
Satu minggu kemudian,
Mentari sudah kembali ke rumah bukan rumah kedua orang tua Mario melainkan rumahnya bersama Mario. Sesuai kata Mario satu tahun lalu, ia sudah menyiapkan istana untuk keluarga kecil mereka. Dan Mentari sangat menyukai rumah baru tersebut.
Saat ini Mentari dan Mario tengah menonton televisi dan ternyata terdapat sebuah iklan dimana Melisa yang menjadi modelnya.
“Apa kabarnya dia, Mas ?” tanya Mentari pelan ia menanyakan kabar Melisa pada Mario. Mentari tak merasa cemburu sama sekali pada Melisa meskipun Melisa adalah mantan kekasih Mario, sebab Mentari yakin Mario tidak akan berpaling darinya.
“Dia bercerai dengan David.” Jawab Mario
“Cerai ?” Mentari begitu terkejut mendengar kabar rumah tangga Melisa dan David yang kini sudah berpisah.
“Kenapa ?” lirih Mentari “Apa dia tahu kalau suaminya itu nyeleneh sampai akhirnya mereka berpisah ?” Mentari menjadi kepo.
“Bukan itu, Melisa sendiri yang bilang kalau mereka berpisah karena David yang selalu sibuk dengan dunianya. Itu artinya Melisa tidak tahu kalau David pria yang agak lain !” jawab Mario.
“Kasihan Melisa, tapi lebih baik mereka berpisah dengan alasan seperti itu, ketimbang mereka berpisah karena alasan David pria yang tidak normal !” cicit Mentari
“Aku sebenarnya ingin memberi tahu Melisa, tapi Aku takut nanti dia semakin kecewa dengan David.” Terang Mario, ia sempat ingin mengatakan yang sebenarnya kalau David memiliki prilaku yang menyimpang, tapi Mario mengurungkan niat itu sebab melihat perceraian mereka saja Melisa sudah sangat kecewa dengan David.
__ADS_1
“Sudah bicara dengan David ?” tanya Mentari.
“Untuk apa ?” kata Mario dengan santainya.
“Dia sudah membuang wanita yang tulus mencintainya demi bersama yang lain. Seharusnya Mas menasehati David agar tidak semakin terjerumus di dalam hal yang salah !”
“Sayang, Aku sudah berulang kali menasehatinya. Apa Aku perlu mendatangkan dia seorang ustadz atau Ku bawa dia ke terapi rukiah ?” jawab Mario apa adanya, karena ia pun sudah bingung harus bagaimana lagi caranya menyadarkan sahabatnya itu.
Mentari terdiam, memang benar penyakit seperti itu tidak mudah untuk disembuhkan hanya Tuhan saja yang bisa menyadarkan David agar kembali ke jalan yang benar.
“Kita doakan saja, supaya David mendapatkan hidayah, Yank !”
“Aamiin.”
“Aamiin.”
“Papa..pa…”
“Mama..ma..”
__ADS_1
Mentari dan Mario menyambut Arash dan Arish Mario pikir Arish akan memeluknya namun nyatanya ia salah, kedua anaknya itu malah berebut ingin memeluk Mentari.
“Aku jadi iri, Yank !” Mario mengerucutkan bibirnya. Padahal satu tahun ini ia yang merawat Arash dan Arish tapi begitu Mentari sudah kembali, kedua anaknya bak kacang lupa pada kulitnya, Mario kini menjadi terlupakan.
“Jangan iri pada anak sendiri !” kata Mentari sambil terkekeh apalagi kedua anaknya menciumi pipi Mentari secara bergantian.
“Hei, Boy. Apa kalian tidak rindu Papa ?” tanya Mario pada kedua anaknya.
“Papa..pa..” Arash dan Arish pun memeluk Mario hingga Mario merasa kesenangan.
“Kita hanya bisa memiliki dua orang anak, Mas. Maaf kan Aku yang tidak bisa mengandung lagi !” lirih Mentari, ia mengatakan itu mungkin saja suaminya mendambakan seorang anak perempuan tapi apalah daya Mentari sudah tidak bisa hamil kembali sebab rahimnya sudah diangkat.
“Tidak apa-apa Sayang, Aku tidak membutuhkan anak yang banyak. Yang Aku butuhkan adalah diri Mu, karena Aku berharap kita bisa menua bersama sampai akhir usia kita.”
“Tidak perlu banyak anak, apa yang sudah Tuhan titipkan pada Kita, cukup kita jaga dan rawat dengan baik.” Kata Mario ia mengatakan itu agar Mentari tetap semangat menjalani hidupnya, sebagai seorang wanita dan seorang istri.
“Terimakasih Mas, Aku sampai tak tahu harus berkata apa pada Mu.” Mentari langsung memeluk suaminya hingga pemandangan hangat sebuah keluarga kecil itu membuat damai mata orang yang melihatnya.
“Aku yang berterimakasih pada Mu, Yank. Kau sudah mempertaruhkan nyawa Mu demi anak-anak Kita, Aku bangga pada Mu !” Mario mengecup pucuk kepala Mentari dengan lembut.
__ADS_1
...****************...