GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
KECURIGAAN


__ADS_3

Satu minggu kemudian, Mentari dan Mario pergi berlibur ke Jepang selama beberapa hari. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan bersenang-senang di negara sakura tersebut.


Kebersamaan mereka selalu diposting oleh Mario di akun sosial medianya. Hingga membuat para netizen yang berteman dengannya selalu mengikuti perkembangan mereka berdua.


Melisa yang tak sengaja melihat foto-foto momen liburan mantan pacarnya tersebut hatinya seperti disayat sembilu, ia begitu menyesal melepaskan pria sebaik Mario malah memilih David yang ia kira lebih baik nyatanya David pria yang jauh berbanding terbalik dengan Mario.


"Andai dulu aku tidak menghianati Mu, Aku pasti sudah jadi nyonya besar dan hidup bahagia !" lirih Melisa tak lama perhatian Melisa teralihkan saat Naura datang menyapa dirinya dengan membawa secangkir es cappucino.


"Ibu hamil minum es terus, apa Kau tidak takut badan Mu akan melar ?" ucap Melisa melihat perut Naura yang kian membuncit


"Ya, sudah terjadi mau bagaimana lagi." jawab Naura dengan santainya.


"Apa Kau tidak takut ?" tanya Melisa


"Takut apanya ?" tanya Naura cepat


"Melahirkan mungkin !" ucap Melisa mengandung arti lain.


Naura tersenyum mendengar jawaban Melisa "Hah... Aku akan melahirkannya dengan metode operasi ! Aku masih mau berkarya di dunia model !" jawab Naura dengan santainya.


"Apa Kau yakin pimpinan agensi ini masih menerima wanita yang sudah punya anak !" tanya Melisa sambil merapikan tatanan rambutnya.


"Tentu saja, Mr. Jovan pasti mau menerima Ku !" pungkas Naura dengan percaya diri.

__ADS_1


Melisa mengeryit heran dengan jawaban Naura, pasalnya pemilik agensi modeling tempatnya bekerja tersebut tidak mentolelir modelnya yang sudah punya anak.


"Semoga saja ucapan Mu benar." jawab Melisa


"Jadi selama Kau vakum karena hamil, apa pekerjaan Mu saat ini ?" tanya Melisa lagi


"Tidak ada, Aku menikmati hari Ku dengan belanja dan ke salon. Aku malah bosan, Aku rindu suasana pemotretan seperti ini !" lirih Naura


"Hah, dikasih hidup enak Kau malah memilih hidup yang melelahkan !" Melisa terkekeh namun tak lama Naura beranjak dari duduknya saat melihat orang yang tengah ia cari.


"Aku pergi dulu !" Naura meninggalkan Melisa di ruang make up.


Melisa mengeryit heran saat melihat Naura mendekat ke arah Mr. Jovan dan terlebih lagi saat Melisa mengintip dari dinding ternyata Mr. Jovan merangkul pinggang Naura bahkan mengelus perut buncit Naura dan membawa Naura ke lantai atas dimana ada ruang kerjanya disana.


"Mbak Melisa !"


"Astaga ! Kau mengagetkan Aku !" Melisa mengelus dadanya karena terkejut.


"Maaf Mbak, ini makan siangnya !" dia adalah Bunga, Bunga terpaksa mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, beruntungnya ia bertemu dengan Melisa pada waktu itu Bunga hendak bunuh diri di jembatan yang sepi. Melisa menyelamatkan Bunga dan pada akhirnya Melisa memberikan tawaran pada Bunga untuk bekerja dengannya.


"Apa Kau sudah makan ?" tanya Melisa menatap Bunga yang tengah hamil itu.


Bunga menganggukkan kepalanya "Sudah, Mbak. Bayi Ku lapar jadi Aku makan duluan !" Bunga tercengir kuda pada Melisa.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu Aku makan dulu. Kau rapikan peralatan Ku, Oke !" titah Melisa


"Siap Mbak !"


Setelah pemotretan selesai, Melisa dan Bunga pergi ke mall dimana Melisa ingin membeli pakaian baru. Saat diperjalanan Melisa banyak bertanya pada Bunga pasalnya Melisa masih penasaran dengan hidup Bunga.


"Aku penasaran, siapa mantan suami kontrak Mu ? Tanya Melisa sambil mengemudikan mobilnya, ia lebih suka mengendarai mobil sendiri ketimbang memakai jasa sopir, padahal David telah menyiapkan sopir untuknya, tapi Melisa tidak pernah meminta seorang sopir mengemudikan mobilnya.


"Namanya Albert, Mbak !"


"Iya Aku sudah tahu namanya Albert tapi kan Aku tidak tahu seperti apa wajahnya !" celetuk Melisa


"Sayangnya Aku tidak punya fotonya, untuk memberi tahu seperti apa wajahnya." jawab Bunga kemudian.


"Ah... Kenapa tidak Kau foto ?" tanya Melisa lagi


"Dia tidak mau hubungan kami diketahui publik, karena Aku kan hanya wanita simpanannya ." lirih Bunga dengan wajah tertunduk.


"Hei, jangan bersedih. Di luar sana masih banyak wanita yang hidupnya jauh lebih buruk dari Mu, ayolah nikmati hidup Mu, apalagi Kau akan segera punya anak. Aku bahkan iri pada Mu, Aku bahkan saat ini mendambakan seorang anak, tapi sayangnya suami Ku seperti tidak perduli dengan rumah tangga Kami." ucap Melisa ia jadi curhat pada Bunga.


"Terimakasih Mbak, Mbak selalu menyemangati Ku. Kalau tidak ada Mbak dulu, mungkin Aku sudah mati." jawab Bunga ia menoleh ke arah Melisa selama ini Melisa telah berbaik hati padanya.


"Sama-sama. Kau sudah Ku anggap seperti Adik Ku, jangan sungkan." kata Melisa tersenyum ke arah Bunga.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2