Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Ucapan Nicholas


__ADS_3

"APA? kau akan menjadikan Nadia sebagai perawat ibumu?" pekik Kelly tak percaya. Kenapa bisa-bisanya Nicholas memasukkan Nadia ke dalam kehidupan pribadi mereka.


"Iya, Mama benar. Aku akan menjadikannya sebagai perawat Ibu ... aku ingin dia tahu kalau selama ini, orang yang sudah membantunya adalah anak dari wanita yang dulu ia hina. Anak yang dulu ia caci hingga membuatnya hampir mati." Mata Nicholas kembali berkaca-kaca. Mengingat memori kejadian masa silam itu bersama Nadia.


"Tapi, sayang. Nadia itu jahat. Mama cuma khawatir kalau dia akan menyakiti Ibumu."


"Jangan khawatir, Ma. Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Cukup selama ini dia membuatku menderita. Sekarang giliran dia yang merasakan semuanya."


"Tapi ...."


Ceklek


Suara pintu terbuka, Natalie datang dan masuk ke dalam kamar. Membuat Nicholas harus segera mengakhiri sambungan teleponnya.


"Yasudah, kalau begitu Nicho tutup dulu ya teleponnya, Ma. Mama selamat istirahat."


Tut .. Tut ..


Sambungan berakhir, tepat setelah Natalie duduk di sampingnya.


"Darimana saja kau?" tanya Nicholas.


Natalie terlihat murung. Mungkin karena masih terbayang kejadian tadi di rumah orangtuanya.


"Nic, boleh aku bertanya?" Suara Natalie terdengar kecil.


Nicholas mengangguk tanpa menatapnya.


"Sebenarnya pekerjaan apa yang kau tawarkan pada Ibuku?"


Nicholas yang semula sedang mengetik sebuah pesan, tiba-tiba menghentikannya seketika ketika mendengar pertanyaan Natalie.


"Maaf, bukan maksudku tidak percaya padamu. Tapi ... aku hanya penasaran saja. Kenapa bisa gaji seorang perawat bisa melebihi gajiku yang seorang pegawai kantoran." Natalie sedikit gemetar. Dia takut kalau pertanyaannya salah.


"Memang kenyataannya seperti itu. Kamu mau apa?" sahut Nicholas, lagi-lagi tanpa menoleh ke arah si penanya.


"Aku hanya penasaran saja. Sebenarnya ibu siapa yang sakit? dan sakit apa dia?"


Teg

__ADS_1


Aliran darah Nicholas terasa terhenti kala mengingat kembali wajah Ibunya yang mungkin kini tengah merasakan kesakitan. Pikiran Nicholas mendadak tak menentu.


"Tidurlah! kau tidak perlu bertanya sedetail itu." Nicholas menyimpan ponselnya dan menarik selimut hampir menutupi seluruh bagian tubuhnya.


"Bagaimana kalau aku saja yang menggantikan Ibuku untuk menjadi perawat itu?"


Mata Nicholas yang semula tak ingin menatap Natalie, kini benar-benar terbuka lebar. Ditatapnya Natalie dengan tatapan penuh kemarahan. Dia tak habis pikir, jika Natalie mempunyai pemikiran gila ini.


"Kau sudah gila? ... kau mau menjadi seorang perawat?" pekik Nicholas.


Natalie mengangguk, "Iya. Kalau kau tidak keberatan, aku meminta ijin untuk menggantikan posisi Ibuku."


"Tidak."


Sekali ucapan, Nicholas langsung menolak keinginan Natalie. "Kau tidak bisa menggantikan posisi ibumu. Kau harus tetap bekerja sebagai pegawai di perusahaan ku," ucapan Nicholas terjeda, dia kembali memperbaiki posisi tidurnya, "lagipula kau ini masih punya suami yang harus kau urus. Kau mau jadi istri durhaka karena melalaikan tugas dan tanggungjawab mu sepenuhnya."


Natalie terlihat memejamkan matanya sesaat. Entah kenapa, mendengar kata tugas dan tanggung jawab seorang istri, Natalie jadi begitu terluka. Selama pernikahan mereka, Nicholas tak pernah sekalipun menyentuhnya. Apa di juga sudah melakukan tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang suami.


"Bicara tentang tugas dan tanggungjawab ku sebagai seorang istri. Sepertinya Bibi Helena cukup bagimu. Bukankah kau hanya memerlukan ku saat makan saja?"


Teg


Seperti sebuah tamparan keras bagi Nicholas, Natalie berhasil membuat laki-laki di sampingnya diam tanpa kata. Tak berkutik karena pada kenyataannya memang iya. Selama ini Nicholas tak pernah memberikan nafkah batin untuk istrinya itu.


