
"Jadi ini yang namanya Bara !" Mario melihat foto-foto yang dikirimkan oleh anak buahnya dimana Bara datang menemui istrinya.
Mario membandingkan dirinya dengan Bara, ia merasa kalau Bara tidak cocok dengan istrinya.
"Aku jauh lebih tampan !" ucap Mario dengan sombongnya.
"Awasi terus istri Ku !" balas Mario pada pesan anak buah yang menjaga istrinya.
Lain halnya dengan Bara saat ini merasa kecewa dengan penolakan Mentari terhadapnya, entah mengapa semakin Mentari menolak dan menjauhinya ia semakin gencar mendekati Mentari.
"Bara, katanya Kau membuka caffe ya ? Apa Aku boleh datang ?" ucap Safira ia berharap kalau Bara mau mengajaknya.
"Iya, Kau boleh datang !" jawab Bara singkat
"Serius ? baiklah nanti Aku akan datang." jawab Safira antusias ia begitu senang kala Bara memperbolehkannya datang ke pembukaan caffenya.
......................
"Cie..yang di taksir presiden BEM." Bunga meledek pada Mentari dan membuat Mentari semakin kesal.
"Dia naksir pada wanita yang tidak tepat !" celetuk Mentari
__ADS_1
Bunga hanya tertawa menanggapinya.
"Apa dia tidak bisa membedakan mana wanita perawan atau bukan ?" gerutu Mentari
"Dia mana tahu, sebab dia belum mencobanya !" jawab Bunga asal dan Mentari hanya bisa menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Rumornya si Bara itu pria yang tak pernah tersentuh dengan wanita, dan Kau beruntung bisa di taksir olehnya." terang Bunga
"Apa yang mau dia harapkan dengan wanita yang sudah menikah ?" Mentari menghela nafasnya semakin hari Bara sepertinya semakin mendekatinya mungkin memang benar Bara menyukainya hanya saja Mentari yang tak mau dengannya sebab Mentari sudah memiliki suami dan sangat mencintai Mario.
"Mungkin dia mengharapkan janda Mu !" Bunga langsung menutup bibirnya dan Mentari dengan cepat memukul kepala Bunga dengan buku di tangannya.
Bugh
"Sembarangan Kau kalau bicara, Bung. Amit-amit kalau Aku sampai jadi Janda !"
......................
Setelah pulang kuliah Mentari pergi ke kantor suaminya seperti janjinya pada Mario tadi pagi. Begitu ia tiba di ruang kerja suaminya, Mario langsung menyambut Mentari dengan sebuah pelukan.
"Kangen, Yank !"
__ADS_1
"Kengen terus, baru saja setengah hari di tinggal !" Mentari mengerucutkan bibirnya.
Mario terkekeh ia kemudian mendudukkan Mentari di sofa. "Tunggu sebentar, Mas kerjakan ini sedikit lagi, lalu kita pergi makan siang, oke !" Mario mengecup pipi Mentari sekilas dan ia pun kembali ke meja kerjanya.
Tak lama pekerjaan Mario selesai ia pun mengajak Mentari pergi makan siang di restoran favorit Mario. Setelah mereka selesai makan Mario baru sadar jika semua kartu saktinya ditahan oleh Mentari dan di dalam dompetnya hanya ada uang lima ratus ribu, tidak cukup untuk membayar tagihan makanan yang ia dan Mentari makan karena restoran tersebut restoran bintang lima yang terkenal cukup mahal.
"Ayang..." Mario menatap Mentari dengan sorot mata yang ambigu bagi Mentari.
"Apa Mas ?" Mentari masih meminum jusnya.
"Yank, duit Mas ganteng Mu ini kurang. Bayarin ya.." ucap Mario pelan, hingga membuat Mentari hampir menyemburkan minumnya.
"Kalau Mas bayar tagihannya kurang, maka Mas kali ini akan beralih profesi sebagai tukang cuci piring !" ucap Mario lagi
Setelah itu Mentari terkekeh melihat ekspresi suaminya, Mentari kemudian sadar jika ia sebenarnya sudah keterlaluan menahan semua uang Mario, padahal niat Mentari baik tidak ingin Mario terus menerus mempertahankan sifat sombongnya hanya karena Mario punya banyak uang.
Mentari pun mengeluarkan dompetnya dan memberikan semua kartu sakti milik suaminya itu.
"Ambil lah, tapi Mas harus janji untuk menggunakan uang seperlunya saja !" ucap Mentari memberikan nasehat pada suaminya.
"Siap Bos ! Tapi bonus dua rondenya masih berlaku kan ?"
__ADS_1
"Astaga." Mentari menepuk jidadnya.
...****************...