
“Matteo, kenapa Kau kemari ?” David terkejut saat melihat Matteo tiba-tiba datang ke rumahnya dimana ia kini baru selesai melakukan gym.
“Memangnya kenapa ? Apa Aku tidak boleh datang ke rumah Mu ?” jawab Matteo ketus, ia datang menemui David memang tanpa memberi tahu pada David.
“Bukan begitu !” ucap David dengan lembut, David hanya tak ingin Matteo bertemu dengan Melisa. Sebab Melisa tidak menyukai Matteo karena ia selalu pergi dengan Matteo dengan alasan urusan pekerjaan.
“Apa Kau takut dengan istri Mu ?” Matteo menebak dengan menyunggingkan senyuman di bibirnya.
“Aku merindukan Mu, David.” Kata Matteo lagi, Ia bahkan membelai dada bidang David yang masih dipenuhi keringat selesai olah raga itu.
David memejamkan kedua matanya, apalagi tangan Matteo bergerliya dipusakanya.
“I Miss You.” Bisik Matteo yang kemudian Matteo mencium bibir David hingga pada akhirnya ciuman itu menuntut tubuh mereka masuk ke dalam kamar.
Bik Minah yang merupakan pembantu di rumah tersebut tak sengaja melihat majikan dan temannya melakukan hal yang tak senonoh tersebut.
Bik Minah sampai syok, bahkan degup jantungnya pun berdetak tak karuan setelah menyaksikan apa yang ia lihat barusan.
“Astaugfirullah…Apa kurangnya Nyonya Melisa, sampai-sampai Tuan memiliki kelainan seperti itu ? Ya ampun, amit-amit tujuh keturunan !” ucap Bik Minah seorang diri.
__ADS_1
“Apa yang amit-amit, Bik ?!” ucap Melisa yang baru saja pulang dari pemotretan, ia memutuskan pulang lebih awal karena tiba-tiba tubuhnya merasa tak enak badan.
“Ah…Nyonya, sudah pulang ?” tanya Bik Minah gugup, ia bingung harus mengatakannya atau tidak pada majikannya itu, kalau suaminya tengah bersama seorang pria masuk ke dalam kamar tamu dengan saling berciuman.
“Iya Bik, Aku tidak enak badan, sepertinya masuk angina.” Lirih Melisa.
“Kalau begitu, biar Bibik kerok saja, bagaimana ?” tawar Bik Minah
“Tapi badan Ku nanti jadi merah-merah Bik.” Keluh Melisa. “Ambilkan saja obat untuk Ku Bik, bawa ke kamar Ku !” ucap Melisa lagi.
Bik Minah pun mengangguk setuju, sedangkan Melisa meninggalkan Bik Minah dengan masuk ke dalam kamarnya di lantai atas.
Satu jam kemudian, Matteo keluar dari kamar tamu begitu pula dengan David, mereka baru saja selesai melakukan apa yang tidak seharusnya mereka lakukan.
“Pulang lah, besok kita pergi ke pantai.” Ucap David dengan lembut.
“Benarkah ?” jawab Matteo antusias.
“Hem..” David menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu Aku pulang dulu.” Matteo mengecup sekilas pipi David sebelum ia pergi meninggalkan David.
Bik Minah yang sedari tadi mengintip majikannya itu keluar dari kamar tamu apalagi menyaksikan sendiri bagaimana manisnya Matteo pada majikannya sampai bergedik ngeri melihatnya.
Namun pada saat Bik Minah membalikkan tubuhnya, ia tak sengaja menyenggol sesuatu yang menempel di dinding hingga pajangan itu jatuh dan pecah dan mengalihkan perhatian David.
“Apa apa Bik ?” ucap David yang melihat Bik Minah tengah memungut pecahan pajangan tersebut.
Bik Minah langsung terkejut dengan kehadiran majikannya itu.
“Hah…Tu..tuan.” ucap Bik Minah terbat-bata.
David kemudian melihat gelagat Bik Minah yang aneh, lalu ia teringat dengan Matteo mungkin kah Bik Minah melihat apa yang ia lakukan dengan Matteo barusan.
“Bik Minah, jangan bilang kau melihat…” ucap David menekankan kata-katanya dan menatap tajam, hingga Bik Minah menjadi ketakutan.
“Saya tidak melihat apa pun, Tuan !” jawab Bik Minah cepat, ia lebih baik tutup mulut karena ia orang kecil dan hanya seorang pembantu yang tidak bisa melawan.
“Bagus, tutup mulut Mu Bik, kalau Kau masih ingin bekerja dengan Ku !”
__ADS_1
...****************...