
"Siapa yang berani minta traktir sama istri orang?"
Suara khas itu membuat wajah Natalie dan Erick terarah bersamaan.
"Nicholas."
Mata Natalie dan erick mendelik karena laki-laki yang baru datang itu tiba-tiba menyeret kursi dari belakang dan menempatkannya diantara Natalie dan Erick.
Dia duduk di tengah-tengah keduanya dengan santainya, tanpa permisi dan tanpa izin terlebih dahulu, membuat Erick merasa terganggu.
"Ini tempat umum kan? jadi semua orang bisa memilih tempat duduknya untuk makan," ucap Nicholas seraya menatap tajam ke arah mata Erick. Natalie yang melihatnya hanya memejamkan mata, tak habis pikir kalau Nicholas akan melakukan hal memalukan seperti ini.
Tak lama setelah itupun, beberapa pelayan datang membawa banyak makanan yang semula dari meja Nicholas, berpindah ke meja Erick.
"Ayo makan!" ajak Nicholas pada Erick dan Natalie seraya mulai menuangkan makanan ke dalam piringnya, sementara yang diajak bicara keduanya masih menatapnya dengan tatapan heran.
Lima belas menit telah berlalu. Nicholas sudah menghabiskan satu porsi makanannya, namun tidak dengan Natalie dan Erick, mereka hanya mencicipi sedikit makanan di depannya. Itu semua karena Nicholas. Nicholas yang membuat suasana jadi canggung.
"Sudah siang. Ayo kita berangkat!" ajak Nicholas seraya menarik tangan Natalie untuk bangun dari tempat duduknya.
"Ah, iya sampai lupa." Nicholas menghentikan langkah kakinya lalu berbalik badan menatap Erick, "Terimakasih ya untuk traktirannya." Setelah itu ia pun kembali menarik tangan Natalie dalam genggamannya.
Natalie hanya sempat melirik ke arah Erick yang menurutnya sudah berhasil dibuat geram oleh tingkah laku Nicholas pagi itu.
Benar saja, selepas kepergian Nicholas dan Natalie, Erick mengeratkan kepalan tangannya, karena sudah dibuat kesal oleh teman lamanya itu.
Sebenarnya, Nicholas dan Erick saling mengenal. Hanya saja, keduanya saling berpura-pura tidak mengenal di depan Natalie. Entah apa yang sedang direncakan keduanya, yang pasti dua laki-laki itu terkenal seringkali memiliki selera yang sama, mulai dari urusan hobi sampai urusan wanita dan juga asmara.
"Kamu apa-apaan sih, Nic? dia itu bos aku. Kamu seharusnya tidak perlu bertingkah tidak sopan seperti itu?" omel Natalie saat keduanya sudah masuk kembali ke dalam mobil.
Spontan saat Natalie menyebutkan siapa Erick, Nicholas langsung mendelikkan matanya dengan tajam, "Apa kamu bilang? Bos? Bos apa yang kau maksud?"
Natalie sontak langsung menutup mulutnya saat tak sengaja bicara ceroboh di depan Nicholas. "Mpp, maksud ... maksud aku_"
"Cepat katakan! sejak kapan kau bekerja dengannya?" potong Nicholas.
__ADS_1
"Bu_bukan, bukan siapa-siapa. Dia hanya teman, iya teman aku." Natalie berusaha bohong, tapi bukan Nicholas namanya jika tak mengetahui kebohongan wanita itu dari cara bicaranya. Ditariknya paksa lengan wanitanya sampai Natalie mengernyitkan matanya.
"Cepat katakan! sejak kapan kau bekerja dengannya?" Sorot mata Nicholas mulai kembali memanas.
"Kenapa? kau mau melarang ku lagi?" tanya Natalie. "Ya, aku memang bekerja dengannya sejak kemarin. Aku mengerjakan pekerjaan part time setelah pulang dari kantormu, terus ada masalah apa? kau tidak suka?"
"Ya, aku tidak suka."
"Masa bodo. Aku tidak pernah meminta pendapatmu."
"Kau istriku, dan aku berhak menentukan dimana kau boleh bekerja dan dimana kau tidak boleh bekerja."
"Oya?" Nada bicara Natalie seolah mengejek. "Kau lupa? aku bekerja disana karena siapa?"
Nicholas terdiam.
"Ini semua juga gara-gara kamu. Karena kamu yang memintaku untuk melunasi hutang-hutang ibuku."
"Aku tidak pernah memintamu untuk melakukan itu."
Suasana di dalam mobil berubah jadi panas, padahal Reynald sudah menyalakan pendingin ruangan di suhu terendah.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus berhenti bekerja dengannya." Nicholas kembali meluruskan pandangannya sambil mengangkat kedua tangan dan melipatnya sebatas dada.
