
“Yank…bobo ya ?” Mario menggerakkan tubuh istrinya ini baru pukul delapan malam namun istrinya itu sudah tertidur pulas setelah mereka makan malam.
“Yank…” rengek Mario setelah malam pertama mereka semalam, entah mengapa tubuh Mentari menjadi candu untuknya jika sudah dekat dan menempel di kasur seperti ini Mario jadi tidak tahan untuk tidak menyentuh Mentari bahkan hanya melihat Mentari saja Burionya sudah bangun dari tidurnya.
Mentari tidak juga membuka matanya karena ia begitu lelah hingga ia memutuskan untuk tidur, dan ia tidur dengan nyenyak tanpa mempedulikan rengekan suaminya yang ingin minta jatah.
“Ampun dah…punya istri tidur sepertiorang mati !” keluh Mario, ia meratapi nasibnya yang mala mini mungkin tak dapat jatah. Namun bukan Mario namanya jika tidak memiliki akal bulus.
“Tapi kan sudah sah, jadi tidak masalah jika meminta tanpa izin terlebih dahulu !” Mario menaikkan satu alisnya.
Ia pun membuka selimut yang menutupi tubuh Mentari dan dengan perlahan ia membuka satu persatu kancing baju tidur istrinya itu hingga hanya menampilkan pakaian dalaman saja.
“Kau pakai setelan hitam, Yank, Aku menyukainya.” Mario pun langsung meneruskan aksinya tanpa permisi bahkan izin ia menyentuh tubuh Mentari.
Sedangkan Mentari ia seolah tengah bermimpi terbang diatas awan padahal nyatanya itu adalah ulah suaminya. Namun tak lama Mentari merasakan sesuatu yang aneh rasa geli dan nikmat. Mentari pun terbangun dari tidurnya dan membuka kedua matanya.
Mata Mentari terbelalak sempurna saat lidah suaminya sedang bermain di intinya.
“Aaahh…Mas apa yang kau lakukan !” pekik Mentari ia mengatakan itu sambil menahan rasa nikmat yang luar biasa diciptakan oleh suaminya.
“Aaahh…Mas…Aku keluar…aaahh….”
Mentari terkulai lemas akibat ulah suaminya.
“Yank, Aku mau kamu !” Mario dengan cepat mengungkung tubuh Mentari.
“Kalau nolak pasti dosa, ya udah deh, ayo main !” Mentari merubah posisinya menjadi diatas tubuh Mario.
"Kau sexsi sekali kalau lagi di atas begini, Yank !" Mario tersenyum kemenangan saat diberikan izin oleh istrinya untuk melakukan kegiatan cocok tanam lagi malam ini.
"Aku memang seksi !" jawab Mentari dengan percaya diri dan menggoda Mario dengan menjalarkan jari tangannya di tubuh Mario hingga Mario meremang.
Hingga terjadilah kegiatan panas diantara pengantin baru tersebut yang entah kapan selesainya hanya mereka berdua yang tahu.
"Terimakasih Yank !" Mario mengecup kening Mentari dan memeluk tubuh Mentari setelah percintaan panas nan panjang diantara mereka berdua.
"Sama-sama !" Mentari pun membalas pelukan Mario.
"Jadi begini pacaran setelah menikah !" ucap Mentari menatap langit-langit kamar.
"Kenapa memangnya ?" tanya Mario
__ADS_1
"Enak !" celetuk Mentari
Mario terkekeh mendengarnya, meskipun ia belum mencintai Mentari setidaknya Mario memiliki rasa tak ingin berpisah dengan Mentari dan sudah nyaman bersama Mentari.
"Oh iya, besok Aku harus membeli perlengkapan ospek, temani Aku, ya ?" pinta Mentari
"Besok pagi Aku ada rapat penting, bagaimana kalau setelah selesai rapat saja kita belanjanya." tawar Mario karena besok pagi memang ia harus rapat dengan para pemegang saham.
"Oke deh !" jawab Mentari.
"Besok ikut saja ke kantor, Kau tunggu di ruang kerja Ku." Mario semakin mengeratkan pelukannya pada Mentari.
"Aku malu, Mas !" cicit Mentari.
"Kenapa malu ?" tanya Mario kemudian.
"Aku minder kalo berjalan dengan seorang presiden direktur seperti Mu !" lirih Mentari, meskipun ia anak dari keluarga yang berada tetap saja kasta Mario jauh lebih tinggi, ibarat langit dan bumi.
"Jangan malu jalan dengan suami sendiri, Aku akan menyuruh Harry untuk memberikan perintah di kantor agar tak ada yang membicarakan Mu." jawab Mario
Mario tahu Mentari pasti takut jadi perbincangan para karyawan di kantornya karena menjadi istrinya. Sebab semua karyawan kantor tahu Mario berpacaran dengan Melisa namun tiba-tiba saja Mario menikah dengan wanita lain, yaitu Cahaya Mentari. Gadis yang masih remaja berusia 18 tahun dan berasa dari desa.
