
"Apa yang kau lakukan ?!" Melati berteriak namun dengan cepat Wilona menyumpal mulut Melati dengan sebuah kain.
"Aku hanya penasaran! Sudah diam saja !" Wilona mencoba membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Melati namun dengan cepat Melati menendang Wilona hingga Wilona terjungkal ke belakang.
Bugh
"Aduh...pinggang Ku !" Wilona berteriak merasakan sakit di pinggangnya.
Marcelia yang tak terima temannya di tendang oleh Melati. Ia membalas Melati dengan ingin menampar wajah Melati. Namun sedetik kemudian belum sempat tangannya mendarat di pipi mulus Melati tersebut, tangan Marcelia di cekal oleh seseorang.
"Aku akan mematahkan tangan Mu !"
Dia adalah Arash, Arash tak sengaja lewat di depan kelas Melati dan ternyata begitu sepi karena ternyata para siswa di kelas itu tengah di kumpulkan pagi-pagi sekali di lapangan olahraga karena suatu kegiatan.
"Ar..Arash.." Suara Marcelia tercekat bahkan tubuhnya bergetar hebat saat melihat raut wajah dan sorotan mata yang menakutkan dari Arash.
__ADS_1
"Andai saja Kau bukan seorang wanita, sudah Ku pastikan tangan Mu tidak ada di tempatnya lagi !"
"Dan Kau...kalian berdua setelah ini akan berhadapan dengan Ku ! Ucap Arash dengan tegas menunjuk Wilona dan Marcelia hingga keduanya begitu ketakutan.
Selama ini mereka hanya mendengar rumor jika Arash memiliki sifat arogant, sombong, dan tempramental sekarang mereka berdua bisa melihat semuanya. Separah itu memang sikap Arash jika ia tengah marah.
Arash membuka ikatan ditangan Melati dan membawa Melati pergi ke tangga darurat.
Setelah mereka tiba disana Arash melihat tangan Melati yang memerah bahkan rambut Melati yang berantakan.
Arash berdecak kenapa banyak sekali kaum hawa di sekolahnya ini tergila-gila padanya bahkan tega menyakiti orang-orang yang ia kenali, salah satunya adalah Melati.
Melati tertunduk, ia jadi takut jika ia terus bersama dengan Arash ia akan terus menjadi korban fans berat Arash di sekolah.
"Terimakasih sudah menyelamatkan Ku." Melati mengatakan itu dengan tulus.
__ADS_1
"Kau berhutang banyak pada Ku !" Arash kemudian berbalik hendak meninggalkan Melati namun langkahnya terhenti saat melihat Danisa ada di tangga atas. Tatapan mereka saling bertemu namun Arash tiba-tiba kembali membalikkan diri di hadapan Melati dan mengelus pucuk rambutnya tak lupa ia tersenyum manis pada Melati hingga Melati diam terpaku.
Sejenak keduanya saling menatap hingga pada akhirnya Arash mendekatkan bibirnya ke bibir Melati dan Arash mulai mencium Melati.
Cup
Darah di dalam tubuh Danisa seakan mendidih, hatinya kian membuncah. Tadi pagi ia melihat Arash pergi sekolah bersama Melati lantas sekarang mereka sudah berciuman di depan matanya.
Secepat itukah Arash melupakan dirinya ? Danisa tergagap ia kemudian mengepalkan kedua tangannya. Seolah tak terima dan tak rela jika Arash dengan begitu mudahnya melupakannya.
Padahal tiga hari lalu ia hanya terbawa emosi dan tak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Danisa pikir besoknya setelah mereka bertengkar, Arash akan menghubunginya dan membujuknya untuk berbaikan.
Tapi nyatanya Danisa salah, ia bahkan mendapatkan kejutan yang tak terduga sampai separah itukah Arash kesal atau marah padanya, status mereka di sosial media sudah tiada.
Danisa yang tak tahan melihat pemandangan memuakkan dan penuh sesak tersebut, ia lantas berlalu pergi dan menutup pintu tangga darurat dengan kasar hingga membuat Arash dan Melati melepaskan ciuman mereka berdua.
__ADS_1
BRAKK
...****************...