GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
KONDANGAN


__ADS_3

"Yank, pakai gaun ini besok !" Mario memberikan kotak berisi gaun pesta untuk istrinya tentu saja gaun itu ia beli dari perancang busana ternama yang no kaleng-kaleng.


"Cantiknya !" Mentari mengangkat gaun itu dan menempelkannya di tubuhnya.


"Pilihan suami Mu memang bagus kan, Yank. Siapa dulu suaminya !" kata Mario dengan bangganya.


"Iya iya, suami Ku memang sangat ahli dalam membahagiakan istrinya. Kalau begitu ayo Ku beri hadiah !" Mentari mengedipkan satu matanya pada Mario hingga membuat Mario tersenyum merekah di bibirnya.


"Oke, hayo !" balas Mario dengan semangat empat lima.


Mario pun mengungkung tubuh Mentari dan Mentari mengalungkan kedua tangannya dileher Mario hingga keduanya saling berciuman dan tangan mereka saling ingin melepaskan pakaian yang tengah mereka kenakan.


Saat keduanya sedang dalam mode yang sudah tidak sabaran, ternyata kegiatan enak-enak itu harus terhenti karena Arash dan Arish tiba-tiba masuk ke dalam kamar mereka.


"Pap..pa.."


"Mam..ma.."


Mario dan Mentari saling menoleh ke sumber suara, keduanya wajah mereka berubah ekspresi seperti orang bengek apalagi Mario bukan hanya wajahnya yang seperti orang kurang makan tapi juga kepalanya yang mendadak pening tujuh keliling sebab Burionya tidak jadi membajak sawah.


"Bo..bo ! kata Arash dan Arish mereka dua anak kecil yang tidak tahu salah dan dosa itu dengan mudahnya tidur di ranjang Mario dan Mentari.


"Hah, tidur disini !" kata Mario semakin cango.

__ADS_1


"Ma..ma..bo..bo.." Arash dan Arish minta untuk di kelon oleh Mentari. Dan dengan senang hati Mentari mengeloni mereka berdua sedangkan Mario menjadi frustasi dan memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.


Lima belas menit kemudian, setelah Arash dan Arish tidur Mentari mencari keberadaan suaminya yang sejak tadi berada dikamar mandi namun tak kunjung keluar.


Saat ia membuka pintu kamar mandi, Mario kaget karena kedapatan tengah main solo.


"Butuh bantuan, Mas ?" ucap Mentari menirukan suara seksi hingga membuat Mario kesal.


"Banyak tanya, ayo !"


Sedangkan Mentari tertawa geli saat tubuhnya dikungkung oleh Mario di tembok kamar mandi hingga terjadilah aksi membajak sawah yang sebelumnya sempat tertunda.


......................


Keesokan harinya, Mario dan Mentari datang ke pernikahan Harry dan Lusi. Kedua pasangan itu ternyata benar-benar sudah menjadi pasangan suami-isteri sekarang Mario dan Mentari ikut bahagia melihatnya.


"Terimakasih Tuan !" balas Harry.


"Jangan seperti tikus dan kucing lagi, ya !" kata Mentari yang membuat suaminya, Harry dan Lusi menjadi tertawa.


"Ekhem !"


Suara seseorang menyadarkan Mario dan Mentari mereka melihat siapa orang dibelakangnya ternyata dia adalah Melisa, Melisa datang bersama dengan seorang pria tampan di acara pernikahan Harry.

__ADS_1


"Selamat Lusi ! Akhirnya Kau nikah dan kawin juga !" Melisa memeluk Lusi.


Melisa diundang oleh Lusi karena Melisa dan Lusi dulu adalah teman masa SMP yang sangat dekat.


"Terimakasih sudah datang, Mel. Ngomong-ngomong apa itu calon suami baru Mu ?" bisik Lusi hingga membuat Melisa terkekeh mendengarnya.


"Tentu saja !" Jawab Melisa dengan santainya padahal ia hanya bercanda.


"Hais..pasti mantan suami Mu semakin menyesal melepaskan Mu !"


Melisa pun tertawa kala mengingat David bahkan sampai saat ini pun pria itu menghilang tanpa kabar beritanya, sedangkan Melisa tak mau ambil pusing ia lebih memilih fokus pada karirnya yang kini namanya tengah naik daun apalagi ia berstatus janda muda cantik dan kaya.


"Apa kabar, Mbak Melisa ?" tanya Mentari


"Eh...baik, Aku bersyukur sekali Kau sudah sehat." jawab Melisa


"Terimakasih Mbak !" jawab Mentari


"Oh iya, Apa Kau tahu dimana keberadaan Bunga ?"


"Ah..Bunga ya..ti...tidak Aku tidak tahu !" jawab Mentari berbohong ia sengaja tidak memberi tahu siapa pun dimana keberadaan Bunga , karena ia sudah berjanji pada Bunga tidak akan memberi tahu kemana Bunga pergi.


"Sayang sekali, padahal Aku sangat rindu padanya." lirih Melisa.

__ADS_1


"Dia juga pasti merindukan Kita, Mbak." jawab Mentari dengan lembut dan Melisa hanya bisa menggapainya dengan senyuman.


...****************...


__ADS_2