
Arash berjalan mengendap-endap masuk ke dalam kamar karena tak ingin menimbulkan suara yang akan menyadari Melati, jika dirinya sudah pulang.
Melati yang tengah berganti pakaian dan hanya menggunakan pakaian dalaman, sontak terkejut kala matanya ditutup oleh sebuah tangan kekar yang ia tahu siapa pemilik tangan tersebut apalagi aroma parfum maskulin yang begitu familiar di indra penciumannya.
"So seksi..." Arash membisikkan itu hingga membuat bulu kuduk Melati meremang.
"Aku memang seksi !" jawab Melati dengan santainya ia lalu memakai dress selutut bewarna biru muda, untuk menutupi tubuhnya.
"Sayang, hari Senin tanggal merah. Bagaimana kalau Kita liburan." ajak Arash
"Kemana ? Libur cuma tiga hari, jangan ketempat yang jauh." kata Melati menatap wajah tampan suaminya.
"Pengennya ke Lombok !" jawab Arash namun dengan cepat Melati menepuk bahu suaminya itu.
"Kurang jauh, kenapa tidak sekalian ke Papua !" cibir Melati kemudian dan membuat Arash terkekeh geli.
"Ya sudah, enaknya kemana ?" tanya Arash kali ini ia membiarkan Melati yang memilih.
"Ke Desa Suka Merindu !" kata Melati tersenyum manis, ia mengatakan tempat itu sebab disana banyak kenangan manis yang ia habiskan bersama Arash dulu, meskipun Arash tak sebucin sekarang.
__ADS_1
"Okey...sepertinya istri Ku ingin bernostalgia !" Arash merangkul pinggang ramping Melati, dan Melati melingkarkan kedua tangannya di leher Arash.
"Aku rindu suasana disana dan tempat-tempat indahnya !" jawab Melati.
"Baik akan Ku turuti permintaan sang ratu Ku !" kata Arash kemudian ia mengecup singkat bibir Melati.
Cup
"Tapi dengan syarat ?" Arash menatap Melati dengan sorot mata yang intens.
"Apa ?" lirih Melati
"Arash !"
"Main dulu satu ronde !" Arash dan Melati sama-sama tertawa hingga pada akhirnya keduanya bersatu dalam pergulatan sengit yang membawa kenikmatan surga dunia.
Malam harinya Melati dan Arash pergi makan malam di luar, disebuah resto mewah yang belum pernah dikunjungi oleh mereka, sebab restoran itu baru saja di buka satu minggu yang lalu.
Setelah mereka memesan makanan, tibalah makanan mereka sampai, makanan tersebut tentu sangat mengunggah selera, namun bukan itu menjadi fokus Melati, melainkan wanita yang tengah membawa troli makanan yang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Mawar !"
Mawar dan Melati sama-sama saling menatap penuh kerinduan. Saudara tiri yang telah lama tak berjumpa dan tak tahu kabarnya.
"Melati." lirih Mawar, ia begitu merindukan saudari tirinya itu. Sekelebat rasa bersalah menghantui Mawar, karena ulah Ibunya Melati harus terusir dari rumah dan karena keserakahan Ibunya pula Melati harus kehilangan haknya atas rumah peninggalan Ayahnya sendiri.
"Apa kabar Mu ?" Melati memeluk erat tubuh Mawar.
"Aku...Ah, Kau bisa melihat sendiri. Ya aku baik-baik saja !" jawab Mawar ia mencoba menguatkan dirinya agar tak terlihat lemah di hadapan Melati yang kini sudah berubah 180 derajat.
"Aku sudah menikah, Mawar. Ini suami Ku, Arash !" kata Melati memperkenalkan Arash pada Mawar.
"Menikah ? Kau sudah menikah ?" ucap Mawar terkejut.
Melati menganggukkan kepalanya, ia kemudian mengajak Mawar untuk duduk bersama mereka dan berbincang-bincang hingga pada akhirnya Mawar menceritakan kisah hidupnya beberapa tahun belakangan ini setelah Melati pergi dari rumah.
Melati tentu saja terkejut dengan apa yang ia dengar, apalagi kondisi Ibu Tirinya yang kini berada di rumah sakit jiwa karena depresi tak bisa membayar hutang, bahkan rumah yang Sita tempati sudah di jual.
"Aku minta maaf atas nama Ibu Ku, Melati. Tolong maafkan dia !" Mawar mengatakan itu sembari menangis di hadapan Melati.
__ADS_1
...****************...