GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
MURID BARU


__ADS_3

Melati menatap kagum pada bangunan sekolah kaum elit yang kini menjadi tempat ia bersekolah. Setelah Mentari mengurus semuanya, Melati sudah resmi menjadi siswi di sekolah tersebut.


Melati diantarkan oleh wali kelasnya ke kelasnya di perkenalkan oleh wali kelasnya pada teman-teman kelasnya disana.


“Anak-anak, ini adalah teman baru kalian. Ibu harap kalian bisa berteman baik padanya.” ujar wali kelas tersebut pada para murid-muridnya.


“Ayo Melati, perkenalkan diri Mu.” Ucap Ibu wali kelas itu lagi.


“Selamat Pagi semuanya, perkenalkan nama Ku Bunga Melati Aku siswa pindahan dari SMA Nusa Bangsa.” Kata Melati


Para murid yang ada dikelas tersebut mendengar nama sekolah SMA Nusa Bangsa pun berbisik-bisik bahkan ada yang mencibir mengenai kredibilitas sekolah tersebut yang jauh berbanding dengan sekolah mereka. Namun ada satu orang siswa yang memperhatian Melati sejak Melati datang bersama wali kelasnya itu, ia seakan senang dengan kehadiran Melati di kelasnya.


“Namanya Bunga Melati ? ck…” ucap salah satu siswa dengan pelan yang meremehkan nama Melati yang terkesan kampungan menurutnya.


“Itu kan nama kembang.” Jawab temannya lagi. Mereka berdua adalah Marcelia dan Wilona di kelas tersebut mereka berdua adalah bintang kelas.


“Kok bisa siswi SMA Nusa Bangsa pindah ke sekolah ini.” Bisik salah satu siswa lainnya.


“Mungkin orang tuanya menemukan harta karun makanya bisa pindah ke sekolah ini.” Kata salah satu siswa lain yang menjawab dengan terkekeh.


Melati mendengar semuanya yang dikatakan oleh teman-teman di kelasnya. Namun ia berusaha tetap tenang.


Setelah kepergian wali kelas tersebut, Melati mendudukan diri di kursi yang kosong yang kebetulan memang kursi tersebut tidak berpenghuni.


“Kemarin-kemarin kursi itu ada pemiliknya, tapi karena perusahaan bapaknya bangkrut jadi pemiliknya berhenti dari sekolah ini !” kata salah satu siswa laki-laki menjelaskan pada Melati.


“Oh iya, Kami penasaran. Kenapa Kau bisa masuk sekolah ini ? Apa orang tua Mu punya perusahaan besar ? Atau Kau orang kaya baru ?” tanya siswa lainnya hingga kini Melati jadi sorotan siswa di dalam kelas itu.


Melati bingung harus menjawab apa, perusahaan ? Memangnya perusahaan apa yang orang tuanya punya. Mendiang Ayahnya dulu hanya seorang pegawai bengkel mobil dan bukanlah berasal dari keluarga kaya.


“Orang tua Ku sudah tiada.” Kata Melati pelan dan apa adanya.


“Benar kah ?”


“Jadi Kau anak yatim piatu.”

__ADS_1


“Kasihan sekali.”


“Lantas kenapa Kau bisa sekolah disini ?”


“Oh, pasti dia mendapatkan warisan dari kedua orang tuanya.” Tebak salah satu siswa lainnya pada teman-temannya.


Melati terdiam bagaimana harus menjelaskan identitasnya dan status sosialnya saat ini.


Untungnya saat para siswa lainnya terus mengajukan pertanyaan bertubi-tubi pada Melati. Tiba-tiba guru mata pelajaran masuk ke kelas mereka hingga mereka otomatis langsung bubar dan duduk di kursi mereka masing-masing. Dan itu membuat Melati merasa lega dan terbebas dari pertanyaan beruntun yang diajukan oleh teman-teman di kelasnya.


“Hai, Melati. Aku Aurel.” Aurel menyodorkan tangannya pada Melati dan Melati pun membalasnya dengan baik.


“Mau berteman dengan Ku ?” kata Aurel dengan lembut.


Melati melihat Aurel ia yakin Aurel begitu tulus padanya. Dan Melati pun menganggukkan kepalanya lalu tersenyum pada Aurel. Sejak saat itulah Melati memiliki teman dan hanya satu orang temannya di sekolah tersebut, yaitu Aurel.


