
" Hu..hu..huh..Kenapa Aku jadi cengeng begini !" Mentari menangis di dalam kamar mandi entah sudah berapa lembar tisu yang ia habiskan bahkan bagitu banyak tisu berserakan dilantai karenanya.
"Kenapa tidak enak sekali di tuduh seperti itu ! Ku pikir jatuh cinta itu indah tapi kenapa harus ada rasa sakitnya juga, tidak cukup kah sakit di malam pertama ? Huuuaaa..." Mentari menangis sambil mengomel.
"hu.. Hu.. Hu... Aku pingin pulang saja ke Desa kalau tahu begini !"
Setelah menumpahkan air matanya menghabiskan tisu kamar mandi, Mentari kemudian keluar dari kamar mandi dan mengambil kopernya ia memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.
Mario yang sudah meredam amarah dan emosinya serta berdamai dengan dirinya sendiri. Ia masuk ke dalam kamar menyusul Mentari. Begitu ia melihat Mentari tengah mengemasi pakaiannya ke dalam koper Mario menjadi panik.
"Kau mau kemana ?" Mario mendekat ke arah Mentari.
"Pulang !" jawab Mentari ketus tanpa melihat Mario.
"Kenapa mesti pulang, ini rumah Mu juga Ayang !" ucap Mario dengan lembut.
__ADS_1
"Ayang-ayang kepala Mu !" jawab Mentari semakin ketus dan sewot
"Buat apa Aku disini ! Hidup dengan suami yang tak percaya dengan istri sendiri terlebih lagi Aku sudah lelah untuk belajar mencintai Mu, yang nyatanya Mas tidak pernah mencintai Ku !" ucap Mentari lagi dengan nafas yang naik turun karena kesal, marah, dan kecewa.
"Siapa bilang Aku tidak mencintai Mu ?" sarkas Mario ia tak terima dianggap Mentari yang tak mencintai dirinya.
"Aku ! Aku yang bilang Mas ! Selama ini Mas hanya menginginkan tubuh Ku kan ? Aku rela disentuh oleh Mu karena Aku mencintai Mu, Mas. Tapi mendengar tuduhan Mu barusan, rasanya Aku tidak sanggup lagi kalau terus menerus menjadi istri Mu !"
"Mentari !" ucap Mario dengan suara yang meninggi.
Cekcok mulut yang terjadi diantara Mario dan Mentari ternyata mengundang perhatian kepala pelayan. Ia mendengar pertikaian diantara sepasang pengantin baru itu sejak berada di ruang kerja.
"Kemarin men.de.sah dan menganggap dunia hanya milik mereka berdua. Lalu kenapa sekarang jadi ribut ?" gumam kepala pelayan yang terus memantau Mario dan Mentari ia takut jika terjadi hal-hal yang tak di inginkan diantara mereka berdua untuk itu ia akan siap siaga.
"Katakan jika Kau mencintai Ku Mas, Ayo ?!" tantang Mentari ia ingin mendengar dari mulut suaminya itu kalau Mario mencintainya, sebab jika Mario benar tidak mencintainya ia tak perlu terus menerus berusaha untuk mengambil hati Mario karena percuma saja, cinta tak dapat di paksakan.
__ADS_1
"Ak.. Aku..." lidah Mario seolah merasa kelu untuk mengucapkan kata jika ia mencintai Mentari entah mengapa ia sulit sekali ingin mengatakan itu dan mengungkapkan perasaannya.
Mentari menunggu itu dengan perasaan penuh harap. Namun ternyata harapannya tak sesuai dengan ekspetasinya. Mario tak bisa mengucapkan itu padanya.
"Mentari.. Ayo kita istirahat, ini sudah malam." bujuk Mario dengan lembut.
Mentari menjadi kecewa rasanya ia ingin menenggelamkan Mario ke dasar lautan saking kesal dan kecewanya pada suaminya itu.
Mentari menjadi benci pada Mario, ia kemudian pergi meninggalkan Mario di ruanh walk in closed seorang diri dan lebih memilih naik ke atas tempat tidur dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Mario hanya bisa mengusap kasar wajahnya, ia merutuki bibirnya sendiri karena tak mampu mengucapkan kata cinta pada Mentari.
"Bodoh ! Bodoh ! Kenapa sulit sekali mengucapkannya ? Aku mencintainya, iya Aku mencintai Mentari !"
...****************...
__ADS_1