"Mungkin," Natalie ikut menarik selimutnya. Dengan ekspresi wajah penuh kesedihan, wanita itu bahkan terlihat menitikkan air matanya. Pernikahan yang dia kira akan membuat hubungannya dengan Nicholas semakin erat itu malah membuat hubungan keduanya menjadi dingin dan penuh keanehan. Sikap Nicholas yang dulu hangat kini malah terlihat seperti bongkahan es batu di kutub Utara.


"Sudahlah, lupakan saja! aku mengerti, mungkin aku tidak begitu menarik bagimu."


Kali ini terdengar Isak tangis dari bibir Natalie. Seminggu dua Minggu mungkin ia masih bisa menahan dirinya. Tapi ini sudah lebih dari satu bulan laki-laki itu menelantarkannya sebagai seorang istri. Natalie hanya merasa sedikit terhina saja. Begitu menjijikkannya kah dia? sampai suaminya saja tak mau menyentuhnya.


Srettt


Tiba-tiba saja, tangan Natalie ditarik paksa Nicholas. Membuat wanita itu kini sudah berada di atas tubuh laki-laki itu.


Mata Natalie membelalak tak percaya kalau Nicholas akan melakukan hal ini padanya.


"Kau mau aku melakukannya malam ini juga?"


Natalie tak bisa menjawabnya. Dia hanya diam dan sesekali menelan salivanya. Wajah Nicholas yang penuh kharisma ternyata lebih menggoda dengan jarak sedekat ini.

__ADS_1


"Kalau dengan ini kau bisa diam. Aku akan melakukannya malam ini juga."


Brugh


Seketika, tubuh Natalie di putarnya. Kini posisi sudah berbalik arah. Wanita itu sudah berada di bawah dan dalam apitan kedua kaki Nicholas.


Perlahan Nicholas membuka piyamanya, membuat perut sixpack miliknya terlihat begitu jelas dan menawan. Natalie sampai tak berkedip sedikitpun.


Laki-laki itu mulai mencondongkan badannya, mendekati wajah Natalie yang seketika merah merona.


"Jangan salahkan aku, jika malam ini kau akan sulit bernafas ... Salah siapa kau menantang ku?"


Suara bariton khas Nicholas itu membuat Natalie bergidik ngeri dibuatnya. Apa yang akan dilakukan Nicholas padanya? Apa laki-laki itu akan menyiksanya?


Saat itu juga, Nicholas mulai membuka satu persatu kancing piyama milik Natalie. Dan Natalie membiarkannya begitu saja. Ia membiarkannya karena Nicholas memang berhak sepenuhnya atas seluruh jiwa raganya. Lagipula, bukankah sejak dulu ini yang dia inginkan.


Pluk


Piyama Natalie sudah terjatuh ke lantai. Kini hanya menyisakan kaos dalam berwarna putih polos tanpa corak sedikitpun. Natalie sempat menyilang kan kedua tangannya untuk menutupi bagian tubuhnya, namun dengan secepat mungkin Nicholas menghalaunya dan malah mengunci kedua tangan Natalie bersamaan.


"Kenapa? kau malu? ... bukankah ini yang kau inginkan?"


Teg


Tiba-tiba ucapan Nicholas berhasil membuat hati Natalie sakit. Ia merasa seperti wanita murahan yang haus akan sebuah kepuasan. Padahal hal ini adalah hal yang wajar dan sudah sepantasnya ia dapatkan dari suaminya sendiri.


"Apa kau melakukan ini hanya karena kasihan padaku?" Suara Natalie terdengar parau. Entah kenapa luka di hatinya menganga begitu besar setelah ucapan Nicholas barusan.


"Menurutmu?" Nicholas malah bertanya balik.


"Kalau begitu lepaskan aku!" Natalie melawan dan melepaskan dirinya dari cengkraman Nicholas, "kau tidak perlu melakukannya karena aku tidak pernah meminta untuk kau kasihani."


Natalie kembali memungut piyama yang Nicholas jatuhkan. Dia beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


"Sekarang aku sadar diri. Siapa aku sebenarnya di hidupmu."


Ceklek


Natalie mengunci pintu kamar mandi. Mengurung dirinya di sana untuk sedikitnya menyampaikan rasa kekecewaan dan Kesedihannya tanpa harus menunjukkannya secara langsung di depan orang yang sudah membuatnya terluka. Sementara Nicholas hanya bisa memandangnya dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


Apa ucapanku telah melukai perasaannya?


To be continued


__ADS_2