
"Jangan terlalu lelah, okey !" kata Arash dengan lembut ia mengecup kening dan perut Melati, saat ini ia mengantarkan istrinya itu ke kampus.
"Jangan menyusahkan Mommy, ya !" kata Arash mengajak calon anaknya bicara.
"Iya, Daddy !" jawab Melati menirukan suara anak kecil.
"Nanti Harry yang akan menjemput Mu." ucap Arash karena ia harus menemui kliennya sore ini.
"Kau akan pulang terlambat ?" tanya Melati
"Akan ku usahakan pulang tepat waktu !" jawab Arash tersenyum ke arah Melati.
"Baiklah, Aku pergi !" Melati berpamitan pada suaminya dan turun dari mobil kemudian masuk ke dalam lingkungan kampus tempat ia bekerja.
Setelah kepergian mobil Arash, Melati langsung di todong oleh Danu yang sudah hampir satu bulan ini kebingungan dengan kabar dosen pembimbing skripsinya itu.
"Bu Melati ! Ibu apa kabar ? Apa Ibu baik-baik saja ?" tanya Danu
__ADS_1
Melati menghela nafasnya kemudian ia menatap Danu. "Iya kabar Ibu baik !" jawab Melati dengan singkat, mungkin mulai sekarang Melati akan bersikap dingin mulai sekarang dengan Danu, ia tak ingin membuat Arash cemburu dan salah paham.
"Syukurlah, Saya senang mendengarnya ! Oh iya skripsi Saya sudah ditahap akhir, bisakah Ibu melihatnya ?" kata Danu
Melati menoleh ke arah Danu "Temui Saya di jam kosong, sebab mulai sekarang bimbingan skripsi dengan Saya hanya ada pada saat Saya tidak ada jadwal mengajar !" kata Melati kemudian pergi meninggalkan Danu yang diam termenung.
"Kenapa ? Kenapa dia tiba-tiba berubah ?" kata Danu seorang diri.
"Dia tidak berubah hanya saja dia mungkin risih dengan Mu yang selalu mengejar-ngejarnya !" kata dokter Tomi, dia baru saja tiba di kampus dan melihat Danu dan Melati barusan.
"Eh..dokter !" Danu terkejut karena Dokter Tomi tiba-tiba ada di sampingnya.
"Aku hanya khawatir dengannya !" jawab Danu dengan santainya.
"Dia tidak perlu kau khawatirkan dan kau cemaskan, sebab dia bersama pria yang tepat. Khawatirkan saja nasib Mu dan skripsi Mu !" kata Tomi kemudian ia pergi meninggalkan Danu yang tengah menggerutu dengan bibir yang mengerucut.
......................
__ADS_1
Lain halnya dengan Arash saat ini Harry menjadi sasaran kemarahannya karena agensi modeling yang bekerja sama dengannya tiba-tiba memutuskan kerja sama secara sepihak.
"Aku tidak mau menahu, Kita harus membujuk tuan Jovan agar mau bekerja sama kembali !" kata Arash berdecak kesal, baru saja ia akan meluncurkan produk terbaru dari perusahaannya namun sepertinya tak sesuai dengan yang ia harapkan.
"Sepertinya sangat sulit, Tuan ! Sebab mereka sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan lain !" kata Harry apa adanya.
"Aku tidak tahu menahu ! Paman tahu benar bukan, mereka memiliki para model papan atas yang bisa mendongkrak penjualan produk perusahaan ini secepat kilat !" kata Arash penuh keyakinan.
"Kita bisa menggunakan seorang model yang lain, Tuan !" bujuk Harry
"Aku tidak mau yang lain ! Persiapkan pertemuan Ku dengan Tuan Jovan, Aku ingin bicara langsung dengannya !" titah Arash pada Harry, mau tidak mau Harry terpaksa menuruti keinginan Arash dan mengatur jadwal bertemu dengan Tuan Jovan.
Selepas kepergian Harry, Arash memijit batang hidungnya tiba-tiba kepalanya seperti mau pecah karena masalah di kantor hari ini.
"Kenapa Tuan Jovan memutuskan kerja sama ? Bukan kah Aku sudah menyetujui pembagian keuntungan yang dia mau ? Lalu kenapa dia berubah pikiran ?" Lama Arash merenungkan hal tersebut sampai pada akhirnya ia bingung sendiri dan berkali-kali berdecak kesal.
Berbeda di perusahaan Jovan, setelah Danisa mendonorkan livernya, kini Danisa yang memimpin perusahaan ayahnya itu. Danisa tengah tertawa bahagia karena ia pikir sebentar lagi pasti Arash akan menemui dirinya. Sebab pemutusan kerja sama secara sepihak dengan SS Company merupakan ide dan ulah Danisa, agar Danisa bisa bertemu dengan Arash.
__ADS_1
"Sebentar lagi Kau pasti akan menemui Ku !"
...****************...