
“Ada undangan Tuan.” Harry meletakkan kartu undangan di meja kerja Mario dimana ruang kerja Mario kini sudah pindah ke ruang Presiden Direktur, sebab ia sudah resmi menggantikan posisi Scherzinger, Daddy nya.
“Bedebah ini benar-benar !” Mario melemparkan kartu undangan pernikahan sepupunya ke kotak sampah, siapa lagi kalau bukan David.
“Jangan terima apapun yang berhubungan David mulai saat ini !” titah Mario ia begitu marah dan kecewa dengan sepupunya tersebut, bahkan ia tak ingin menganggap David sebagai sepupunya lagi.
“Baik Tuan !” Harry pun pergi meninggalkan ruangan Mario.
Tak lama ponsel Mario berdering yang ternyata Mentari yang menelponnya.
“Ada apa, Cahaya Mentari ?” ucap Mario pelan.
“Bisakah Mas berhenti memanggil ku Cahaya Mentari, Aku istri Mu Mas. Romantis sedikit lah dengan istri sendiri !” omel Mentari
Sudah sepuluh hari Mentari dan Mario menikah namun tak ada perubahan dalam hubungan pernikahan mereka. Dirumah mereka seperti layaknya teman saling curhat saat sedang berdua, tidak seperti pasangan suami istri yang normal lainnya. Jangankan untuk beromantis berdua, terkadang mereka berdua lebih terkesan cuek dan acuh.
“Mau dipanggil apa ?” tanya Mario, sejauh ini ia hanya menganggap Mentari seperti teman, karena tidak mudah baginya menumbuhkan rasa cinta yang baru dihatinya setelah dikhianati oleh Melisa.
“Pikirlah sendiri !”
Mario menghela nafasnya “Baiklah, Ayank apa mau Mu ?” ucap Mario dengan lembut
Mendengar dirinya dipanggil Ayank, Mentari menjadi senyum-senyum sendiri. Ia bahkan melupakan maksudnya menghubungi Mario.
“Halo, Ayank ?”
__ADS_1
“Ah, iya !” jawab Mentari.
“Ada apa, hem ?” tanya Mario.
“Ah, tidak jadi Mas. Ya sudah dulu, ya !” Mentari pun menutup panggilannya.
Mario menatap ponselnya dengan heran karena tingkah laku Mentari barusan. “Dasar istri aneh !” Mario lalu meletakkan ponselnya atas meja kerjanya sedangkan ia melanjutkan pekerjaannya kembali.
... ……….....
Mario pulang ke rumah dengan sedikit lesu karena lelah, ia pulang ke rumah dan masuk ke dalam kamarnya pada pukul delapan malam. Ada banyak pekerjaan yang harus ia urus dan ia selesaikan hari ini.
Sesampainya ia di dalam kamar, ia langsung merebahkan dirinya atas tempat tidur, tanpa mengganti pakaiannya. Ia mencoba memejamkan matanya saat matanya terpejam tiba-tiba ia merasakan sesuatu dibawah tubuhnya.
Mario mengerang saat merasakan Burio nya tengah di elus-elus, Mario kemudian tersadar dan membuka matanya ternyata Mentari yang melakukannya.
“Ayank !” Mentari menyuruh Mario meralat panggilannya.
“Ah, maksud Ku begitu !” Mario menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Apa Mas lelah ? Aku sudah menyiapkan air hangat untuk mandi.” Ucap Mentari kemudian.
“Iya, terimakasih !” jawab Mario dengan tersenyum.
“Sama-sama !” Mentari masukkan jas Mario ke keranjang baju kotor sedangkan Mario ia berjalan mendekat ke arah Mentari dan memeluk Mentari di belakang.
__ADS_1
“Kenapa ? Kangen ya ?” ledek Mentari saat merasakan tubuhnya di peluk oleh Mario.
Mentari pun membalikkan tubuhnya menghadap Mario. Ia menatap wajah tampan Mario.
“Aku memang ganteng, jadi jadi di lihat terus seperti itu !” ucap Mario dengan percaya diri.
“Percaya diri sekali !” sangkal Mentari
“Kau membangkitkan Burio Ku !” bisik Mario ditelinga Mentari hingga membuat tubuh Mentari meremang.
“Hanya mengetes Mas !” cicit Mentari
“Kau pikir dia apa Yank ? pakai acara di test !” gerutu Mario
“Ya, kali dia tidak hidup lagi !” balas Mentari terkekeh.
“Kau meragukan Burio Ku, Yank !” Mario pun mengangkat tubuh kecil Mentari dan melemparkannya diatas ranjang.
“Mas !” Pekik Mentari saat tubuhnya sudah di ranjang.
“Kita main sekarang saja, Yank ! Bukan kah Kau sudah selesai datang bulannya !” tanya Mario ia sudah melepaskan kemeja yang ia kenakan dan kini ia bertelanjang dada di hadapan Mentari.
“Tapi pelan-pelan ya !” tawar Mentari ia menelan kasar silvanya saat tahu malam ini ia ternyata akan dimangsa oleh suaminya.
“Siap Bos !”
__ADS_1
... ………….....