
"Rasakan ini !" Safira tertawa saat menggunting rambut panjang Mentari, ia begitu geram dengan Mentari sampai ia memberikan pelajaran pada Mentari dengan menggunting rambut indah Mentari.
Mentari menangis kala dirinya tak bisa berbuat apa-apa sebab tubuhnya di ikat dan tak bisa melawan apa yang dilakukan Safira pada rambutnya.
"Safira !"
Suara menggelegar Bara mengagetkan Safira dan Cika, Safira bahkan menjatuhkan gunting di tangannya.
"Ba.. Bara !" suara Safira tercekat ia tak menyangka Bara akan melihat dirinya mengerjai Mentari.
Bela dengan cepat membuka ikatan di tubuh Mentari. "Apa Kau baik-baik saja ?" Bela merasa iba dan kasihan dengan kondisi Mentari saat ini.
Plak
Bara menampar wajah Safira saking marah dan benci setelah melihat kelakuan Safira pada Mentari.
Tiba-tiba datanglah empat orang berpakaian serba hitam mengamankan Mentari, Mentari syok dan tak sadarkan diri.
"Ka.. Kalian siapa ?" tanya Cika cepat
__ADS_1
"Kau dan teman Mu akan tahu nanti !" jawab salah satu pria yang berbadan tegap tersebut pada Cika dengan melayangkan tatapan tajam padanya.
Safira yang masih memegangi pipinya setelah di tampar oleh Bara, tiba-tiba tubuhnya di bawa oleh dua orang yang berpakaian serba hitam tersebut begitu pula dengan Cika karena Cika ikut andil dalam membantu Safira.
"Lepaskan Aku hei ! Siapa kalian hah !" teriak Safira dan Cika.
Bara dan Bela mengikuti kemana perginya mobil yang membawa Mentari, ternyata Mentari di bawa ke rumah sakit.
"Mereka itu siapa ?" tanya Bara cepat saat ia tengah menunggu Mentari di luar ruang UGD bersama Bela.
"Apa Kau tidak tahu siapa Mentari ?" tanya Bela pelan.
"Bagaimana keadaan istri Ku !" tanya Mario cepat pada Dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Istri Anda hanya syok, istri dan calon bayi Anda baik-baik saja, Tuan !" terang sang Dokter tersebut pada Mario.
Istri ? Calon Bayi ? Bara terdiam mendengarnya mungkin kah yang dimaksudkan istri oleh pria yang ada di hadapannya kini adalah Mentari.
Mario yang masih merasa khawatir ia pun masuk ke dalam ruang UGD dan melihat keadaan Mentari yang kini masih tertidur.
__ADS_1
Bara dan Bela pun ikut masuk, dan benar apa yang Bara lihat pria tersebut tengah berada di samping ranjang Mentari dan memegang tangan Mentari dengan lembut.
"Anda siapa ?" tanya Bara pelan
Mario yang merasa di tanya ia pun menoleh ke arah Bara dan menatap datar pria tersebut.
"Aku Mario, suami Mentari !" jawab Mario dengan tegas.
Duar
Bagaikan disambar petir tengah hari bolong Bara seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar dari pria yang mengaku sebagai suami Mentari. "Suami ?" pekik Bara
"Iya, Aku suaminya dan Mentari istri Ku tengah mengandung buah cinta kami !" terang Mario, kali ini ia sudah bertemu langsung dengan Bara lebih baik dia jelaskan saja siapa dirinya dan hubungannya dengan Mentari, dari pada istrinya terus di taksir dan dikejar-kejar oleh Bara.
Hati Bara seolah ditikam ribuan jarum ia tak menyangka jika Mentari sudah menikah dan kini tengah hamil. Bahkan pria yang menjadi suami Mentari tersebut jauh lebih dari segala-galanya di bandingkan dengan dirinya. Tampan, dewasa, dan mapan begitu berbanding terbalik dengan Bara, yang baru belajar menghidupi diri sendiri dan mengumpulkan uang.
"Selama ini Aku tahu Kau selalu mendekati istri Ku ! Tapi Aku percaya padanya karena istri Ku orang yang setia, tapi kali ini perlu ku tegaskan pada Mu. Jauhi istri Ku ! Paham !" ucap Mario menatap tajam Bara.
...****************...
__ADS_1