GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
KEBAYA PENGANTIN


__ADS_3

"Siapa yang Kau maksud di dalam buku catatan Mu, Arish ?" Melati menatap putranya dengan tanda tanya besar, karena penasaran dan juga khawatir mungkin kah akhir-akhir ini putranya sedikit murung dan jarang keluar kamar karena sedang patah hati.


"Ma, itu privasi Ku." jawab Arish tak suka jika Mamanya banyak tanya.


"Jadi Kau tidak suka Mama bertanya ?" Mentari merengut, ia tahu Arish putra kesayangannya itu tidak akan tega melihat Mamanya bersedih.


"Ma, bukan seperti itu." kata Arish dengan lembut. "Nanti Aku ceritakan jika sudah waktunya." kata Arish lagi


"Janji ya ?" tunjuk Mentari dengan satu jarinya.


"Janji Mama Ku tersayang !" Arish mengecup pipi Mentari sekilas. Lalu kemudian obrolan mereka berakhir sebab Mentari harus mengurus sesuatu yang belum selesai.


Arish menghela nafasnya, ia kemudian mengambil buku hariannya dan memasukkannya ke dalam lemari paling bawah.


"Ini sudah berakhir !" Lalu ia kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kasar.


Berkecamuk hatinya, tentu saja ! Orang yang ia cintai akan menikah dengan pria lain terlebih itu adalah saudara kembarnya sendiri.


................


'Aku mencintai Mu, Melati !'

__ADS_1


Melati menatap kalung berbentuk bintang yang ia letakkan di atas meja riasnya. Kalung itu dari orang yang selama ini begitu baik kepadanya. Siapa lagi kalau bukan Arish.


Melati tak menyangka semalam mendapatkan kejutan ungkapan perasaan dari Arish. Ia tak menyangka jika Arish mencintai dirinya. Lalu bagaimana mungkin ia membalas perasaan Arish, sedangkan ia sendiri akan menikah dengan Arash.


Selama ini ia sudah menganggap Arish sebagai saudaranya sendiri, tak lebih dari itu.


Lama Melati berdiam dalam lamunannya, tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu kamar. Melati lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke pintu dan membukanya. Ternyata yang datang adalah Grand Ma Helena dan Nenek Jamilah.


"Uh...cucu menantu Kita, ayo dicoba dulu gaun pengantinnya." kata Helena


Helena dan Jamilah begitu antusias dan bahagia kala melihat Melati yang sebentar lagi akan menikah dengan cucu mereka.


"Kamu pasti grogi, ya Ndok ?" tanya Jamilah


Melati hanya tersenyum, entah bagaimana menjelaskan perasaannya saat ini. Pada akhirnya ia setuju untuk menikah dengan Arash karena permintaan Mario padanya. Mungkin apa yang dikatakan oleh Mario ada benarnya, lebih baik ia menikah dengan Arish agar Mario tidak diselimuti rasa bersalah sampai akhir hayatnya.


Lagi pula Melati sudah menganggap Mario dan Mentari sebagai orang tuanya, ia sudah nyaman berada di pelukan keluarga kecil mereka. Lalu apa lagi yang Melati pikirkan ? Jika mengingat almarhum Ayahnya, bukan kah Ayahnya akan senang dan bahagia melihat dirinya hidup bahagia tanpa kekurangan apapun.


"Ayo Melati di coba dulu kebayanya. Grand Ma, memesannya seminggu lalu, pasti sangat cocok untuk Mu." Helena menyerahkan kebaya pengantin itu pada Melati.


Melati pun mengambilnya dan pamit mencoba kebaya itu. Setelah kebaya itu melekat di tubuhnya, Melati keluar dari walk in closed, membuat Helena dan Jamilah kagum, karena kebaya itu benar-benar pas di tubuh calon menantunya.

__ADS_1


"Perfect !"


"Walah..cantiknya !"


"Terimakasih Nenek, Grand Ma !"


Helena dan Jamilah kemudian mengajak Melati duduk di sofa. Bukan hanya memberikan sebuah kebaya pengantin, mereka ingin memberikan Melati wejangan pada calon cucunya itu.


"Melati, dengarkan Grand Ma. Kau masih muda, dan masih bersekolah. Ingatlah Kau akan tetap menomorsatukan pendidikan Mu."


"Tentu saja Grand Ma." jawab Melati dengan mantap.


"Dan satu lagi, mungkin ini terdengar agak sensitif untuk Mu. Jagalah diri Mu dan badan Mu, sebab Kau masih sekolah. Kami bukan tidak mau dipanggil nenek buyut, tapi lebih baik Kalian menundanya sampai kalian cukup usia untuk memiliki anak." kata Helena lagi dengan lembut.


Melati terdiam, mendengar ucapan dari Helena. Meskipun ia belum tahu dunia pernikahan, tapi ia siswa yang pintar. Ia tahu pasti setelah menikah akan ada yang namanya pasangan suami istri tidur seranjang, hubungan badan suami istri.


Tentu saja Melati belum siap akan hal itu, ia tentu saja akan membentengi dirinya.


"Aku tahu, Nenek, Grand Ma. Terimakasih atas nasehatnya. Aku akan menjaga diri Ku." jawab Melati dengan lembut, hingga membuat Helena dan Jamilah bernafas lega.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2