GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
SADAR


__ADS_3

Suara tangisan Arash dan Arish membuat Mario kian menjadi kalut. Padahal kedua anaknya itu sudah diberi susu namun entah mengapa Arash dan Arish menjadi rewel dan terus menangis.


Mario yang menggendong Arish pun sampai menitihkan air matanya. Ia tahu kedua anaknya pasti membutuhkan ibunya, namun apa lah daya Mentari masih belum juga sadar dari masa komanya.


“Sayang, tidak kah Kau mendengar mereka ? Bayi Kita sangat membutuhkan Mu, mereka butuh dekapan dan kasih sayang Mu.” Bisik Mario ditelinga Mentari.


Arish dan Arash terus menangis, hingga Mario seperti hilang kesabaran. Ia kemudian meletakkan kedua anaknya di samping Mentari agar Mentari bisa mendengar suara tangisan kedua anak mereka.


Tak lama masuk lah Helena dan Jamilah yang tadi keluar sebentar karena ingin mencari makan siang. Mereka menjadi panik saat melihat kedua cucu mereka tengah menangis kencang, sedangkan Mario juga ikut menangis sambil menggenggam tangan Mentari.


“Astaga, Mario !” pekik Helena ia langsung mengambil Arash begitu pula dengan Jamilah ia pun mengambil Arish mereka mencoba menenangkan kedua cucunya tersebut agar berhenti menangis.


“Tidak ada yang mau menjalani hidup seperti Mario, kita tidak bisa menghakimi, sebab Mario membutuhkan kita untuk berada disisinya menyemangatinya dan selalu menjadi sandaran untuknya.” Kata Jamilah, meskipun Mario hanya anak menantunya ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Mario.


“Maaf, Jeng. Aku orangnya terkadang tidak mudah sabar !” lirih Helena.


“Itu manusiawi, Jeng. Tidak ada manusia dan orang tua yang sempurna di dunia ini, tapi kita bisa belajar lebih baik.” Jawab jamilah sambil mengayun-ayunkan Arish di tangannya.


“Iya, benar.” Kata Helena dengan lembut.


Setelah Arash dan Arish berhenti menangis dan tertidur. Helena dan Jamilah mendekati Mario, kali ini tugas mereka adalah harus bisa menjadi sandaran Mario dan tempatnya mengadu.


“Mario…ayo makan dulu, Nak !” kata Helena sambil membuka kotak yang berisi makan siang untuk Mario.


“Aku tidak lapar, Mom !” lirih Mario, jangan kan untuk makan, bahkan Mario seakan kesulitan untuk bernafas, sebab Mentari tak kunjung bangun dari masa komanya.


“Nak Mario, Kamu harus makan, agar tidak sakit. Kalau Kamu sakit, siapa yang akan menjaga Arash dan Arish terutama Mentari !” bujuk Jamilah.


“Apa mentari Mentari marah pada Ku, Mom ?” tanya Mario.


“Sampai-sampai Dia tidak mau bangun !” sambung Mario lagi.


“Tentu saja dia marah, karena suaminya cengeng tidak bisa menjaga anak-anaknya !” jawab Helena entah mengapa rasanya Helena sudah tidak sanggup lagi jika terus berbicara lembut pada Mario. Dan benar saja mode mulut cerewetnya keluar begitu saja.

__ADS_1


“Jeng..” Jamilah mencoba menahan besannya tersebut.


“Tidak apa-apa Jeng. Sepertinya putra Ku ini tidak bisa dinasehati dengan lembut. Dengar Mario, kalau Kau terus-terusan seperti ini, jangan salahkan jika Mentari tidak mau bangun dari masa komanya !” ancam Helena, ia mengatakan itu karena ia sayang pada Mario dan ingin Mario berpikir jika tidak seharusnya Mario terlalu larut dalam kesedihan.


“Mommy, apa yang Mommy katakan !” jawab Mario dengan cepat.


“Mommy hanya mengatakan yang sebenarnya, karena memang benar begitu kan ?” jawab Helena.


“Mom, seharusnya Mommy mendoakan yang baik-baik untuk istri Ku.” Lirih Mario.