Natalie tak menjawabnya, ia hanya mendelik malas.
"Setiap jam pulang kerja kau harus langsung pulang bersamaku," lanjut Nicholas.
"Kau ini apa-apaan sih? tidak bisakah sekali saja tidak memaksakan kehendakmu itu?"
Nicholas tak menjawabnya. Keputusannya sudah bulat. Di tidak mengizinkan Natalie bekerja di tempat Erick.
"Oh, atau jangan-jangan kau takut kalau aku akan segera melunasi hutang-hutang Ibuku?"
Mendengar ucapan Natalie yang ini, Nicholas langsung mendelik menatapnya.
__ADS_1
Sepertinya Nicholas mulai terpancing, Natalie semakin gencar membuatnya panas. "Kau bahkan tidak tahu kan kalau Erick sudah membayarku di hari pertama akau bekerja. Dam setiap malam aku juga mendapatkan uang tips yang nominalnya hampir 20% dari gajiku."
Nicholas semakin panas. Dagunya bahkan sudah mengeras. Reynald yang melihat perdebatan keduanya itu semakin pusing dibuatnya.
Natalie tersenyum penuh kemenangan dalam benaknya. Hari ini dia tidak mau mengikuti lagi apapun perintah dari Nicholas. Dia sudah menganggap bahwa pernikahannya dengan Nicholas hanyalah sebuah kesalahan. Oleh sebab itu dia harus segera memperbaikinya. Dia tidak mau terlanjur jauh dalam mencintai laki-laki yang sudah membuat hidupnya tak tentu arah seperti saat ini.
Tangan Nicholas yang sejak tadi sudah mengepal langsung menyambar tangan Natalie. "AKU BILANG BERHENTI, BERHENTI!" Nada bicaranya berhasil membuat Reynald terkejut bukan main. Baru kali ini dia melihat Nicholas bicara begitu keras di depan Natalie.
Tapi tidak dengan Natalie. Wanita itu nampaknya sudah mulai terbiasa dengan perubahan sikap yang sering ditunjukkan Nicholas. Kini Natalie mulai terbiasa saat Nicholas tiba-tiba marah atau tiba-tiba baik padanya. Semuanya itu Natalie anggap hanyalah angin belaka.
"Kau tahu, dia itu bukan laki-laki baik, Natalie! kau tidak tahu siapa dia. Jadi, jangan berlaga sok tahu di depanku."
"Bukan laki-laki baik?" Natalie mengulang ucapan Nicholas. "Tunggu!" lanjutnya seraya menatap dalam-dalam wajah laki-laki didepannya. "Kalau dia bukan laki-laki baik, lantas bagaimana denganmu? ... kira-kira kata apa yang pas untuk menggambarkan seorang suami yang bermain dengan wanita lain di belakangnya."
"Berhenti membahas Jennifer! kita sedang membicarakan Erick."
"Kenapa? ... kau tidak suka aku membicarakan selingkuhan mu itu."
"Dia bukan selingkuhan ku."
"Lantas apa? teman bermain di kasur?"
"Jaga ucapanmu, Natalie!!!" Sebelah tangan Nicholas tiba-tiba terangkat saking terkejutnya dengan pertanyaan menohok dari Natalie.
"Kenapa berhenti?" tanya Natalie yang mulai emosi tingkat tinggi. "Lanjutkan!!! tampar aku? bukankah ini juga pernah kau lakukan?" Air mata Natalie tiba-tiba luruh kembali. Seberapa besar pun ia berusaha menahan sakitnya, nyatanya memang mencintai Nicholas sangat membuatnya benar-benar tersiksa.
Reynald bernafas lega, karena akhirnya mereka tiba juga di kantornya. Dengan cepat ia memarkirkan mobilnya dan bergegas membuka pintu keduanya, meskipun keduanya masih sibuk saling berpandangan dengan ganasnya.
"Ingat!!! sampai saat ini pun aku tidak pernah tahu maksud dan tujuanmu menikahiku karena apa?" ucap Natalie, "jadi jangan pernah menghentikan langkahku kemanapun aku mau." Natalie melepaskan tangannya lalu meraih tas dan hendak keluar. Namun langkahnya terhenti, ia kembali membalikkan badannya melihat Nicholas. "Dan satu hal lagi! jangan pernah berkata bahwa Erick bukan laki-laki baik. Karena kau ...." Natalie menunjuk wajah Nicholas. "Kau bahkan tidak lebih baik darinya."
Ucapan menohok itu mengakhiri perdebatan keduanya pagi itu. Natalie langsung bergegas masuk ke dalam kantor, sementara Nicholas masih terdiam di tempat semula sambil memikirkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Natalie barusan.
"Kau bahkan tidak lebih baik darinya." Natalie Watson
To be continued
__ADS_1