Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Apa salahku?


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Nicholas, Ma?" Tanya Jhonson.


Kelly menggelengkan kepalanya. Matanya sudah sembap akibat semalaman menangis.


Tuan Jhonson berjalan mendekati istrinya, dan ikut duduk di atas ranjang berwarna putih polos itu.


"Tidak apa-apa. Dia adalah anak yang kuat. Dia akan baik-baik saja." Ucap Jhonson menenangkan Kelly.


Kelly menahan air mata yang sejak tadi dibendungnya.


"Menangis lah! jika itu membuatmu sedikit tenang." Jhonson merangkul tubuh Kelly.


"Aku takut kehilangannya. Aku takut."


"Tenang, sayang! dia akan baik saja. Percayalah padaku!" Nicholas mencium kening Kelly.


Sejak semalam sampai pagi ini Nicholas masih terpejam. Sepertinya obat penenang yang diberikan dokter Frans masih bereaksi. Dia bahkan tidak bangun saat Kelly menangis sesenggukan di sampingnya.


Meskipun Kelly tahu jika Nicholas terlelap karena obat penenang. Tetap saja dia sangat takut terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan. Dia sangat takut kehilangan Nicholas. Anak angkat yang lebih berharga nilainya dibandingkan semua hartanya.


----***---***---


"Nat, sendirian lagi? Nicholas mana?" Eliza mengejutkan Natalie yang baru saja turun dari taksi.


Tak ada jawaban. Natalie hanya membalas senyuman untuk Eliza lantas membayar biaya perjalanan taksinya.


"Kembaliannya ambil saja, Pak!" Ucap Natalie lantas menganggukkan kepalanya, seperti membalas ucapan supir taksi itu.


"Nat, Nicholas mana? kok gak pernah berangkat bareng?"


Lagi-lagi Eliza menanyakan hal yang membuat Natalie bingung harus menjawab apa.


"Dia sedang ada urusan di luar kantor, Liza. Jadi tidak bisa berangkat bareng aku."


Hanya itu yang bisa Natalie jawab untuk membuat Eliza bungkam.


Keduanya berjalan masuk ke dalam perusahaan.


"Oh .. Aku cuma heran aja gak pernah liat kalian berangkat berdua lagi setelah menikah. Padahal dulu waktu pacaran kayak perangko, lengket banget. Hubungan pernikahan kalian baik-baik aja kan?"


Natalie menghentikan langkahnya dan hampir saja membuat tubuh Eliza dan dirinya bertabrakan.


"Eh, Nat. Kenapa berhenti?" Eliza membelalakkan matanya.


Natalie terdiam.


"Nat, kamu gpp kan?"


Andai saja Eliza tahu, tidak ada yang baik-baik saja pada Natalie saat ini. Tapi tak ada yang perlu ia ceritakan pada Eliza. Ini adalah masalah rumah tangganya. Natalie tak mau orang lain tahu.


"Aku nggak kenapa-kenapa kok." Jawabnya dengan senyuman lalu kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan milik suaminya itu.


"Selamat pagi, Bu Natalie." Sapa seorang penjaga keamanan yang tak sengaja berpapasan.


Natalie kembali hanya menjawabnya dengan senyuman. Senyuman yang selalu membuat siapapun terpukau.


"Pak Nicholas beruntung banget ya, punya istri se cantik dan se ramah Bu Natalie. Huh, iri aku padanya." Ucap penjaga kemanan pada rekan kerjanya.


"Husstt! iri sama atasan. Ngaca dulu! situ siapa?"


"Yahhhh, namanya juga ngayal. Siapa tau aja nanti calon istri gue secantik Bu Natalie."


"Ngawur!" Sarkas rekan kerjanya itu lantas pergi meninggalkan penjaga keamanan yang sedang menghayal itu.


"Eh, eh tunggu!"


Sementara kedua orang itu sibuk berkejar-kejaran setelah membicarakan wanita cantik di perusahaan itu. Seorang laki-laki tampan di perusahaan itu ternyata sejak tadi menguping pembicaraan keduanya.


"Iya. Siapapun yang memiliki Natalie memang sangat beruntung." cicitnya lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Laki-laki itu adalah Kevin Andreas. Pemuja rahasia Natalie.


Suasana perusahaan hari ini terlihat sedikit semrawut. Banyak karyawan yang mondar-mandir seperti mengejar sesuatu. Tak sedikit juga yang sibuk menerima telepon dari luar sana.

