
Arash keluar dari mobil bersama Harry memasuki gedung pencakar langit, perusahaan SS Company. Semua karyawan dan staff menunduk hormat pada Arash.
"Apa Papa tidak pernah mengganti interior perusahaan ini ?" kata Arash pada Harry saat mereka tengah berada di dalam lift menuju lantai yang terdapat ruang kerja miliknya.
"Sudah diganti, Tuan Muda. Hanya saja Tuan Mario lebih menyukai desain seperti itu, paling beliau cuma mengganti warnanya setiap lima tahun sekali !" kata Harry apa adanya, sebab SS Company berdiri sejak zaman kakek buyutnya Arish.
"Jadi Papa ingin perusahaan ini tetap seperti peninggalan Kakek buyut ?" tebak Arash
"Bisa dikatakan begitu, tapi Tuan Mario sudah berpesan pada Saya. Kalau Tuan Muda boleh mengganti apapun di perusahaan ini mulai sekarang, sebab kepemimpinan perusahaan sudah menjadi milik anda, Tuan." kata Harry kemudian.
"Kalau begitu, akan Ku pikirkan nanti !" jawab Arash, kemudian pintu lift terbuka. Menampakkan sosok seorang wanita yang memakai pakaian formal, wanita yang sudah lama tak Arash jumpai.
Ting
"Arash !" lirih wanita itu, melihat Arash yang sudah nampak berbeda 180° pria yang telah ia campakkan karena ia memilih pria lain, dia adalah Danisa.
Arash melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift dan berjalan tanpa melihat Danisa.
__ADS_1
"Paman, Aku tidak ingin wanita itu masuk ke dalam ruangan Ku, apapun alasannya !" kata Arash dengan suara beratnya hingga membuat Harry mengernyitkan dahinya.
"Wanita itu ? Maksud Tuan Muda, Danisa ?" kata Harry
"Iya !" pungkas Arash.
"Tapi Dia adalah sekretaris, Anda Tuan. Dia baru saja bekerja selama sepekan !" kata Harry lagi.
"Aku tidak mau tahu, ganti saja dengan yang lain kalau bisa cari kan Aku sekretaris seorang pria !" protes Arash, ia tak ingin melihat Danisa untuk yang kesekian kalinya. Karena ia merasa jijik dengan wanita itu.
"Baik, Tuan Muda. Saya akan mencarikan sekretaris yang baru !" kata Harry patuh tapi dalam hatinya ngedumel.
"Berhenti !" Harry langsung mencegah Danisa untuk tidak masuk ke dalam ruangan Arash.
"Ada apa Pak Harry ?" tanya Danisa bingung.
"Mulai sekarang, Kau tidak perlu lagi bekerja. Kau dipecat !" kata Harry dengan tegas.
__ADS_1
Danisa tentu saja terkejut dengan ucapan Harry barusan. Ia baru saja bekerja di perusahaan milik keluarga Scherzinger tanpa kesalahan sedikit pun, lantas mengapa dirinya dipecat, atas dasar apa ia harus menerima hukuman itu.
"Bapak jangan bercanda, Pak !"
"Saya tidak bercanda, Kau dipecat mulai sekarang Kau tidak usah bekerja disini lagi !" kata Harry
"Hah ?!"
"Pak, Saya butuh pekerjaan. Anak Saya sakit dan butuh uang untuk berobat, kalau Saya dipecat. Bagaimana Saya bisa mengobati anak Saya !" kata Danisa dengan memelas belas kasihan.
"Itu bukan urusan Ku, Danisa. Aku hanya menjalankan perintah, Tuan Arash !" jawab Harry, ia bukannya tidak kasihan pada wanita itu. Namun apalah daya dirinya hanya menjalankan perintah dari Arash, karena Arash tidak mau Danisa menjadi sekretarisnya.
"Pak, Saya mohon. Saya butuh bekerja di perusahaan ini !" Danisa kembali memohon pada Harry agar Harry bisa mempertimbangkan keputusannya.
"Aku bukan bos di perusahaan ini, Danisa. Maaf Aku tidak bisa membantu !" kata Harry pelan.
Danisa menggelengkan kepalanya, ia tak terima dan tak rela jika harus diberhentikan dari pekerjaannya, ia harus bekerja di perusahaan SS Company, karena perusahaan itu menawarkan gaji yang begitu besar.
__ADS_1
"Tidak Aku tidak Mau dipecat, Pak !" Danisa kekeh dengan pendiriannya ia kemudian berjalan ke pintu ruangan Arash dan membukanya lalu masuk keruangan Arash tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan itu membuat Harry sontak merasa terkejut.
...****************...