Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Siapa wanita itu?


__ADS_3

Telepon Jenifer berdering. Nama wanita yang menjadi rekan bisnisnya dalam menghancurkan keluarga Natalie tertera di sana. Rasa malas menghantam pikiran Jennifer. Wanita itu pasti akan memaki dirinya karena dia pasti sudah mengetahui kabar terbaru tentang Natalie dan Nicholas. Tapi kalau tidak diangkat, dia malah akan menjadi-jadi dan bisa saja menarik beberapa fasilitas yang ia berikan.


"Halo." Akhirnya Jennifer pun mengangkatnya, meskipun dengan nada malas.


"Lama sekali kau mengangkatnya?" tanya wanita itu pada Jennifer.


"Sudah cepat katakan saja! kau pasti akan marah kan kepadaku, karena gara-gara aku Natalie jadi mengetahui hubunganku dengan Nicholas."


Wanita topi fedora itu terdengar tertawa dibalik teleponnya, membuat Jennifer bingung. "Sebenarnya apa yang akan dibicarakan wanita itu padaku? kenapa dia terdengar sangat bahagia sekali?"


"kau terdengar sangat pasrah sekali padaku. Hanya segitu saja nyalimu? ckkk, ciut sekali," ledek wanita itu.


Jennifer sempat terdiam beberapa saat memikirkan, "jadi apa ingin kau katakan? ... kalau kau ingin marah padaku karena Natalie sudah mengetahui hubunganku dengan Nicholas, silahkan!"


"Ternyata kau bisa menebak juga pikiranku. Tapi tunggu dulu! aku tidak akan sepenuhnya marah kepadamu, karena ternyata apa yang kau lakukan juga menguntungkan ku."


"Maksudmu?" tanya Jennifer.


"Iya, maksudnya aku pikir setelah Natalie mengetahui hubunganmu dengan Nicholas, mereka akan segera bercerai, tapi ternyata tidak."


"Apa? jadi Natalie dan Nicholas tidak jadi bercerai?" Jennifer terkejut. Dia kira Natalie akan menggugat cerai Nicolas setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya. "Sial, kenapa mereka tidak jadi berpisah?" gumamnya dalam hati.


"Kenapa?" wanita itu menyadarkan Jennifer dari lamunannya. "Kau sepertinya sangat berharap sekali Nicholas dan Natalie bercerai?"


"Bu_bukan itu maksudku, aku hanya_"


"Ingat, Jennifer! tujuan utama kita adalah menghancurkan keluarga Natalie! kau jangan egois hanya memikirkan perasaanmu saja."


"Iya, aku minta maaf."


"Yasudah, mulai hari ini kau sudah bisa terang-terangan di depan Natalie."


"Hah, maksudmu?"


"Huhhh, dasar anak bodoh. Kubilang, mulai sekarang kau sudah bisa melakukan apapun bersama Nicholas di depan Natalie secara terang-terangan. Kalau mau peluk dia, kau mau cium dia di depan Natalie pun terserah. Toh wanita itu memang sudah mengetahui kan semuanya, jadi kenapa tidak sekalian saja kita buat dia semakin terluka."


Seperti mendapat durian runtuh, Jennifer baru kali ini ini merasakan wanita itu berada di pihaknya. Ini yang selama ini dia tunggu-tunggu, memiliki kebebasan melakukan apapun sesuka hatinya bersama Nicholas di depan orang lain, tanpa harus memikirkan perasaan wanita bernama Natalie.


"Oke, aku SETUJU!"


setelah pembicaraan itu berakhir Jennifer langsung melompat-lompat bahagia. "Yes!!! akhirnya."

__ADS_1


***


Nicholas tersadar dari tidurnya setelah dokter memberikannya obat penenang. perlahan dia membuka matanya. Dia merasakan ada sesuatu yang hangat di tangannya.


"Natalie," cicitnya dalam hati.


Rupanya semalaman suntuk Natalie duduk dan tidur disamping Nicholas, menjaganya sepanjang malam, sambil terus mengompres kepalanya yang memang semalaman demam.


Perlahan tangan Nicolas terangkat menyentuh adalah lembutnya rambut Natalie yang terjuntai ke bawah. "Kenapa kau masih saja melakukan ini padaku? padahal aku sudah sangat jahat sekali padamu."


Ada rasa sakit dalam dada Nicholas saat melihat Natalie seperti ini. Sejujurnya Dia tidak rela dan tidak ikhlas menjadikan Natalie sebagai alat untuk membalaskan dendam kepada Nadia. Tapi memang tidak ada cara lain lagi selain ini. Awalnya Nicholas merahasiakan semuanya agar dia bisa membalaskan dendam pada Nadia, namun tetap menjadikan Natalie sebagai istrinya. Tapi ternyata kenyataannya tidak semudah itu. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Iya, sama halnya dengan ini semua, sepandai-pandainya Nicholas menutupi semua rahasia ini nyatanya Natalie akhirnya mengetahuinya juga, dan mau tidak mau Nicholas memang harus memilih salah satu diantara pilihan beratnya.