...………………...


Satu bulan kemudian,


Melati sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia bahkan memakai jam tangan pemberian dari Mentari, jangan tanya harganya pasti mehong sebab Melati selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya dan ia tak pernah membeda-bedakan kedua putranya dengan Melati.


Melati tentu saja kini merasa kesepian dirumah besar dan mewah itu. Hanya Mentari yang kini menjadi temannya sebab Mentari selalu mengajaknya untuk pergi berbelanja dengan dalih menghilangkan stress.


“Selamat pagi putri cantik.” Puji Mentari pada Melati yang baru saja mendudukan diri kursi bergabung untuk sarapan bersama.


“Selamat pagi, Ibu.” Jawab Melati pelan.


“Melati, ini simpan dan gunakanlah.” Kata Mario menyodorkan kartu bewarna hitam pada Melati. Mario sudah menganggap Melati seperti putrinya sendiri. Sudah tentu ia akan memberikan perlakuan yang sama seperti kedua putranya.


“Untuk apa ini, Paman ?” kata Melati pelan.


“Untuk Mu, ambil lah.” Jawab Mario dengan lembut.


“Tapi Paman, ini terlalu belebihan. Uang saku sekolah yang diberikan oleh Ibu Mentari saja sudah lebih dari cukup bahkan tidak pernah habis dipakai.” Kata Melati

__ADS_1


“Ambil saja Melati, Paman memberikannya untuk Mu. Kau bisa menggunakannya untuk keperluan sekolah Mu.” Kata Mario lagi.


Melati menoleh ke arah Mentari dan Mentari menganggukkan kepalanya seolah memberikan isyarat jika Melati harus menerima pemberian Mario.


“Biar Ibu Mentari saja ya memegangnya.” Kata Melati lagi menyodorkannya pada Mentari.


“Ibu Mentari sudah banyak kartu sakti, Bukan hanya satu atau dua tapi semua kartu milik Paman sudah dikuasai olehnya.” Kata Mario yang membuat Mentari terkekeh mendengarnya.


“Ambil lah Melati. Simpan saja jika tidak dipergunakan.” Kata Mentari


Dengan tak enak dan berat hati, Melati pun menerima kartu itu. Dan tiba-tiba Arash dan Arish turun dan bergabung untuk sarapan bersama.


“Selamat pagi Ma.. Pa..” kata Arash dan Arish.


“Selamat pagi dua orang pangeran Mama !” jawab Mentari dengan semangat dan tersenyum cerah. Namanya saja Cahaya Mentari pasti cerah dan bersinar terang.


Setelah sarapan selesai, niatnya Melati ingin bicara dengan Arash namun Arash buru-buru masuk ke dalam mobil bersama dengan Arish.


“Kenapa mereka meninggalkan Melati ?” tanya Mentari melihat kedua anak mereka sudah masuk ke dalam mobil meninggalkan Melati.


“Tidak apa-apa Ibu, Aku naik mobil yang lain saja. Mereka terburu-buru karena banya kegiatan di sekolah.” Kata Melati terpaksa berbohong pada Mentari agar Mentari tak memarahi Arash dan Arish.


“Ayo berangkat bersama Paman saja.” Tawar Mario. Dan Melati pun ikut bersama dengan Mario dan diantar olehnya.


“Hati-hati ya Sayang.” Mentari melambaikan tangan ke arah anak dan suaminya.


Di tengah perjalanan Mario mengeluarkan macbooknya dan mengecek pekerjaannya.


“Pantas saja Paman begitu kaya raya, sebab Paman selalu bekerja keras.” Puji Melati memecah keheningan di dalam mobil.


“Iya, semoga Kau bisa mengikuti jejak Paman.” Jawab Mario kemudian tersenyum pada Melati.


“Tapi Aku tidak mau jadi orang kaya, Paman.” Kata Melati dan membuat Mario menjadi melongo mendengarnya.


“Kenapa ? Orang berlomba-lomba ingin menjadi kaya raya lalu kenapa Kau tidak mau ?” tanya Mario

__ADS_1


“Takut bayar pajaknya.” Jawab Melati dan membuat Mario tertawa mendengarnya.


...………………………...


__ADS_2