
"Dokter Jimmy ?" Mentari mengerutkan keningnya saat melihat Dokter Jimmy keluar dari mobilnya.
"Selamat pagi, Nyonya, Tuan Muda Arish." sapa Dokter Jimmy pada Mentari dan Arish.
Mentari dan Arish baru saja pulang dari kegiatan jogging mereka.
"Ada apa kemari, Dok ?" tanya Mentari lagi.
"Harry mengatakan jika Tuan Muda Arash tengah sakit, jadi Aku datang untuk memeriksanya." jawab Jimmy apa adanya.
Mentari menjadi bingung sejak kapan putranya sakit ? Karena beberapa jam lalu ia melihat Arash masih tidur nyenyak dengan Melati.
"Arash sakit ?" pekik Mentari, ia lalu mengajak Jimmy ke kamar Arash.
Sesampainya mereka dikamar Arash, Mentari mencari keberadaan Arash dan Melati. Namun tidak ia temukan ia pun membuka kamar mandi dan alangkah terkejutnya ia melihat anak dan menantunya itu tengah dalam posisi yang begitu intim.
"Astaga ! Maaf Mama mengganggu !"
Arash dan Melati saling menoleh ke arah Mentari yang kemudian keduanya langsung buru-buru bangkit berdiri.
......................
"Jadi, apa yang Tuan Muda rasakan ?" tanya Dokter Jimmy
"Sudah tidak sakit lagi !" jawab Arash yang membuat Jimmy terheran.
__ADS_1
"Apanya yang tidak sakit lagi ?" tanya Jimmy lagi.
"Sensitif Ku, Paman !" jawab Arash pelan
"Memangnya terkena apa ?"
"Kena tendang istri Ku !" jawab Arash apa adanya.
Jimmy menahan tawanya agar tidak keluar. Ia memang sudah tahu jika anak majikannya itu sudah menikah dua hari lalu, tapi mendengar milik Arash yang ditendang oleh Melati, Jimmy jadi menduga mungkinkah mereka mengalami malam pertama yang gagal.
"Harus pelan-pelan, tidak boleh dipaksakan. Kalau pengantin baru, memang masih hot-hotnya." seloroh Jimmy
"Apa maksud Paman ?" Arash mengernyitkan dahinya, bingung kemana alur pembicaraan Dokter Jimmy padanya.
"Berbaringlah, biar Paman cek terlebih dahulu !" pinta Jimmy, yang membuat Arash pasrah saja, dari pada burungnya tidak diperiksa nanti malah terjadi hal yang tak ia duga.
"Sedikit bengkak!" jawab Jimmy setelah memeriksa Arash.
"Kalau kena tendang saja bisa begini, apalagi kalau kena jepit !" celetuk Jimmy yang membuat Arash semakin pusing mendengar celotehan Jimmy padanya.
"Dikompres air hangat saja, biar cepat sembuh. Atau jika repot pakai salep ini saja sehabis mandi !" Jimmy memberikan Arash salep.
"Terimakasih, Paman !" jawab Arash pelan.
"Oh, iya. Tadi Paman mampir untuk membeli hadiah pernikahan Mu. Ini ambil lah !" Jimmy menyerahkan sebuah paper bag berukuran kecil pada Arash dan Arash menerimanya.
__ADS_1
"Apa isinya, Paman ?" Sebab paper bag yang dipegang oleh Arash begitu sangat kecil.
"Ah, itu hanya sarung !" jawab Jimmy dengan santainya sambil membereskan alat kerjanya..
"Sarung ?" tanya Arash bingung.
"Iya !"
"Apa Papa Ku kurang memberikan uang, hingga Paman hanya memberi Ku hadiah sarung ?" tanya Arash lagi.
"Sarung itu beda, Arash." jawab Jimmy "Ya sudah, Paman harus kembali lagi ke rumah sakit. Jangan lupa makan dan salepnya di oleskan, dan juga sarungnya jangan lupa di pakai kalau sedang dibutuhkan !" jawab Jimmy lagi, lalu ia pergi dari hadapan Arash yang masih bingung dengan isi di dalam paper bag tersebut.
"Dasar dokter aneh !" gumam Arash kemudian ia membuka paper bag tersebut dan mengeluarkan isi di dalamnya, betapa terkejutnya Arash saat tahu apa isinya.
"Sialan !"
Di tengah perjalanan Jimmy ditelepon oleh Mario.
"Apa Kau sudah memberikannya pada Arash ?" kata Mario
"Sudah, Tuan ! Aku yakin sekarang pasti dia tengah mengumpat pada Ku !" jawab Jimmy sambil terkekeh.
...****************...
Sarung apa kira-kira yang diberikan oleh dokter Jimmy ? 🤣
__ADS_1