GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
ENTAHLAH


__ADS_3

“Selamat Tuan, semua ini karena sumpah Mbah Mijan, jika saja Dukun itu tidak mengucapkan sumpah serapahnya mungkin Tuan tidak akan menikah dengan Nyonya Mentari dari desa suka cinta !” ucap Harry panjang lebar.


“Kau mau mati ya ?” Mario tersenyum smirk pada Harry hingga Harry mati kutu.


“Jangan tuan, saya masih perjaka dan masih ingin menikah nanti serta merasakan malam pertama.” Jawab Harry cepat.


Mantari yang mendengarnya tertawa lepas, pasalnya jika di amati Mario dan Harry sangatlah cocok. Satu dingin dan arogan yang satunya mencair dan kocak.


“Hahahah.”


“Kenapa sekarang kau jadi kebelet kawin ?” sentak Mario


“Ini semua gara-gara link yang tidak tahu datangnya dari mana, begitu saya klik tiba-tiba muncul video yang begituan, saya jadi kepengen cepet-cepet kawin biar bisa memperaktekkannya secara langsung !” jawab Harry apa adanya.


“Apa otak Mu bergeser ?” Mario semakin heran dengan Harry yang tiba-tiba berubah drastis.


“Sepertinya tidak, Tuan.”


Mentari hanya bisa terkekeh mendengar Mario dan Harry berbicara.

__ADS_1


“Ya, sudah kalau begitu cari dulu jodohnya. Nanti kalau mau menikah jangan lupa untuk mengundang.” Cicit Mentari


“Tentu saja Nyonya, kalian berdua harus menjadi saksi diacara pernikahan Saya nanti !” jawab Harry cepat, entah mengapa dirinya semakin kebelet kawin.


... …………....


“Kaki ku pegal sekali !” keluh Mentari semakin malam ternyata para tamu undangan yang datang semakin banyak.


“Kita kembali saja ke kamar.” Ajak Mario ia pun juga sudah lelah dan butuh beristirahat.


“Tidak enak dengan orang tua kita.” Lirih Mentari


“Bilang saja kalau kau sudah lelah.” Mario pun mengajak Mentari turun dari atas pelaminan menemui kedua orang tua dan mertuanya.


“Iya, tidak apa-apa kalian memang sudah seharusnya beristirahat. Biar nanti Mommy dan Daddy yang mengurus sisa tamu yang datang !” jawab Helena yang merasa kasihan dengan anak dan menantunya.


“Alon-alon ya Mario, putri Ku masih ting-ting !” ucap Sarif berbisik pada menantunya.


“Abah tenang saja.” Balas Mario setengah berbisik pula.

__ADS_1


“Mentari, kamu jangan menunda kehamilan ya. Tidak baik menunda sesuatu yang baik.” Ucap Jamilah pada putrinya, ia menasehati putrinya itu untuk tidak menunda untuk hamil. Bukan Jamilah ingin cepat menimang cucu hanya saja ia khawatir dengan kesehatan putrinya jika sampai menggunakan KB.


“Iy..iya Umi.”Mentari hanya bisa mengiyakan, Mentari pun menjadi bingung dengan dirinya sendiri.


... ………...


“Hamil tidak ? Hamil tidak ?” Mentari memukul kepalanya pelan saat ia tengah berada di kamar mandi dan selesai mandi.


“Kalau aku hamil sekarang ? berarti aku akan seperti Umi, hamil diusai delapan belas tahun, anak sudah dewasa tapi ibunya masih muda.” Mentari tampak memikirkannya, ia pun kemudian tercengir kuda.


“Ya sudahlah, kalau hamil Alhamdulillah kalau belum ya mungkin belum rezekinya !” Mentari pun mantap dengan keputusannya. Ia lalu mengeluarkan lingerie yang diberikan oleh Ibu Mertuanya untuknya.


“Ckckck, Ibu Mertuanya nampaknya sangat ahli dalam hal seperti ini.”


Ternyata Helena tidak hanya memberikan Mentari satu lingerie melainkan ada tiga macam bentuk dan warna.


“Sepertinya aku mau jadi anak sekolah lagi. Mentari pun memakai lingerie yang bermodel pakaian sekolah.


“Apa aku harus mengikat rambut Ku ?” Mentari pun menguncir rambutnya menjadi kuncir kuda dan berdandan sangat cantik dan manis.

__ADS_1


“Selesai, saatnya kita melakukan pertunjukkan !”


... …………....


__ADS_2