
"Masuk ke mobil Ku !" titah Arash pada Melati padahal Melati ingin pergi semobil dengan Arish.
Melati cemberut mau tidak mau ia harus menuruti kehendak Arash, jika bukan karena Arash selalu menolong dirinya dari bahaya, Melati tidak akan mau berdekat dengannya. Apalagi sikap Arash yang dingin, kaku, sombong, arogan dan juga menyebalkan tentu saja membuat Melati tak menyukai Arash.
"Sepertinya Arash sudah mulai menerima Melati." kata Mentari pada Mario yang melihat Melati semobil dengan Arash.
"Ya, semoga saja Yank. Lagi pula kata Harry, Arash tidak lagi berhubungan dengan Danisa. Itu artinya kita bisa bernafas lega jika Arash tdiak lagi dekat dengan Danisa." jawab Mario.
"Entah mengapa Aku masih kepikiran, Mas. Lagi pula aku tidak yakin Arash secepat itu melupakan Danisa." keluh Mentari, ia tahu seperti apa putranya itu, tidak mungkin Arash berubah sikap dalam hitungan detik, apalagi mengenai wanita.
"Mas masih ingat bukan, bagaimana Arash ngotot untuk diberikan izin menikah muda ? Dan kita mengizinkannya, tapi kalau Ku tahu wanita yang mau dia nikahi itu Danisa, Aku tidak mau Mas, Aku tidak sudi punya menantu yang Ibunya telah mencelakai Ku." kata Mentari lagi dengan tegas.
"Jangankan diri Mu, Yank. Aku saja tidak akan merestui mereka. Ya sudah nanti Ku pikirkan lagi bagaimana baiknya masa depan Arash. Yang terpenting saat ini Arash tetap fokus dan mempertahankan prestasinya di sekolah." jawab Mario yang membuat Mentari luluh dan mengangguk patuh.
"Aku pergi dulu, Yank. Nanti siang datanglah ke kantor Aku ingin memperkenalkan Mu dengan teman Ku yang datang dari London, dia datang bersama suaminya." kata Mario
__ADS_1
"Oh jadi teman Mas, perempuan ?"
"Hem...Aku takut nanti Kau salah paham Yank, lebih baik Kau datang saja. Dari pada nanti Aku tidur di luar nanti malam" jawab Mario apa adanya, ia pernah diusir oleh Mentari karena ia pernah bertemu dengan rekan bisnis wanita yang menjalin kerja sama dengan perusahannya.
Mentari terkekeh mendengarnya, ia tak menyangka suaminya akan sebucin ini padanya.
"Ya sudah, nanti Aku akan datang, Mas."
Cup
Mario mengecup kening Mentari sebelum ia pergi ke kantor. "Aku pergi dulu."
"Lain kali Aku pergi sendiri saja." lirih Melati di tengah perjalanan bersama Arash.
"Siapa Kau berani mengatur Ku, ingat Kau harus membalas budi pada Ku !" sarkas Arash yang membuat Melati terdiam.
__ADS_1
Saat mereka sudah sampai di sekolah dan Arash memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah. Keduanya kemudian turun dari mobil yang kebetulan hanya ada satu atau dua siswa yang datang dengan mengendarai mobil mereka.
"Apa Kau tuli, sudah Ku bilang jangan ikat rambut Mu !" Arash menarik kuncir rambut Melati hingga rambut Melati kini tergerai dengan indah.
"Yaaak !" protes Melati
"Apa ? Kau mau protes ?" jawab Arash cepat.
Tiba-tiba terdengar suara mobil masuk ke halaman parkir dan Arash melihat mobil itu adalah mobil Danisa. Dengan cepat Arash berubah sikap pada Melati hingga Melati menjadi aneh dengan siap Arash.
Apalagi Arash tiba-tiba memasangkan tali sepatu Melati yang terlepas hingga membuat Melati membulatkan kedua matanya.
Danisa yang baru saja keluar dari mobilnya tentu saja merasa cemburu akan perlakuan Arash pada Melati.
"Arash bahkan tidak pernah seperti itu pada Ku, lalu wanita itu...ck !" Kata Danisa dalam hati.
__ADS_1
Belum lagi tiba-tiba Arash mencium kening Melati dan itu membuat Danisa benar-benar terbakar cemburu. Lain halnya dengan Melati ia terdiam dan terpaku dengan apa yang dilakukan oleh Arash barusan.
...****************...