Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Boncap 2 Untung Sayang


__ADS_3

Siang ini Reynald menemui sebuah kantor polisi. Setelah berhasil menyelidiki kasus Erick, Reynald akhirnya memutuskan untuk memenjarakan orang tersebut.


Dari hasil informasi yang diterimanya dari Natalie, rupanya Erick adalah dalang dibalik penyakit yang menimpa Nicholas.


Erick sudah melakukan tindakan yang sangat jahat.


Rupanya Erick juga bersekongkol dengan seorang dokter yang tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung dari Sea sendiri, wanita yang meninggal karena bunuh diri kala itu.


Bukan hanya Erick, Reynald juga akan menjebloskan kan ayah Sea ke dalam penjara. Mereka harus mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.


"Rey, kamu abis dari mana aja? ... kenapa semalaman kau tidak mengangkat telepon Ayah?" tanya Selly. Semalaman sudah, Reynald tidak memberikan kabar padanya. Dia hilang begitu saja. Bahkan saat Selly meminta sang ayah untuk menghubunginya Reynald masih tetap saja tak mengangkat teleponnya.


Sampai saat ini Selly memang belum bisa mengoperasikan sebuah ponsel. Hidupnya bersama kedua orangtua angkatnya yang serba kekurangan, memaksa Selly untuk tidak bisa mengoperasikan benda canggih tersebut.


"Maafkan aku!" ucap Reynald. Lantas dia duduk di sofa ruang tamu. "Semalam aku menjenguk Ibuku."


"Oh."


Selly ikut duduk, tapi dengan jarak yang tidak terlalu dekat. sepertinya Selly masih kecewa karena Reynald tidak memberikan kabar padanya.


Reynald melihat sesuatu yang berbeda pada diri Selly, sepertinya wanita itu sedang merajuk. Rey haruss melakukan sesuatu untuk mengembalikan mood wanita itu.


"Kita keluar yuk!" ajak Reynald.


"Nggak, ah."


"Kenapa?"


"Gpp."


Dugaan Rey benar, Selly memang sedang marah karena Reynald hilang begitu saja.


Tiba-tiba saja Rey bangun dari tempat duduknya kemudian dia duduk kembali tepat disebelah Selly, dia merangkul pundak wanita itu. "Sudah dong, jangan marah! aku minta maaf, aku salah."


Selly masih diam, sejujurnya dia masih kesal. Tapi melihat Reynald sepertinya tulus meminta maaf, Selly pun akhirnya menganggukan kepalanya, "Baiklah."


"Nah, gitu dong!" puji Reynald sambil mengusap-usap rambut Selly dengan lembut. "Udah makan?"


Selly menggelengkan kepalanya.


"Loh, kenapa?"


"Dia sengaja belum makan, katanya nungguin kamu pulang."


Suara itu berasal dari Tuan Mark.


"Ah, selamat siang, Tuan." Reynald bangun dan sedikit menundukkan kepalanya saat Mark Jhonson datang.


"Duduklah!" titah Mark pada Reynald, kemudian laki-laki duduk kembali tapi kali ini jaraknya lebih jauh dari Selly, karena dia tidak enak pada ayahnya yang juga merupakan bosnya.


"Kemana saja semalam telepon dariku juga tidak kau angkat?" tanya Mark.


"Maafkan saya, Tuan. Semalam saya mengunjungi Ibu saya. Maaf juga tidak menjawab telepon dari Tuan, karena kebetulan kalau saya sedang bersama Ibu saya, Saya sering melupakan semuanya, termasuk ponsel saya."


"Wah, aku suka sekali caramu memperlakukan orang tuamu. Sebenarnya bukan masalah, hanya saja kasihan anakku, dia merengek merindukanmu."


"Yah," rengek Selly. Dia malu ketika Mark menceritakan yang sebenarnya.


Mark dan Reynald tertawa karena kelucuan tingkah Selly itu.


"Ya sudah, sana cepat kalian makan dulu!" titah Mark.


"Loh, memangnya, Tuan tidak ikut makan?" tanya Reynald.


"Tidak. Aku sudah makan makan beberapa menit yang lalu."