"Mmppp," Natalie menggeliat tersadar setelah merasakan sesuatu menyentuh rambutnya. Tak ingin Natalie menyadari tangannya, Nicholas pun buru-buru menariknya.


"Jam berapa ini?" Natalie terkejut ketika melihat cahaya di luar jendela sudah mulai terang. "Gawat!" Dia baru ingat kalau hari ini dia ada janji bertemu dengan seseorang di sebuah perusahaan. Natalie tidak boleh terlambat ini adalah hari pertamanya dia bertemu dengan pengusaha itu.


Melihat Natalie begitu tergesa-gesa Nicholas menyipitkan matanya. "Mau kemana dia? kenapa buru-buru sekali? bukankah ini masih pagi."


Setelah selesai mandi dan mengganti bajunya di dalam kamar mandi, Natalie buru-buru menyisir dan memberikan sedikit polesan make up di wajahnya agar tidak terlalu pucat.


"Mau kemana kamu?"


"Kerja lah." Jawaban ketus akhirnya terlontar dari mulut Natalie. Dia malas sekali melayani pertanyaan dari laki-laki itu. "Oiya, maaf hari ini aku tidak bisa menemanimu sarapan. Aku buru-buru," lanjutnya seraya mengenakan high heels dan memperbaiki antingnya. "Kalau masih sakit tidak usah berangkat ke kantor dulu!"


"Tidak perlu pura-pura perhatian padaku, kalau hanya untuk sekedar menemani sarapan pagi saja kau tidak bisa."


Natalie mendelikkan matanya. "Apa kau bilang? aku pura-pura perhatian?" Geram rasanya mendengar Nicholas berkata seperti itu apa dia tidak sadar semalaman suntuk dia tidur di sampingnya hanya untuk mengganti kompresannya. Apa itu yang dia bilang pura-pura perhatian.


"Terserah." Natalie malas beradu argumen pagi-pagi sekali. "Aku pergi."


Melihat Natalie pergi pagi-pagi sekali, bukan Nicholas namanya kalau tidak menimbulkan kecurigaan. Dengan cepat dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang ia percaya.


"Ikuti dia!!" katanya pada Reynald. "Aku akan menyusul segera."


Nicholas kemudian menutup ponselnya dan segera bergegas masuk ke kamar mandi.


***


Prak prok prak prok


Suara dentuman keras antara hak dari high heels Natalie dengan lantai itu membuat beberapa orang menatapnya heran.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya seorang karyawan pada rekan di sampingnya.


"Entah," sahut rekannya.


"Permisi, saya mau bertemu dengan Pak Erick."


"Apa kamu sebelumnya sudah membuat janji dengannya?" tanya seorang receptionist padanya.


"Sudah," sahut Natalie.


"Yasudah, silahkan masuk ke lantai XX!"


"Terimakasih,"


"Tunggu!"


Tiba-tiba seorang wanita yang berpenampilan layaknya sekertaris menghentikan langkah Natalie.


"Kau bilang sudah membuat janji dengan Erick? kapan? kenapa aku tidak tahu?"


Natalie bergumam dalam hatinya, "Siapa wanita ini?"


"Ah, aku lupa mengenalkan diriku." Tangan wanita itu terjulur, "Aku sekertaris Kamila," Natalie menyambutnya, "Oiya, sebelum kau bertemu dengan Erick kau harus melewati persetujuanku terlebih dahulu, dan aku tidak mengizinkan kau bertemu dengannya karena kau belum mengatur jadwal dengan ku."


"Ah, maaf. Aku tidak tahu tentang itu," ucap Natalie. "Kalau begitu, bisa kita atur pertemuannya untuk hari ini?"


"Tidak bisa."


"Siapa yang melarangnya bertemu denganku?"


"Hah, Erick." Mata Kamila langsung membulat.


"Selamat siang, Pak!" Semua karyawan yang ada di sana membungkukkan badannya ketika melihat Erick datang. Iya, dia adalah big bisa di sana. Jadi wajar jika semua orang menghormatinya.


"Natalie, ayo ikut saya!" ajak Erick seraya berjalan masuk ke dalam lift, diikuti Natalie di belakangnya.


"Maaf, saya duluan!" ucap sopan Natalie pada Kamila yang dibalas dengan kekesalan Kamila.


"Sial, siapa wanita itu?"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2