GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
CEKCOK


__ADS_3

"Huh...Aku lelah sekali !" Mentari langsung merebahkan dirinya di atas kasur setelah ia pulang ke rumah dan berada di kamarnya hingga tak sadar kini ia sudah tertidur.


Lain halnya dengan Mario setelah ia selesai dengan pekerjaannya di kantor dan pulang ke rumah. Ia melihat Mentari sudah tertidur dengan nyenyak tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu, jangan kan mengganti pakaian mandi pun belum.


Ting


Ponsel Mentari berbunyi dimana terdapat pesan masuk disana. dan Mario membuka pesan itu.


"Ini nomor ponsel Kak Bara, di simpan ya 🙂"


Mario membelalakkan matanya saat tahu ada pria lain yang memberikan pesan pada Mentari dan meminta menyimpan nomornya.


"Beginilah mungkin resiko punya bini cantik !" ucap Mario seorang diri.


Tubuh Mentari menggeliat ia kemudian membuka matanya dan kemudian tersadar jika ia barusan tanpa sadar sudah tertidur.


Mentari kemudian melihat ternyata suaminya sudah pulang dan baru selesai mandi.


"Udah pulang Mas ?" sapa Mentari.


"Iya !" jawab Mario singkat dan terkesan dingin, tiba-tiba saja sikapnya berubah setelah membaca pesan di ponsel Mentari.


"Kenapa tidak membangun kan Aku ?" rengek Mentari dengan manjanya seperti biasa dirinya memang suka bermanja-manja dengan Mario setelah ia jatuh cinta pada suaminya tersebut.

__ADS_1


"Sekarang kan sudah bangun." jawab Mario


Mentari mengernyit heran dengan suaminya sebab tak biasanya Mario bersikap dingin padanya.


"Ada apa Mas ?" tanya Mentari pelan


"Ada apa ?" Mario menoleh ke arah Mentari dengan raut muka datar.


"Iya ? Ada apa dengan Mas ? Apa Aku membuat kesalahan ? Kalau iya katakan ! Apa kesalahan Ku ?" tanya Mentari bertubi-tubi


"Masih tidak tahu apa kesalahan Mu ?" jawab Mario ia kemudian meninggalkan Mentari keluar dari kamar dan masuk ke ruang kerjanya.


"Memangnya Aku salah apa ?" ucap Mentark bingung.


Setelah itu Mentari kemudian menyusul suaminya ke ruang kerjanya dimana Mario kini tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya.


"Mas..." ucap Mentari pelan.


"Jika tidak penting jangan kemari !" jawab Mario pelan namun terkesan membuat Mentari tak enak hati mendengarnya.


"Mas ? Kau kenapa ? Aku benar-benar tidak mengerti apa salah Ku !" ucap Mentari kesal sendiri.


"Siapa Bara ?" tanya Mario penuh penekanan.

__ADS_1


"Bara ?" Mentari bertanya balik ia kemudian mengingat nama itu tentu saja dia adalah presiden BEM Bara Velentino.


"Oh dia itu senior di kampus Ku !" jawab Mentari jujur "Kenapa memangnya ?" tanya Mentari lagi.


"Memangnya kenapa ? Kenapa Kau memberikan nomor ponsel Mu padanya ?" ucap Mario ia tak suka jika Mentari dekat dengan pria lain.


Mentari pun mengingat kejadian beberapa jam lalu dimana Bara ngotot ingin meminta nomor ponselnya dan dengan berat hati Mentari pun memberikannya pada Bara.


"Ah, itu..." Ucapan Mentari terputus saat Mario menyela terlebih dahulu.


"Apa ?"


"Tapi sepenuhnya bukan salah Ku Mas, Aku hanya memberikannya sebatas menghormatinya sebagai senior Ku !" protes Mentari karena ia tak suka jika Mario terus menuduhnya.


"Iya setelah kau menghormatinya sebagai senior Mu, lalu apalagi ? Apa kau mau diajak jalan dengannya ? Kencan dengannya ?" cecar Mario hingga membuat Mentari merasa tak terima.


"Mas pikir Aku apa ? Hah ? Aku wanita yang sudah menikah dan punya suami, mana mungkin Aku pergi bersama pria lain ! Ingat Aku bukan Melisa ! Mantan kekasih Mu yang murahan !" ucap Mentari dengan suara meninggi ia kemudian meninggalkan Mario di ruang kerjanya dan menutup pintu dengan keras.


Brak


Sedangkan Mario ia merasa frustasi dan mengusap kasar wajahnya mungkin kah dia sudah keterlaluan menuduh Mentari yang tidak-tidak.


"Ada apa dengan Ku ? Apa Aku cemburu ?" Mario merasa gamang jujur saja ia tak suka dan tak terima jika Mentari dekat dengan pria lain. Mungkin kah tanpa sadar Mario sudah jatuh cinta pada Mentari hingga Mario tak ingin miliknya di miliki oleh pria lain.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2