
"Dasar teman pengkhinatan !" Maki Safira pada Bela saat ini Bela datang menjenguk Safira dan Cika di lembaga pemasyarakatan alias penjara.
"Siapa yang berkhianat, Fir. Aku sudah katakan jangan bermain-main dengan Mentari, tapi kalian berdua tidak pernah mendengar Ku !" jawab Bela
"Lagian siapa yang percaya cerita Mu ? Suami Mentari seorang Presdir ! Hah... Gadis kempung seperti dia sudah punya suami, seorang presdir pula. Yang benar saja !" ejek Safira karena ia tak percaya dari awal cerita Bela.
"Tapi sekarang Kau percaya kan !" Jawab Bela
Safira berdecak kesal dan marah karena pada akhirnya ia dan Cika harus masuk penjara. Hilang sudah cita-cita menjadi istri Bara dan seorang sarjana sebab ia dan Cika sudah di keluarkan dari kampusnya.
"Kau bilang Kita bersahabat kan ? Kalau begitu, ayo bantu Kami keluar dari sini !" sahut Cika kemudian.
"Iya, keluarkan Kami dari sini Bel, Kau bilang kita bersahabat !" kata Safira pula.
"Mengeluarkan Kalian ?" ucap Bela
"Iya, keluarkan Kami. Kau bilang saja pada suami Mentari kalau Kami hanya main-main saja !" jawab Cika
"Iya, jika Aku sudah keluar dari sini. Aku akan membalas Mentari !" sahut Safira dengan angkuhnya.
"Safira !" Bela terpengarah pada kedua sahabatnya itu, ternyata percuma saja ia bertemu dengan mereka nyatanya mereka masih tak menyadari apa kesalahan yang sudah mereka buat.
__ADS_1
"Aku pikir Kalian sadar akan kesalahan Kalian dan menyesal telah berbuat jahat pada Mentari, tapi ternyata kalian tidak berubah. Aku menyesal berteman dengan kalian !" jawab Bela ia sampai berdiri dari duduknya, ia jadi malas untuk bicara lebih banyak dengan kedua sahabatnya itu.
"Oh, jadi Kau menyesal berteman dengan kami ? Kau mau apa ? Apa setelah ini Kau akan berteman dengan Mentari ?" sentak Safira ia sampai berkacak pinggang.
"Iya, Aku menyesal berteman dengan Kalian. Pertemanan kita cukup sampai disini !" Bela pun pergi dari hadapan Safira dan Cika.
Safira dan Cika hanya bisa berteriak memanggil nama Bela dan mengumpat dirinya setelah mendengar jawaban Bela apalagi Bela pergi meninggalkan mereka berdua.
"Hei.. Bela ! Kau mau kemana ?"
"Dasar teman pengkhianat, Kau !"
"Bela.. Bela...!"
"Cantiknya Bini Ku !" puji Mario setelah rambut Mentari dipotong.
"Kok Aku jadi imut begini, Mas !" Mentari berkaca di cermin melihat penampilan baru rambutnya.
"Iya Yank, tidak hanya wajah Mu yang imut, gunung berapi Mu juga imut !" Mario tercengir hingga Mentari menyikut perutnya.
__ADS_1
"Aduh, sakit Yank !" keluh Mario
"Makanya jangan mesum terus !" sunggut Mentari ia sampai mengerucutkan bibirnya.
"Setelah ini Bumil mau kemana ?" tanya Mario hari ini ia akan menghabiskan waktunya bersama Mentari.
"Makan bakso di dekat perumahan, boleh ?" tanya mentari karena entah mengapa sejak semalam ia ingin makan bakso yang ada di pertigaan dekat kompleks rumah mereka.
"No Sayang ! Itu tidak sehat untuk kacang ijo kita." tolak Mario ia benar-benar memperhatikan asupan makanan istrinya agar calon anaknya tumbuh dengan sehat.
Mentari menunduk lesu sebab keinginannya tak dapat terpenuhi.
Mario yang melihat perubahan sikap istrinya ia menjadi bingung dan mengusap kasar wajahnya. kemudian ia teringat nasehat Mommy nya kalau Ibu Hamil sedang dalam fase ingin makan ini itu, lebih baik dituruti dari pada nanti anaknya ngences.
"Ya, sudah. Nanti kita beli, okey ?" Mario lebih baik mengalah, sekali-sekali makan bakso di luar tak masalah pikirnya dari pada istrinya terus merajuk.
"Hah ? Makasih !" Mentari langsung berhambur memeluk suaminya saking merasa senang.
"Tapi nanti malam karokean ya !" Mario mengedipkan satu matanya.
Mengdengar kata Karokean Mentari hanya bisa menggelengkan kepalanya, meski si Burio tak bisa masuk dalam sarang untuk sementara waktu, Mentari masih bisa melayani suaminya dengan cara yang lain seperti yang dikatakan oleh Mario dan itu hanya Mentari yang tahu.
__ADS_1
Author : Ehh... Kalean pasti tahu kalo dah kawin kan.. 🤣
...****************...