
Suasana di meja makan begitu sunyi sepi saat anak-anak Mario dan Mentari tengah sarapan bersama. Semuanya tampak canggung karena hanyut dengan pikiran masing-masing.
Melati yang masih malu dengan kejadian kemarin, dimana Arash tiba-tiba mengatakan jika mereka berdua tengah menjalin hubungan. Tapi lain hal dengan Arash ia tampak biasa-biasa saja setelah membuat cerita bohong pada keluarganya. Ia bahkan dengan santainya menikmati sarapan paginya.
Lain hal dengan Arish pria itu nampak kecewa dan patah hati karena sudah kalah sebelum berjuang. Padahal dirinya sudah begitu banyak melakukan cara untuk mendapatkan Melati, hanya saja Melati yang tidak peka atas setiap perlakuan yang diberikan oleh Arish.
Apalagi Mentari, wanita yang masih muda menyandang status Ibu beranak dua itu. Semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan Arash yang ngotot ingin menikah muda. Memang dirinya menyukai Melati tapi yang namanya seorang Ibu pastilah ingin yang terbaik untuk anak-anaknya apalagi kedua anak-anaknya itu laki-laki. Menurut Mentari seorang anak lelaki harus siap secara finansial dan memiliki masa depan yang cerah baru ia bisa memberikan izin pada anak-anaknya untuk menikah.
Sebab mau dikasih makan apa anak gadis orang kalau laki-laki tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan, apalagi zaman sekarang mencari uang begitu susah nyarinya setengah mati.
Sedari tadi Mario memperhatikan suasana saat mereka sarapan bersama begitu membosankan karena tak ada suara lain kecuali sendok dan garpu yang bersahutan.
"Ini hari libur, ayo Kita jalan-jalan !" ajak Mario, ia pikir mengajak anak dan istrinya liburan sebentar ada baiknya untuk memperbaiki suasana.
__ADS_1
"Aku tidak bisa, Pa. Aku sudah janji dengan Farhan hari ini." kata Arash menolak ajakan Mario.
"Aku juga tidak bisa, Aku harus belajar untuk ujian..." ucapan Arish terpotong saat Mario menyela terlebih dahulu.
"Masuk ke dokteran ?"
Arish terdiam seketika semua yang berada di meja makan nampak tegang. Sebab Mario menatap intens ke arah Arish.
"Papa tidak perlu memaksa Arish untuk menjadi yang seperti Papa mau." kata Arash, ia menaruh sendok dan garpunya di atas piringnya, hingga membuat Mario menoleh ke arah Arash.
"Aku yang akan menggantikan posisi Papa, selama ini juga Aku sudah terjun dan belajar banyak mengenai perusahaan Papa. Aku bahkan jarang istirahat demi belajar ilmu bisnis. Bahkan Paman Harry selalu mengajari Ku setiap harinya pada Ku." Arash kemudian menarik nafasnya lalu melanjutkan perkataannya lagi.
"Arish tidak mampu mempelajari itu, Pa. Apa Papa tega mengorbankan kebahagiaan Arish demi keinginan Papa ?" Arash tak segan-segan menatap Papanya dengan intens.
__ADS_1
Arish yang mendengar itu hanya bisa menundukkan pandangannya ke arah piringnya. Benar apa yang dikatakan oleh saudara kembarnya, ia tidak semampu Arash dalam mengenyam ilmu bisnis sebab jiwanya bukan disana, tapi ingin menjadi seorang dokter yang hebat.
Mentari yang menyaksikan percakapan anak dan suaminya itu. Bukan Mentari tak membela anak-anaknya tentu saja ia mendukung niat dan cita-cita anak-anaknya, ia tak pernah memaksa anak-anaknya untuk menjadi apa yang orang tua mau, bagi Mentari selagi itu baik untuk masa depan mereka tak masalah menurutnya, ia bahkan akan mendukung anak-anaknya.
"Mas, sesuatu yang dipaksakan bukan kah itu hal yang tidak baik ?" Mentari memperingati suaminya.
Mario menghela nafasnya lalu menyenderkan tubuhnya di kursi kemudian ia menoleh ke arah Arish. Ada rasa kasihan ia melihat putranya tersebut selama ini memang ia mungkin sudah terlalu berlebihan dalam mendidik Arash dan Arish agar menjadi yang ia mau.
Namun ternyata tidak sesuai dengan harapannya, Arish bahkan tak berminat sedikit pun untuk terjun ke perusahaan. Ia jadi mengingat Paula, adik bungsunya. Bahkan Paula juga sama seperti Arish, ingin menjadi apa yang ia mau yaitu menjadi seorang dokter.
Tapi yang namanya orang tua tidak mungkin membiarkan anaknya hidup susah, apalagi membiarkan Paula bekerja di rumah sakit orang lain yang gajinya tidak seberapa. Syeh Scherzinger bahkan mendirikan sebuah rumah sakit untuk dikelola oleh Paula.
"Baik, Papa akan mengizinkan Mu untuk menjadi seorang dokter !" kata Mario pelan hingga membuat Arish mengangkat wajahnya menoleh ke arah Mario.
__ADS_1
"Pa..pa ?"
...****************...