__ADS_1


"*Hallo selamat pagi. Iya Pak iya. Nanti saya sampaikan. Sekali lagi kami mohon maaf ya, Pak."


"Iya, Pak. Saya faham. Tapi Bos saya belum masuk, jadi saya belum bisa ACC permintaan Bapak. Mohon bersabar yah*!"


Suasana semakin riuh, saat seorang OB tak sengaja menumpahkan kopi ke dokumen salah satu karyawan.


"Astaga! bisa kerja gak sih sebenarnya kamu?" bentakan itu terdengar sangat nyaring. Semua karyawan di ruangan itu serentak menghentikan aktifitasnya, menatap Miley, karyawan paling seksi di perusahaan itu sedang memaki seorang OB yang usianya berkisar 45 tahun. Natalie yakin bapak itu pasti sangat terkejut. Karena beberapa detik kemudian air mata terlihat jelas berlinang dibalik matanya. Belum lagi Miley terus mencaci maki OB itu.


"Kalo udah gak kuat kerja ya resign! jangan maksain kaya gini. Kamu gak tahu kan berapa harga kemejaku ini? gaji mu satu bulan saja tidak akan mampu menggantinya. Ngerti?"


Natalie yang melihat kejadian itu dengan sangat jelas langsung berjalan mendekati keduanya. Miley sudah sangat keterlaluan.


"Miley, maafkan dia! dia pasti tidak sengaja."


Miley menatap Natalie tidak suka. Apa-apaan wanita ini. Dia selalu saja cari muka dimana-mana. Setelah berhasil cari muka di depan CEO pemilik perusahaan ini sampai menggaetnya menjadi suami, sekarang sampai ke OB pun dia masih cari muka juga. Belum cukup apa Nicholas untuknya? pikir wanita bernama Miley itu.


"Pak, lebih berhati-hati lagi ya kerjanya!"


OB itu menatap Natalie dengan tatapan Nanar. Setetes air matanya jatuh.


"Terimakasih, Bu. Terimakasih. Saya akan lebih berhati-hati lagi kedepannya." Ucapnya begitu tulus. "Anda sangat baik. Tuan Nicholas tidak salah memilih anda sebagai istrinya."


Natalie terdiam. Lagi-lagi hari ini orang-orang selalu membuatnya mengingat laki-laki yang saat ini saja tidak tahu dimana keberadaannya.


Natalie hanya membalas ucapan OB itu dengan senyuman saat OB itu menunduk sopan dan akhirnya pergi dari ruangan itu.


Natalie kembali duduk ke meja kerjanya setelah OB itu pergi, meskipun Miley masih menatapnya dengan tatapan sinis.


"Lebay." gumam Miley.


"Hari ini Pak Nicholas gak masuk lagi. Huftttt ... mau laporan aja susahnya minta ampun. Giliran laporan telat gua yang di maki-maki. Dasar Bos, maunya menang sendiri."


Seorang karyawan baru saja duduk tepat di samping Natalie. Dia menggerutu pada sahabatnya karena sang Bos tak kunjung datang.


"Untung ganteng. Kalau nggak udah gue santet tuh orang."


Wanita itu terus menggerutu, tanpa dia sadari bahwa meja sahabatnya itu bersebalahan dengan istri dari orang yang ingin dia santet itu.


"Kenapa gak bilang dari tadi sih? mati gue." Karyawan itu gemetaran hebat saat melihat mata Natalie ternyata benar-benar tertuju padanya.


"Gimana gue mau bilang, kalo dari tadi lu nyerocos terus. Balik deh sana lu. Gue gak mau cari gara-gara."


Karyawan itu segera pergi dengan langkah yang tergesa-gesa, membuat Natalie sedikit geli dibuatnya. Sebenernya Natalie tidak marah jika ada yang membicarakan Nicholas jika itu masalah pekerjaan. Lagipula benar yang dikatakan karyawan itu, Nicholas pemimpin harusnya lebih bertanggung jawab pada perusahaan itu. Minimal memberi kabar pada bawahannya jika memang tidak bisa masuk. Supaya tidak menyebabkan masalah rumit seperti sekarang di kantor.


Hufttt,


Natalie menghembuskan nafasnya kasar. Istri CEO macam apa dia saat ini? seharusnya saat ini dia bisa membantu mengambil alih perusahaan jika suaminya itu memang sedang sangat sibuk. Tapi pada kenyataannya, mengetahui keberadaan suaminya saja dia tidak tahu. Lagipula jabatannya yang hanya sebagai asisten bagian administrasi saat ini, tidak bisa membuatnya banyak berkutik.