__ADS_1


"Oh, baiklah."


Reynald pun lantas berdiri dan mengajak Selly untuk makan. Awalnya Selly malu-malu, tapi setelah Reynald berjalan meninggalkannya bersama ayahnya, barulah Selly mengekor di belakangnya.


Saat tengah mengekor di belakang Rey, Selly dikejutkan karena tiba-tiba Rey berbalik arah padanya.


"Eh," pekik Selly saat tangannya kini sudah digandeng Rey.


"Manjanya calon istriku," ucap Rey sambil mengelus puncak kepala Selly, membuat wanita itu tersenyum dan tersipu malu.


***


Siang ini Nicholas mengajak Natalie pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Toko perlengkapan bayi menjadi tujuan Nicholas hari ini.


"Kau mau beli apa di sini?" tanya Natalie.


"Semua yang ada," sahut Nicholas.


Natalie mendelikkan matanya malas. Suaminya ini selalu saja bersikap sombong dimanapun ia berada. Tidak, sebenarnya Nicholas bukan sombong, ia hanya senang membuat wanitanya itu kesal.


"Aku serius. Kamu mau beli apa ngajak aku lihat-lihat barang-barang kaya gini?" kata Natalie sambil melihat satu persatu benda-benda yang diperuntukkan untuk bayi itu.


"Iya, iya." Nicholas lantas menurunkan sepatu bayi warna biru dari tempat penyimpanan. "Aku mau beliin seseorang hadiah untuk kehamilan pertamanya."


"Temen? atau saudara?" tanya Natalie.


"Bukan dua-duanya," jawab Nicholas santai. Ia meneruskan kembali pencariannya. Mencari barang-barang yang sekiranya pas untuk dia berikan.


"Pelayan, saya mau ini ya!" kata Nicholas.


"Warna apa dan ukuran apa?"


"Aku mau semua warna dan semua ukuran."


Natalie mendelikkan matanya. "Kamu mau buka toko sepatu?"


Nicholas menggeleng-gelengkan kepalanya. "Belum tahu, soalnya belum ketahuan."


"Oke, kalau begitu warna biru." Natalie menyerahkan dua pasang sepatu berbeda motif dengan warna biru dominan. "Warna ini cocok untuk bayi laki-laki dan perempuan."


"Baik, Nona." Pelayan itu segera membungkus sepatu itu.


"Nat," panggil Nicholas.


"Iya."


Nicholas menunjukkan sebuah stroller baby yang sangat lucu.


"Kalau ini kira-kira bagus 'gak?"


"Mpppp." Natalie meliriknya dengan jeli. "Bagus sih, cuma lebih bagus lagi kalau yang ini." Natalie memilih stroller yang lain. "Ini lebih aman deh kayaknya. Soalnya kan bayi kadang suka hiperaktif gitu, jadi kayaknya akan lebih baik kalo kamu beli yang ini aja."


"Pinternya calon Ibu dari anakku," puji Nicholas, dan itu berhasil membuat Natalie merasa malu. "Pelayan, aku mau ini juga. Dua ya!"


"Baik, Tuan."


"Kenapa harus dua? kan satu juga cukup."


"Bawel ah," ucap Nicholas. Sedikit kesal juga Natalie saat Nicholas bilang dirinya bawel. Bukan bawel, cuma aneh aja, batin Natalie.


"Kalau ini?" tanya Nicholas lagi. Kali ini dia memperlihatkan sepasang baju terusan. Baju yang biasa dipakai oleh bayi untuk tidur.


"Bagus. Tapi lebih bagus yang ini."


Lagi-lagi Nicholas salah memilih.

__ADS_1


"Ini bahannya lebih adem dan lembut, jadi bikin bayi nyaman."


"Oke, oke." Wajah Nicholas seperti malas. Sedari tadi ia selalu dicela Natalie. "Pelayan, ini juga ya! lima lusin. Lengkap sama kaos kaki sama topinya juga ya!"


"Baik, Tuan."


"Nic, kebanyakan 'gak sih?" protes Natalie. "Kamu kan cuma mau ngasih kado buat seseorang, kenapa kaya mau buka toko sih?"


