
Keesokan harinya,
Melati mencari Arash di kamarnya namun tak ia temui keberadaan Arash.
"Kemana Arash ?" tanya Melati dengan salah satu pelayan villa.
"Sudah pergi, Nona !" jawab pelayan apa adanya karena ia melihat Arash sudah pergi bersama dua orang pengawal beberapa menit lalu.
"Percuma saja ke Bali kalau tidak diajak jalan-jalan !" sungut Melati, lalu ia menepuk jidatnya karena mengingat Alan. Sebab ia sudah berjanji pada pria itu untuk membawa Alan pulang ke hotel tempat ia menginap.
Tak lama Melati dan Alan pergi ke hotel X, setelah keduanya tiba di hotel Melati melihat Arash masuk ke dalam lift seorang diri. Melati hendak mengejar Arash namun apalah daya pintu lift sudah tertutup.
"Yaah...!" Melati menjadi lemas karena tak dapat mengejar Arash.
"Dia ke lantai 17, itu lantai yang sama tempat Ku menginap !" kata Alan melihat ke lantai mana lift yang membawa Arash pergi.
"Oh iya ? Ya sudah, ayo Kita susul Dia !" ajak Melati.
__ADS_1
......................
Disisi lain, Danisa dan Bern tengah menikmati liburan mereka di Bali mereka saat ini tengah berada dikamar hotel yang mereka tempati.
"Bagaimana apa Kau suka ?" Bern mencium punggung mulus Danisa.
"Terimakasih sudah mengajak Ku, liburan, Bern !" jawab Danisa mengecup bibir Bern sekilas.
"Aku jadi tidak sabar untuk menikahi Mu !" Bern memeluk tubuh Danisa, keduanya kini sudah terjerat dalam hubungan yang begitu serius, bukan sekedar sebagai pemuas nafsu tapi cinta. Keduanya sudah saling mencintai.
"Kapan ?" tanya Danisa cepat, ia sudah tidak sabar untuk menjadi istri Bern, jika ia sudah menikah dengan Bern pasti karirnya di dunia model semakin bersinar lagi.
"Serius ?" Danisa menatap Bern dalam.
"Aku serius ! Ayo Kita pergi jalan-jalan !" ajak Bern, ia akan mengajak Danisa pergi jalan-jalan.
"Ayok !" Danisa pun dengan semangat menyambut permintaan Bern.
__ADS_1
Keduanya pun bersiap untuk pergi dengan telah mengganti pakaian mereka. Saat keduanya membuka pintu kamar dan baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba Danisa diam mematung saat melihat siapa orang yang ada di seberangnya.
"Arash !" kata Danisa dalam hati.
Arash menatap tajam Danisa yang dirangkul oleh seorang pria dewasa dan Arash melihat sendiri kalau Danisa keluar dari kamar hotel bersama pria itu.
Tentu saja Arash tahu siapa pria yang tengah merangkul Danisa. Tuan Bernando, siapa yang tidak kenal dengan pria itu. Bukan hanya itu saja rumor tentang Bern yang suka bergonta-ganti wanita pun sudah banyak orang tahu dan menjadi konsumsi publik.
Arash miris menatap Danisa, berarti perkelahian diantara mereka beberapa waktu lalu hanyalah sebuah alasan Danisa untuk lepas darinya dan memilih Bern. Berarti selama ini Danisa tidak tulus bersamanya, Danisa hanya butuh dirinya untuk menunjangnya masuk ke dalam dunia model, sebab Arash anak orang kaya dan punya banyak uang.
Ucapan sang Mama benar adanya tentang Danisa, seharusnya ia menurut pada Mamanya jika ia tak boleh berpacaran dengan Danisa, karena Danisa bukan gadis baik-baik.
"Apa Kau mengenalnya, Baby ?" kata Bern menatap Arish tanpa menoleh ke arah Danisa.
"Tidak !" jawab Danisa singkat hingga membuat Arash diam terpaku dan mengepalkan kedua tangannya.
Bern lalu mengajak Danisa masuk ke dalam lift, Arish tetap melihat ke arah dua orang itu apalagi saat Bern tanpa urat malu mencium leher Danisa dan memeluknya sebelum pintu lift tertutup rapat.
__ADS_1
"Dasar murahan !" Arash memakai seorang diri, cinta dan perasaan yang ia miliki untuk Danisa tiba-tiba menguar dan lenyap begitu saja berganti dengan rasa benci dan jijik pada nya.
...****************...