... ...
...****************...
Mentari berjalan dibelakang tubuh Mario saat mereka sudah tiba di halaman kantor dan masuk ke dalam lobby.
Mario menghentikan langkah kakinya saat menyadari tak ada Mentari disampingnya, hingga tanpa sengaja Mentari menabrak tubuhnya dibelakang.
"Aduh ! " Mentari memegangi keningnya yang terbentur tubuh suaminya.
Mario pun menarik tangan Mentari untuk berjalan disampingnya.
Semua karyawan yang berpapasan dan melihat Mario membawa istrinya ke kantor mereka tertunduk hormat dan tak berani membicarakan istrinya.
Namun setelah Mario dan Mentari hilang dibalik pintu lift para karyawan pun mulai berbisik-bisik mengenai istri bos mereka tersebut.
"Ternyata Pak Mario sangat pintar mencari istri, masih muda, cantik lagi ! " ujar salah satu karyawan laki-laki setelah melihat istri Mario.
"Jauh berbeda dengan Nona Melisa." sahut karyawan yang lainnya.
__ADS_1
"Iya, percuma saja berpacaran lama tapi ujung-ujungnya nikah dengan yang lain ! "
"Ya, namanya juga jodoh itu kan rahasia Tuhan, jodoh tidak tahu kapan datangnya dan dengan siapa ! "
Kita tinggalkan para karyawan yang membicarakan Mario dan Mentari. Kembali ke Mario dan Mentari. Mereka berdua sudah berada di ruang kerja Mario.
"Kau bisa istirahat terlebih dahulu, ada ruang pribadi Ku disini." Mario menekan tombol yang ada di rak buku hingga tembok yang awalnya polos tersebut terbuka menampilkan sebuah pintu rahasia.
"Wahh.... Canggih !" ucap Mentari menatap kagum dengan apa yang ia lihat. Sedangkan Mario ia hanya tersenyum melihat reaksi istrinya.
Mario pun membuka kan pintu kamar rahasianya pada Mentari di dalam kamar itu seperti sebuah apatemen yang lengkap dengan fasilitas yang dibutuhkan oleh Mario.
"Istirahat lah, Kau bisa melakukan apapun yang Kau suka disini. Aku akan pergi rapat dulu, oke." Mario mengecup kening Mentari dan pergi meninggalkan Mentari bersama Harry.
Saat Mentari sedang melihat sekeliling kamar rahasia milik Mario, mata Mentari menyipit kala melihat kartu undangan di kotak sampah.
Ia pun penasaran dan mengambil kartu undangan tersebut yang ternyata itu adalah undangan pernikahan David dan Melisa.
"Kenapa dibuang ?" ucap Mentari kemudian Mario melihat di kotak sampah tersebut ternyata terdapat foto-foto Mario bersama Melisa semasa pacaran.
"Mereka memang benar-benar serasi. " Mentari bahkan memuji momen-moment kebersamaan Mario semasa masih bersama Melisa.
"Dia sudah membuangnya, itu artinya Mas Mario tidak ingin lagi berhubungan dengan Melisa." tebak Mentari.
Mentari kemudian tersenyum manis, sehari setelah ia menikah dengan Mario. Helena sang Ibu Mertua memberikan nasehat padanya untuk menerima Mario dan belajar mencintai Mario. Meskipun Helena tahu Mario pasti masih terbayang akan mantan kekasihnya, Melisa. Namun Helena begitu mengharapkan Mentari agar bisa merebut hati Mario, dan dengan demikian Mario tidak lagi terbayang akan Melisa.
Walaupun Melisa sudah bersama yang lain, tetap saja Helena yakin Mario masih mengingat Melisa mengingat cintanya pada Melisa begitu besar, hingga Mario dengan bodohnya dapat di tipu oleh Melisa.
"Apa Mas Mario sudah mencintai Ku ? " tanya Mentari seorang diri.
Lama Mentari melamun memikirkan perasaan suaminya untuknya, ia pun menjadi bosan dan memutuskan untuk keluar dari ruang pribadi Mario. Bagitu Mentari keluar dari ruang pribadi suaminya mata Mentari membulat saat melihat wanita tengah meletakkan sebuah map di atas meja kerja suaminya.
"Kau siapa ?" tanya Mentari melihat tampilan wanita yang telah meletakkan map di atas meja suaminya.
"Perkenalkan Nyonya, Saya Lusi sekretaris kantor Tuan Mario." Lusi memberikan penghormatan pada Mentari dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Bukan penghormatan yang membuat Mentari diam terpaku tapi tampilan Lusi yang membuatnya iri begitu modis, apalagi bentuk tubuh Lusi yang bak gitar sepanyol dengan ukuran dada yang diluar batas normal.
"Besar sakali ! " batin Mentari.
...****************...
__ADS_1