
"Ini semua gara-gara Kau yang sok jual mahal atas pemberian kedua orang tua Ku ! Kenapa Kau tidak terima saja tawaran kedua orang tua Ku untuk pindah sekolah !" sentak Arash ia semakin muak melihat Melati semakin hari ia bahkan jadi tak betah tinggal satu atap dengan gadis yang ia benci itu.
"Harusnya Kau tahu batasan Mu, siapa diri Mu di rumah ini !" Arash menekankan kata-katanya yang membuat Melati merasa teriris sembilu mendengarnya.
"Aku tidak mau Kau beralasan lagi, besok atau lusa Kau akan pindah ke sekolah yang sama dengan Kami !" Arash menatap tajam Melati hingga Melati hanya bisa terdiam tak bersuara sama sekali.
Selepas kepergian Arash dari kamar Melati, Melati langsung mendudukkan dirinya dibibir tempat tidurnya. Ia memikirkan perkataan Arash barusan. Seharusnya memang dirinya tak ada di tengah-tengah keluarga Mario. Ia menjadi menyesal dengan keputusannya sudah memilih tawaran dari Mario, kalau tahu begini jadinya.
................
Malam harinya semua tampak menikmati makan malam dengan suka cita tampak jelas bahwa kehidupan keluarga kecil Mario dan Mentari begitu bahagia dan harmonis.
Melati melihat Mario dan Mentari begitu asyik bercengkrama dengan Arash dan Arish. Seolah sadar dengan jadi dirinya, Melati seolah menjadi minder karena benar-benar jika di bandingkan dengan dirinya keluarga Mario dan anak-anaknya bak langit dan bumi.
"Pa, Ma. Melati bilang padaku kalau dia berubah pikiran, dia menerima tawaran Papa dan Mama untuk pindah ke sekolah Internasional !" kata Arash dengan mengada-ada yang membuat Melati langsung menoleh ke arah Arish.
"Oh iya ?" sahut Mentari
"Benar begitu, Melati ?" tanya Mario pada Melati.
Arash langsung menatap tajam Melati agar Melati mengatakan persetujuannya. Kurang apa dirinya semalam bicara pada Melati, agar pindah ke sekolah supaya Arish tidak terus merengek pada Mario untuk pindah ke sekolah Melati.
__ADS_1
Muka Arish yang awalnya begitu lesu bin males saat sarapan mendadak menjadi bercahaya mendengar Melati akan pindah ke sekolah yang sama dengannya.
Melati terdiam, ia begitu kalut dengan apa yang harus ia jawab. Menjawab Iya, tidak mungkin tapi jika ia menjawab Tidak pun sangat tidak mungkin.
Arash yang melihat keraguan di mata Melati pun, ia langsung menginjak kaki Melati dengan sepatunya hingga Melati merasakan sakit di kakinya.
"Melati..? ucap Mentari pelan.
"Ah..i..iya Bu, Aku akan pindah sekolah !" kata Melati cepat tanpa pikir panjang, lalu barulah Arash melepaskan injakan kakinya di kaki Melati.
"Baiklah kalau begitu, Kami akan mengurus perpindahan sekolah Mu. Tidak perlu menunggu besok atau lusa tapi hari ini Kau akan mulai bisa sekolah di tempat yang sama seperti Arash dan Arish." jawab Mario
"Tenang saja, Melati. Kau akan begitu nyaman dan betah di sekolah Kami !" kata Arish tersenyum ke arah Melati. Senyuman yang menyimpan makna di dalamnya.
Melihat senyuman di wajah Arash membuat Melati menjadi bergidik ngeri pasalnya Arash tak pernah ramah padanya. Dan ia hanya bisa membalasnya dengan senyuman yang dipaksakan pada Arash.
"Kalau begitu Melati akan berangkat bersama Mama, karena Mama harus membawa Melati terlebih dulu ke toko pakaian sekolah supaya Melati memakai seragam yang sama." kata Mentari begitu antusias.
"Bukannya seragam sekolah di dapat dari sekolah ?" ucap Melati dengan polosnya.
"Dasar kampungan !" kata Arash dalam hati.
__ADS_1
"Tidak Melati, seragam di sekolah Kami berbeda. Ada toko khusus untuk seragam sekolah Kami dan yang membuat seragam itu adalah seorang designer bukan tukang jahit biasa !" kata Arash menjelaskan
"Seragam sekolah saja harus pakai jasa designer harganya pasti mahal !" jawab Melati lagi.
"Heum...100 juta !" ucap Arash pelan dan membuat Melati terperanjat kaget.
"What ?!"
"Se..seratus juta untuk seragam sekolah ! Lalu bagaimana dengan fasilitas lain buku sekolah dan yang lainnya ?" Melati mengedip-ngedipkan matanya saking terkejutnya.
"Tenang saja, Papa Ku kaya dan banyak duit semua bisa di atasi oleh Papa Mario Scherzinger !" kata Arish dengan bangganya hingga membuat Mario tebar pesona karena dipuji oleh anaknya.
"Terus saja menyombongkan diri kalian berdua..atau kalian berdua akan habis !" kata Mentari dengan suara beratnya hingga membuat Mario dan Arish terdiam dan menggigit bibir mereka berdua.
Sedangkan Melati hanya bisa menelan air liurnya mendengar ancaman dari Mentari. Ternyata Melati baru menyadari kalau orang-orang yang ditinggal dirumah itu hanya takut dengan Mentari.
Sedangkan Arash ia begitu tenang menikmati sarapannya tak memperdulikan apa yang terjadi.
...****************...
Maaf ya jarang update insyaallah rajin update 🥰
__ADS_1