Sekilas terlintas untuk menanyakan kabar suaminya yang sudah beberapa hari ini tidak kembali ke rumah.


Natalie meraih ponselnya. Ada beberapa pesan masuk. Dia menyusuri satu persatu, namun tak ada satupun pesan dari laki-laki yang sangat dikhawatirkannya itu.


Akhirnya karena benar-benar khawatir, Natalie memberanikan diri untuk mengirim sebuah pesan.


Natalie : Apa kau baik-baik saja?


Send to Nicholas


Beberapa menit berlalu, tak ada jawaban juga. Bahkan Nicholas belum membaca isi pesan itu, karena centang belum berubah warna biru. Natalie akhirnya beralih mengerjakan pekerjaannya sambil menanti jawaban pesan dari seseorang yang dikhawatirkannya.


Hari ini pekerjaan sangat menumpuk. Dia bahkan tak sempat makan siang kalau bukan Kevin yang membelikannya di tempat langganannya.


"Makan dulu! nanti kau sakit." ucap Kevin menyerahkan goodiebag coklat berisi roti dan segelas Matcha hangat.


Natalie menatap Kevin sesaat. Tentu dia sangat senang karena Kevin mengerti perutnya yang sudah memberontak. Namun, baru saja dia hendak meraih makanan itu, tiba-tiba dia teringat ucapan Nicholas untuk menjauhi laki-laki dihadapannya ini.


"Jauhi dia atau aku yang akan memaksa kalian jauh untuk selamanya!"


Natalie menarik kembali tangannya. "Apa aku jangan menerima pemberian ini darinya?" gumam Natalie menatap roti yang wanginya sudah menyeruak ke kerongkongan Natalie. "Tapi aku lapar sekali." Natalie menundukkan kepalanya, melihat perutnya yang berkali-kali berbunyi.


"Cepat makan! sebelum cacing di perutmu membakar ban disana." Sindir Kevin sambil menaruh jas hitamnya di kursi.

__ADS_1


"Apaan sih? gak lucu." Natalie mengerucutkan bibirnya."Gak boleh. Aku gak boleh terlalu dekat dengan Kevin. Aku harus mulai menjauhinya agar cepat terbiasa, dan dia tidak terlalu curiga padaku." Cicit Natalie dalam hatinya.


Jari-jari Kevin yang semula lincah berselancar di atas papan ketik, kini terhenti. Dia menatap wanita disampingnya, karena sejak tadi makanan yang dibawakannya belum di sentuh.


"Apa dia benar-benar tidak mau makan makanan dariku?" Kevin bertanya-tanya. Tapi kenapa? dan sejak kapan wanita ini pilah pilih dalam hal makanan. Setau Kevin, Natalie adalah wanita yang selalu menghargai makanan apapun yang dibelikannya.


"Apa dia tidak mau lagi menerima makanan dariku?"


---***---***---


Hari ini semua karyawan bekerja dengan ekstra karena banyak problem yang terjadi di perusahaan. Beruntung karena team work bekerja dengan sangat kompak, semua masalah bisa teratasi dan kini semuanya kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Natalie, dia sudah dalam perjalanan pulang dengan taksi. Meskipun Kevin sempat menawarkan tumpangan gratis untuknya, tapi Natalie menolaknya, karena dia harus mematuhi perintah suaminya, Nicholas.


Natalie turun dari mobil taksi online yang dipesannya.


"Kembaliannya ambil saja, Pak!"


Setelah membalas senyuman dari driver wanita itu, Natalie beranjak masuk dan membuka gerbang rumahnya, rumah suaminya tepatnya.


Natalie kembali murung. Dia tidak begitu menyukai suasana malam. Kalau boleh meminta ia ingin sekali hari-hari selamanya selalu siang, tanpa ada malam.


Disaat malam seperti ini Natalie selalu merasa kesepian, karena di rumah seluas ini dia hanya tinggal sendiri. Menyendiri. Tak ada gelak tawa dari para penghuni rumah itu, atau minimal ada suara langkah kaki manusia yang bisa membuatnya tidak terlalu sunyi. Bahkan seorang asisten rumah tangga yang sekedar membersihkan rumah itu saja tidak ada. Bukan, bukan karena Natalie ingin santai dan berleha-leha sepulang kerja. Natalie hanya ingin memiliki teman yang bisa diajaknya berbagai cerita tentang hari ini. Karena suaminya Nicholas memang sangat sibuk, bahkan sekedar hanya untuk mengajaknya makan malam bersama saja rasanya itu hanya mimpi.


