GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
PULANG


__ADS_3

"Mentari tidak mau pulang ke desa, Abah !" bantahnya ia tak tak mau berpisah dengan suaminya apalagi saat ini Mentari tengah hamil dan tak mau jauh-jauh dari suaminya.


"Lagi pula Mentari masih mau kuliah ! Apalagi Mentari lagi hamil, kalau Mentari pengen di peluk Mas Mario bagaimana ? Apa Abah tega memisahkan suami Ku dari calon anaknya ?" cecar Mentari, kalau ia sudah berbicara panjang lebar pasti Abahnya tidak akan membawanya pulang ke desa.


"Bah, jangan terlalu memaksakan Mentari, dia berhak memilih." ucap Jamilah


"Aku janji Abah, kedepannya hal seperti ini tidak akan terulang lagi. Tolong beri Aku kesempatan. " ucap Mario penuh tatapan permohonan.


"Aku sangat mencintai suami Ku, Abah. Masa Abah tega menjauhkan Aku dengan suami Ku." Mentari memasang muka sedih ia pun mendadak langsung menangis seperti anak kecil hingga membuat Sarif menjadi dilema.


"Jangan nangis Yank, nanti kacang ijo kita ikutan nangis !" Mario memeluk Mentari


"Tuh lihat, Abah. Gara-gara Abah, Mentari jadi sedih begitu !" Jamilah memberikan ultimatum pada Sarif hingga Sarif merasa aneh sebab yang salah disini bukan dia melainkan menantunya.


"Hu.. Hu.. Hu.." Mentari terus menangis hingga membuat Sarif jadi serba salah.


"Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Mentari dan calon cucu kita, Abah ? Abah tidak akan Umi maaf kan !" Jamilah menatap tajam Sarif hingga membuat Sarif terpojok.


"Sebenarnya yang salah disini siapa ?" ucap Sarif dalam hati.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu jangan nangis lagi ya Ndok. Abah tidak jadi membawa Mu ke Desa." ucap Sarif dengan pelan.


Seketika Mentari menjadi diam dan tersenyum senang karena ternyata Abahnya tak jadi membawanya ke desa.


"Beneran, Abah ?"


"Iya, asal Kamu selalu bahagia bersama suami Mu. " jawab Sarif


"Makasih Abah ! Sayang... Abah !" Mentari memeluk Sarif hingga kemudian ia mengedipkan satu matanya pada Umi nya karena sebenarnya Mentari hanya berakting dan beruntungnya Jamilah pengertian dan tentu saja Jamilah mendukung putrinya.


Mario yang menyadari jika apa yang dilakukan oleh istri dan Ibu Mertuanya itu adalah sebuah akting ia pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Abah dan Umi mengapa tidak menginap saja ?" tanya Mario saat ia dan Mentari mengantarkan Abah dan Uminya sampai di pintu utama karena kedua mertuanya itu kekeh ingin pulang ke desa malam itu juga.


"Iya, Abah, Umi. Hari sudah jam delapan malam, apa tidak kemalaman tiba di desa nanti ?" Mentari pun ikut bersuara.


"Tidak apa-apa, Abah ada pekerjaan besok pagi." tolak Sarif ia pun memeluk Mentari sebentar kemudian Mario meraih tangannya dan menciumnya.


"Soal teman Mu yang melakukan pembullyan itu bagaimana ?" tanya Sarif setelah melepaskan pelukannya pada Mentari.

__ADS_1


"Dua temannya sudah ku serahkan ke polisi, Abah ! Abah tidak perlu khawatir, Aku tidak akan mencabut laporannya, supaya mereka berdua merasakan hukuman atas perbuatannya !" jawab Mario dengan tegas.


"Bagus, Abah juga tidak terima putri Abah yang cantik ini di menjadi korban mereka berdua. Besok potong rambut Mu, ya Ndok biar cantik lagi." Sarif kembali memeluk Mentari dan mengecup pucuk kepalanya.


"Iya Abah. " jawab Mentari pelan


"Tenang saja Abah, besok pagi Aku akan membawanya ke salon paling mahal dan profesional supaya rambut istri Ku kembali cantik lagi !" sahut Mario


"Bagus ! Habiskan saja uang suami Mu, Ndok ! Kalau dia kurang memberi kan Mu uang, bilang sama Abah nanti Abah transfer !" jawab Sarif tak mau kalah dengan menantunya dan Mario mengerucutkan bibirnya setelah mendengar ucapan Ayah Mertuanya tersebut.


Begitu pula dengan Jamilah ia pun memeluk Mentari dengan penuh kasih sayang.


"Padahal Aku masih kangen loh, Umi !" celetuk Mentari.


"Abah Mu pengen ngajak Umi honey moon nginep di hotel mahal malam ini, ya Umi sih nurut saja, kan sayang kalau ditolak !" jawab Jamilah dengan berbisik di telinga Mentari hingga Mentari berubah ekspresi menjadi terheran.


"Astaga, Abah Umi !"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2