Tak memperdulikan protes dari Natalie, Nicholas pun lantas membayar semua barang-barang itu.


"Totalnya 15.900.000," ujar seorang kasir.


Nicholas mengeluarkan kartu kreditnya. Kasir itu kembali menyerahkan kartu beserta kwitansi pembayarannya sambil mengucapkan terimakasih, sedangkan untuk barang-barangnya sudah siap dibawakan oleh dua orang pelayan laki-laki menuju mobil Nicholas.


"Ayo kita pulang!" ajak Nicholas. Dia langsung menggandeng tangan Natalie, tak lupa Nicholas juga merangkul pinggang Natalie mesra.


Sampai tiba di sebuah eskalator.


"Nic, aku bisa sendiri."


Entah kenapa Natalie merasa Nicholas terlalu berlebihan. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Sejak tadi Nicholas tak mau melepas tangan Natalie, sampai di eskalator pun tangannya masih tetap saja digenggam erat.


"Gak usah protes," bisik Nicholas.


Brukk


Baru saja Natalie dan Nicholas turun dari tangga eskalator, mereka dikejutkan dengan seorang laki-laki muda terjatuh tepat di depan mereka. Beberapa belanjaan yang dibawanya juga berserakan.


"Maaf, maaf!" ucapnya seraya berdiri dan membereskan barang-barang miliknya.


"Iya, tidak apa-apa!" sahut Natalie. Wanita itu bahkan menundukkan tubuhnya untuk membantu Laki-laki itu membereskan barang-barangnya.


"Nat, 'gak usah!" Nicholas menarik tangan Natalie, mencegah wanitanya itu membantu.


"Loh, kenapa? kan kasian dia."


"Aku bilang 'gak usah ya 'gak usah." Kali ini nada bicara Nicholas terdengar lebih tinggi.


Tapi diluar dugaan, malah Nicholas yang turun tangan membantu orang itu. "Lain kali hati-hati! kau hampir saja membuat istri dan calon anakku kenapa-napa," bisik Nicholas di telinga Laki-laki itu.


"Ah, iya. Maafkan aku!" ucap Laki-laki itu. "Sekali lagi terimakasih."


Setelah mengucapkan kalimat permintaan maaf dan terimakasih, Laki-laki itu pun pamit pergi, sementara Natalie masih diam memandangi wajah Nicholas. "Tidak disangka, ternyata dia sangat perhatian juga," batin Natalie.


Mereka pun melanjutkan perjalanan, menuju parkiran. Tapi makin lama langkah Natalie makin pelan, mungkin karena sepatu yang ia pakai hari ini kurang nyaman.


"Kenapa? ... pegel? capek?" tanya Nicholas.


"Nggak kok, cuma sepatunya kurang nyaman aja."


Tanpa pikir panjang lagi, Nicholas langsung menggendong Natalie di tengah keramaian mall besar itu.


"Eh, kamu ngapain?" pekik Natalie.


Sontak saja beberapa pasang mata menyoroti aksi romantis Nicholas itu. Beberapa wanita merasa iri karena Natalie bisa mendapatkan bentuk kasih sayang seromantis itu.


"Nic, aku malu." Natalie menyembunyikan wajahnya dibalik dada bidang suaminya. Ia benar-benar malu saat beberapa pasang mata menyorot ke arahnya dengan tatapan berbagai ekspresi. Ada yang seperti mentertawakan, ada juga yang melihatnya sebagai sesuatu yang luar biasa romantis, bahkan ada juga yang mencibirnya karena berpikir bahwa Natalie sangat manja sampai harus minta digendong di tengah keramaian seperti ini.


Tapi apapun pandangan orang, Nicholas tidak perduli. Ia hanya tak mau istri dan calon anaknya itu kelelahan.


"Diam, atau mau aku cium?" ancam Nicholas.


Mendengar jawaban dari Nicholas, Natalie pun hanya bisa pasrah. Kesal, tapi senang. Itulah yang saat ini dirasakan Natalie.


"Untung sayang," batin Natalie.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2