
Sorry Gaes baru update, satu bab dulu ya ngobatin kangen udah 3 hari absen 🤣🥰
"Jadi Kau curiga kalau Aku selingkuh dengan mahasiswa Ku ?" Melati menatap tajam Arash , sedangkan Arash kalut dengan perasaannya dan juga asumsinya sendiri yang telah berbicara tanpa berpikir dahulu.
Melati tentu saja merasa geram dan geregetan, ia lalu berjalan ke arah ranjang dengan perasaan kesal.
"Malam ini Kau tidur di luar !" Melati melemparkan bantal tidur dan dengan cepat Arash menangkapnya.
Wajah Arash pucat pasi seperti orang yang asam lambungnya tengah naik. Siapa yang tidak kesal dan marah kalau suami sendiri mencurigai Melati yang bukan-bukan.
"Bisa-bisanya Kau mencurigai Aku selingkuh dengan mahasiswa Ku sendiri !" pekik Melati
"Sayang bukan begitu maksud Ku !" jawab Arash cepat.
"Apa ?!" potong Melati, ini bukan hanya soal kekesalannya pada Arash melainkan mungkin karena hormon Ibu hamil yang moodnya tiba-tiba sering berubah-ubah dan mudah tersinggung.
Arash mengusap kasar wajahnya, bingung harus bicara seperti apa pada wanita hamil di hadapannya itu, wanita yang jelas-jelas istri sendiri.
Mentari dan Mario yang baru saja pulang dari Alaska mereka terkejut mendengar suara pertengkaran anak dan menantunya di dalam kamar yang ternyata pintu kamar itu tidak tertutup.
"Waduh...sepertinya mereka tengah perang dunia !" kata Mentari
__ADS_1
"Penyambutan yang luar biasa, itulah putra Kita." kata Mario dengan pelan.
"Keluar ! Aku ingin tidur sendiri !" usir Melati pada Arash yang mau tidak mau Arash menuruti keinginan istrinya itu dan tidur di kamar tamu.
Begitu Arash keluar dari kamar, Arash terkejut melihat kedua orang tuanya tiba-tiba sudah ada dirumah.
"Papa Mama !" Arash menelan kasar air ludahnya melihat kedua orang tuanya ia tahu pasti mereka sudah mendengar pertengkaran diantara dirinya dan Melati.
"Dasar anak nakal !" Mentari menarik telinga Arash hingga memerah sampai-sampai Arash meringis kesakitan.
"Aduh Ma, sakit !"
"Minta maaf pada istri Mu, bujuk dia agar mau memaafkan Mu, kecuali Kau mau tidur di luar setiap malam !" kata Mentari, ia jadi emosi pada putranya.
"Tentu saja Ma, Aku akan minta maaf pada istri Ku !" Arash mengusap telinganya yang terasa pedih dan memerah akibat dijewer oleh Mamanya.
"Yank, jangan marah-marah nanti kena darah tinggi !" kata Mario menenangkan istrinya agar putranya tak terus jadi amukan istrinya.
"Oh jadi Mas mau mendoakan Ku kena penyakit darah tinggi, iya ?" kali ini Mario yang jadi kena sasaran.
"Bukan begitu, Yank !" kata Mario ia jadi mendadak kena marah oleh istrinya hingga Arash yang mendengarnya hanya bisa menahan tawanya.
__ADS_1
"Apa ? Apa Mas mau bilang Aku nanti terkena penyakit yang lain ? Kolesterol ? Atau stroke ?" oceh Mentari hingga membuat Mario membelalakkan matanya.
"Lah..."
"Malam ini Mas tidur di luar !" kata Mentari hingga membuat Mario terkesiap. Dan Mentari pergi menuju kamarnya meninggalkan suami dan anaknya.
"Hah ?!"
Arash terkekeh setelah kepergian Mamanya namun Mario kini menatap tajam Arash karena menganggap ini semua adalah gara-gara Arash.
"Tenang Pa, Aku akan menjadi teman tidur Mu malam ini !" kata Arash dengan santainya.
"Ini semua gara-gara Mu, sudah tahu Mama Mu begitu sayang pada Melati. Kau malah bikin ulah !" kata Mario berdecak kesal.
"Wanita memang begitu Pa, sulit untuk ditebak tapi mereka ingin selalu dimengerti !" jawab Arash sok bijak.
"Sudah tau tapi Kau malah berulah, dasar !" Mario meninggalkan Arash menuju kamarnya untuk membujuk Mentari agar dirinya diperbolehkan tidur bersama.
"Pa, mau kemana ?" Arash memanggil Mario namun tak dihiraukan oleh Papanya itu. Tinggal lah Arash yang kini dilema menatap daun pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat mungkin juga sudah di kunci dari dalam oleh istri tercintanya.
...****************...
__ADS_1