"Sudahlah! jalani saja apa yang ada." Gumam Natalie sambil membuka pintu gerbang.


"Selamat malam, Bu Natalie. Biar saya yang buka pintunya."


"Reynald." Cicit Natalie . Dia terlihat begitu bahagia melihat siapa yang kini dihadapannya. Reynald.


"Kalau Reynald ada di rumah. Berarti dia juga sudah pulang." Batin Natalie lalu melangkahkan kaki masuk menyusuri halaman luas itu.


"Terimakasih, Reynald." Ucapnya bahagia lalu segera berlari kecil mencari seseorang yang sangat dirindukannya. Malam ini Natalie takkan merasakan kesepian lagi, batinnya.


Dengan senyum yang tak luntur, dia langsung masuk ke kamar utama rumah itu.


Pintu terbuka sedikit. Dugaannya benar. Nicholas sudah datang. Dia sedang berdiri dengan memasukkan tangan kedua kantong celananya, menghadap balkon kamar yang menjadi tempat terbaik untuk bisa melihat pemandangan indah.


"Nicholas. Kamu sudah pulang? aku sangat merindukanmu." Cicit Natalie yang berhasil membuat laki-laki itu membalikkan badannya.


Tapi tidak seperti harapan wanita itu. Nicholas hanya menatapnya sekilas lalu kembali membalikkan badannya kembali.


"Kenapa dia nampaknya biasa saja saat bertemu denganku? apa dia tidak merindukanku juga?" Batin Natalie.


Nicholas memegang kepalanya. Rasa sakit itu kembali datang.


Melihat suaminya kesakitan, Natalie segera melempar tas dan ponselnya ke kasur lalu segera berlari mendekat ke arah suaminya.


"Nic, kamu gpp?" Natalie memegang kedua tangan Nicholas yang mencengkram rambutnya. Namun diluar dugaan Natalie, Nicholas malah menepis tangannya begitu kasar.


"LEPAS! JANGAN MENYENTUH KU!" Pekik Nicholas dengan mata yang memerah.


Natalie benar-benar tidak percaya. Ada apa dengan Nicholas? kenapa dia membentaknya? apa yang salah dengannya, batinnya.


Arghhhh, Nicholas kembali mengerang menahan sakitnya. Berusaha mengambil ponsel namun benda persegi itu malah terjatuh. Refleks Natalie mengambilkannya, karena dia melihat Nicholas sangat kesakitan.


Prakk, Nicholas menendang ponsel saat Natalie berusaha mengambilnya.


"SUDAH KU BILANG, JANGAN MENYENTUH KU DAN SEMUA BARANG-BARANG KU! MENGERTI KAMU."


Kali ini hati Natalie benar-benar teriris. Dia benar-benar tak pernah menyangka Nicholas akan melakukan ini padanya.


Dengan posisi masih dalam keadaan membungkuk dan tangan yang menjuntai, Natalie menatap penuh ketidakpercayaan wajah suaminya yang sudah merah padam itu.


"Ada apa denganmu, Nic? kenapa kau terlihat seperti monster malam ini?" cicit Natalie dalam hatinya.


Natalie menitikkan air matanya. Namun bukannya merasa iba, Nicholas malah menarik dagu Natalie kasar, membuat Natalie makin mendongakkan wajahnya.


"Jangan menatap ku seperti kau tidak suka. Ingat! aku adalah suami mu. Dan kau harus mengikuti semua peraturan ku di rumah ini. Mulai detik ini aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah menyentuhku atau barang-barang pribadi milikku, tanpa persetujuan ku. Mengerti?" Ucap Nicholas penuh penekanan. Lantas dia melepaskan wajah Natalie kasar lalu mengambil ponselnya yang dia tendang tadi. Berjalan dan meninggalkan Natalie yang kini sudah banjir dengan air mata.


Remuk. Sakit. Hati Natalie benar-benar hancur. Apa ini sifat Nicholas selama ini yang disembunyikan darinya. Natalie memegangi dadanya yang sesak. Kenapa Nicholas berubah secepat ini, pikirnya.


"Reynald. Siapkan mobil! aku ingin pergi dari rumah ini." Ucap Nicholas seraya menutup pintu sambil membanting nya kasar. Membuat Natalie menutup matanya karena benar-benar terkejut.

__ADS_1


"Apa salahku, Nicholas?"


__ADS_2