sampai tak bisa menahan tubuhnya sendiri agar tak terjatuh.
__ADS_1
“Sabar, Nak. Sabar.” Helena memeluk Mario ia pun sama sedihnya seperti Mario mendengar kondisi Mentari saat ini.
“Kami juga harus mengatakan kabar buruk lagi, Pak. Rahim istri anda terpaksa kami angkat sebab kondisi rahimnya robek parah dan tidak memungkinkan lagi untuknya hamil kembali dimasa yang akan datang !” terang dokter tersebut kembali, hingga membuat Mario hanya mampu terdiam seribu bahasa.
Helena dan Scherzinger tentu saja merasa sangat terkejut mendengarnya.
“Astaugfirullah !” Scherzinger sampai menutup mulutnya, ia tak menyangka menantunya akan mengalami hal yang begitu naas seperti ini.
“Mom, kenapa Tuhan memberi Ku ujian seperti ini !” Mario menangis di dalam pelukan Mommy nya, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang.
“Sabar Mario, Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan umat-Nya. Saat ini istri Mu hanya membutuhkan doa Mu, bermunajat lah pada yang Maha Kuasa, agar Mentari segera bangun dari masa koma nya !”
Scherzinger memberikan nasehat pada Mario agar Mario tak terpuruk, sebab apa yang Mario rasakan tentu saja ia bisa merasakannya, sebab ikatann batin orang tua dan anak sangatlah kuat.
“Rasanya begitu sesak, Dad, Mommy !” Mario masih tergugu dalam tangisnya, ia masih tak bisa menerima kenyataan pahit seperti ini dalam hidupnya, apalagi mengenai orang yang sangat ia cintai, Cahaya Mentari.
__ADS_1
...****************...
Dua bab dulu ya gaes..besok lanjut lagi….jangan lupa like dan komen yang banyak, Aku pengen beli es boba besok siang biar makin semangat nulisnya..hehehe