
“Keluar Kau dari rumah Ku !” ucap Jovan pada Naura ia mengusir Naura dari rumahnya begitu Naura mendapati dirinya tengah bersama seorang wanita.
“Jovan, Kau keterlaluan ! Aku yang sedang mengandung anak Mu, Kau tega berselingkuh dengan wanita lain !” pekik Naura ia tak percaya Jovan pria yang sangat ia percayai ternyata begitu berengsek setelah ia membuat Naura percaya padanya, Jovan kini mencampakkan dirinya begitu saja.
“Anak kata Mu !” Jovan tersenyum mengejek. Pasalnya Jovan tak yakin bayi yang ada didalam kadungan Naura adalah anaknya.
“Bisa saja itu anak, Albert !”
Duar
Hati Naura seperti ingin meledak dan lepas dari tempatnya. Bisa-bisanya Jovan meragukan anak yang ada di dalam perutnya. Padahal kemarin-kemarin Jovan sangat percaya padanya kalau anak yang ia kandung adalah darah dagingnya.
“Kenapa kini Kau meragukan anak yang Ku kandung ! Kau tega Jovan !” pekik Naura dengan berlinang air mata.
Tiba-tiba seorang wanita cantik menghampiri Naura dan Jovan dimana wanita itu langsung merangkul mesra lengan Jovan di hadapan Naura.
“Mana mungkin calon suami Ku percaya anak yang Kau kandung adalah anaknya. Kau wanita yang sudah menikah tapi berselingkuh dengan pria lain, apa wanita seperti Mu dapat dipercaya ?” kata wanita itu hingga membuat Naura sakit hati mendengarnya.
“Kau..kau siapa ?” tanya Naura cepat.
“Perkenalkan, Aku Vania tunangan dari pria yang Kau paksakan menjadi ayah dari calon anak Mu !” ucap Vania menekan kan kata-katanya.
__ADS_1
“Apa ? Tunangan ?”
“Iya, Aku calon istrinya !” Vania menunjukkan cincin tunangannya bersama Albert pada Naura agar Naura sadar diri akan siapa Vania dan siapa Naura.
“Hah ? Jovan, katakan kalau itu tidak benar. Kau bercanda kan ?” tanya Naura cepat.
“Aku tidak bercanda, Kami akan segera menikah !” terang Jovan yang membuat Naura terasa sesak mendengarnya.
“Aku memaklumi kalau calon suami Ku memiliki masa lalu, jadi sebagai masa depan dari Jovan Aku harap Kau tidak perlu mencari Jovan lagi !” tunjuk Vania pada Naura.
“Keluar Kau dari rumah ini sekarang juga !” ucap Vania dengan lantang bahkan Vania memanggil satpam untuk menyeret Naura keluar dari rumah Jovan.
Jovan dan Vania menganggap Naura barusan seperti angina lalu, mereka tidak memperdulikan teriakan Naura yang meronta.
“Kurang ajar kalian !” Maki Naura pada dua orang satpam yang mengusir Naura sampai ke depan gerbang rumah Jovan.
Naura kesal dan kecewa dengan Jovan pada akhirnya dirinya hanya sebuah mainan Jovan yang kini sudah tak diperlukan lagi dan dicampakkan seperti sampah.
Naura kemudian berjalan meninggalkan rumah Jovan dengan menyusuri jalan berharap ada mobil taxsi yang lewat. Tak lama ia berjalan kaki, tiba-tiba ada sebuah mobil menghampirinya dan itu membuat Naura menoleh, tentu saja Naura tahu mobil siapa itu.
“Melisa ?” Naura tersenyum senang saat ia melihat Melisa apalagi Melisa membukakan kaca mobilnya dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
“Masuklah !” ajak Melisa.
Tentu saja Naura tidak menolak dengan senang hati ia menumpang dimobil Melisa.
“Kemana mobil Mu ?” tanya Melisa sambil menyetir mobilnya.
“Ah…Aku pergi dengan taksi tadi.” Jawab Naura kemudian.
“Oh, begitu rupanya !” sahut Melisa tersenyum.
“Apa Kau tidak melakukan pemotretan ?” tanya Naura basa basi.
“Aku sedang ingin libur dan menikmati hari Ku ! Apa Kau mau ikut dengan Ku ?” tawar Melisa menyunggingkan senyuman penuh arti di dalamnya.
Naura tampak berpikir, mungkin lebih baik ia ikut dengan Melisa setidaknya ia bisa menghilangkan sedikit rasa ketakutan dan ke kecewaan dihatinya.
“Baiklah Aku ikut !” jawab Naura antusias.
“Oke, kita pergi ke suatu tempat yang belum pernah Kau lihat dan rasakan !” kata Melisa dengan entengnya.
...****************...
__ADS_1