
Mentari masih tidak percaya kalau ia sudah tidur selama satu tahun. Bahkan ia pun tak sadar sama sekali jika telah melahirkan bayinya.
“Putri tidur saja begitu dicium seorang pangeran langsung bangun, Ndok. Tapi koe wes dicium suami Mu tiap hari ndak bangun-bangun.” Ucap Jamilah mengajak putrinya bercanda.
“Aku masih tidak percaya, Umi.” Mentari menggelengkan kepalanya.
“Suami Mu sampai seperti orang gila karena istrinya tidak bangun-bangun !” Helena ikut menimpali.
“Iya, Mas Mario jadi kurus !” lirih Mentari yang melihat perubahan fisik Mario, sebab selama Mentari koma Mario berubah drastis ia selalu telat makan bahkan tidak berselera makan, setiap harinya ia fokus mengurus Arash dan Aris serta pekerjaan dikantor setelah bekerja ia akan menginap di rumah sakit menemani Mentari.
Mentari yang melihat Mario tengah menidurkan Arash dalam gendongannya, dirinya menjadi ikut bersalah telah menelantarkan anak dan suaminya.
“Apa Aku berdosa, Umi ?” tanya Mentari pelan, sedangkan Jamilah hanya bisa terdiam.
“Kenapa berdosa ? Kau dalam keadaan koma karena kehendak yang maha kuasa. Mungkin Tuhan menguji rumah tangga kalian seperti ini, menguji Mario seberapa besar tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan Ayah untuk anak-anak kalian.” Sahut Sarif, Abah mentari.
Mentari pun diam ia hanya bisa menerima ucapan Abahnya, yang barang kali benar apa yang dikatakan oleh Abahnya itu jika cinta dan kesetiaan serta tanggung jawab suaminya tengah diuji oleh Tuhan.
“Beristirahat lah, Mentari. Kami akan pulang, besok kami akan kembali lagi !” kata Helena
“Apa besok Aku boleh pulang, Ibu Mertua ?” tanya Mentari.
“Kalau hasil observasinya bagus, mungkin besok sudah diperbolehkan pulang dengan Dokter.” Jawab Helena tersenyum senang.
__ADS_1
“Semoga saja, Aku tidak betah disini !” keluh Mentari, sebab ia memang tidak suka berada dirumah sakit.
Tak lama kedua orang tua dan mertua Mentari pamit pulang ke rumah. Dan tinggal lah Mario dan Mentari di kamar itu. Arash dan Arish dibawa pulang oleh Kakek dan Neneknya, karena hari sudah malam.
“Mas…” panggil Mentari saat Mario tengah mengunci pintu.
“Hem…” Mario mendekat ke arah Mentari dan naik ke atas ranjang istrinya itu.
Mentari menatap wajah Mario dan menangkup wajah Mario. “Wajah Mu menjadi tirus, Mas.” Kata Mentari, matanya sampai berkaca-kaca mengatakan hal itu. Siapa yang tidak sedih melihat orang yang kita cintai berubah karena memikirkan kita.
“Tapi Aku masih tampan, kan ?” Mario mengedipkan satu matanya, ia masih bisa bercanda padahal dalam hatinya ia ingin sekali berteriak kencang karena bahagia, istri tercintanya telah sadar dan kembali ke dalam pelukannya.
“Maaf kan Aku.” Lirih Mentari yang kemudian bibirnya ditutup oleh Mario dengan jari tangannya.
“Ini bukan salah Mu, semua terjadi karena takdir yang maha kuasa. Aku begitu bersyukur karena Tuhan mengabulkan doa Ku, Kau sudah kembali pada Ku, Sayang. Itu sudah lebih dari cukup untuk Ku !” Mario langsung memeluk Mentari.
“Terimakasih Tuhan, terimakasih Kau telah mengembalikan istri Ku pada Ku !” lirih Mario meneteskan air mata bahagianya.
Kedua insan tersebut kini larut dalam tangis bahagia mereka. Tangis yang menyampaikan rasa rindu, cinta yang menjadi satu. Mereka terpisahkan karena sebuah kehendak yang maha kuasa, cinta dan kesetian Mario di uji saat Mentari terbaring tak sadarkan diri selama satu tahun lamanya.
“Jangan tinggal kan Aku, si gadis desa Ku !” Mario menatap Mentari dengan lekat.
Mentari menganggukkan kepalanya ia pun tak ingin berpisah taupun pergi dari sisi Mario. Pernikahan mereka yang awalnya tak berlandaskan cinta, siapa sangka Tuhan membalikkan hati kedua insan tersebut menjadi pasangan suami istri yang saling mencintai dan cinta mereka begitu besar bagaikan sampai ke sanubari.
__ADS_1
“I love you, Cahaya Mentari, gadis desa Ku !”
“I love you to, Mas Mario.”
Hingga pada akhirnya mereka berciuman menyalurkan rasa cinta dan kerinduan yang teruji selama satu tahun ini.
Cup
Genggamlah tangan Ku bersama Ku
Kau kan menentukan arah
Bersama diri Ku yang kan selalu
Menjaga diri Mu
Yakin kan hati Mu temani Ku
Di setiap langkah-langkah Ku
Ku disini di samping Mu
Ku kan selalu ada untuk Mu
__ADS_1
...****************...