“Mentari tidak hanya butuh doa, tapi juga peran penting suaminya dalam menjaga dan mengurus anak-anaknya !” sentak Helena.


Mario terdiam, ia sadar jika ia terlalu fokus pada Mentari dan seolah mengabaikan kedua anaknya. Mario pun tertunduk lesu, lalu mendongakkan wajahnya menatap wajah Mentari yang masih setia dengan tidurnya.


“Aku akan melakukannya Sayang, melakukan permintaan Mu padaku.” Ucap Mario dalam hati, ia mencoba menguatkan diri, dan hatinya dan belajar menerima ujian cinta yang diberikan oleh Tuhan dalam rumah tangganya.


“Bissmillah…”


......................


Mereka merayakan hari ulang tahun Arash dan Arish dirumah sakit, tempat Mentari menginap. Sebab Mentari masih saja belum bangun dari masa komanya.


“Mama…Ma..” ucap Arash dan Arish yang mulai bisa berbicara dan bahkan mereka sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit.


“Iya, Sayang. Ayo cium Mama !” ucap Mario menyuruh kedua cucunya untuk mencium Mentari.


Saat Arash dan Arish mencium Mentari di pipi, tiba-tiba Mentari membuka kedua matanya dengan perlahan. Sontak saja hal itu membuat Suami, mertua dan kedua orang tuanya menjadi terkejut.


“Sayang !”


“Mentari !”


Mentari melihat dimana ia kini tengah berada, seperti orang bingung.

__ADS_1


Tiba-tiba Dokter dan Perawat masuk dan memeriksa keadaan Mentari.


“Alhamdulillah, istri Anda sudah sadar, Tuan Mario. Ini mungkin keajaiban dari yang mahakuasa.” Dokter pun menepuk-nepuk punggung Mario sebelum ia keluar dari kamar Mentari.


“Sayang !” Mario langsung berhambur memeluk Mentari dan menciumi seluruh wajah Mentari dengan penuh kasih sayang.


“Terimakasih, Tuhan, terimakasih !” ia sampai meneteskan air mata bahagianya saat Mentari sudah sadar dari komanya.


“Ha..haus !” lirih Mentari


Dengan cepat Jamilah memberikan Mentari minum dan Mentari pun meminumnya sedikit demi sedikit.


“Ma..mama…” kata Arish dan Arash mereka seolah ingin selalu berada di samping Mentari. Hingga Mentari mengernyit heran melihat dua anak kecil tersebut.


Lalu mentari teringat akan kejadian dimana ia bertengkar dengan Naura dirumah Bunga.


“Hah, perut Ku ? Mana anak Ku ? Anak Kita, Mas ?” Mentari meraba-raba perutnya yang kini sudah datar tidak lagi membuncit.


“Sayang, anak Kita sudah lahir. Mereka anak Kita !” tunjuk Mario pada Arash dan Arish dalam gendongan Abah dan Bapak Mertuanya.


“Hah ? Kenapa mereka besar sekali ?” Mentari terperanjat sebab yang ia tahu bayi yang baru lahir tidak mungkin langsung bisa berjalan dan bicara.


“Mereka manusia atau bukan Mas ? Masa anak Kita sebesar itu ? yang benar saja !” kata Mentari lagi ia rasa tak percaya jika dua anak tersebut adalah anaknya.


“Bagaimana menjelaskannya Aku sendiri juga bingung, sebab Kau sudah melahirkannya satu tahun lalu, Sayang !” terang Mario yang membuat Mentari ambigu.


“Hah ? Apa maksud Mu, Mas ?” tanya Mentari cepat.


“Maksud Mario Kau sudah melahirkan satu tahun lalu !” kata Jamilah mengulangi kata-kata Mario agar Mentari mengerti.


“Aku tidak paham, Umi !”


“Sayang, Kau koma satu tahun, ini sudah tahun 2023 !” pungkas Mario hingga membuat Mentari terkejut.

__ADS_1


“Apa ?!” pekik Mentari hingga membuat semua orang yang mendengarnya menutup telinganya.


...****************...


__ADS_2