
Jangan lupa Like sebelum baca ya!
Dan jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.
Gak butuh waktu lama kok buat bikin aku bahagia 😁
Happy Reading 🌺
Sepulangnya Nicholas dari pertemuannya dengan Thomas. Nicholas menyempatkan dirinya untuk menjenguk sang Ibu yang Sekarang sudah berada di salah satu rumah sakit besar yang tak jauh dari rumahnya.
Setelah kejadian bersama Kelly, Nicholas akhirnya memutuskan untuk meminta salah satu sahabatnya agar merawat Ibunya. Dan saran dari dokter itu, Merry harus di bawa berobat ke luar negeri, karena keadaan Merry yang sudah sangat parah dan tidak bisa diobati di rumah sakit biasa.
"Jadi, kapan kau akan menjadwalkan keberangkatan Ibuku?" tanya Nicholas pada dokter sekaligus teman dekatnya itu.
"Sore ini kita sudah bisa membawanya." dokter memberikan surat-surat yang harus Nicholas tandatangani. "Ini surat-surat yang harus kau tandatangani," ucapnya. "Setelah kau menandatangi surat-surat ini, maka aku akan segera memproses langkah selanjutnya."
Tanpa menunda-nunda dan membuang waktu, Nicholas langsung membubuhkan tanda tangannya di atas selembar kertas, lalu kembali menyerahkannya pada sang dokter.
"Berapa lama waktu yang diperlukan supaya Ibuku bisa sembuh?"
"Aku tidak bisa memastikan. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku dan temanku akan memaksimalkan pengobatannya agar racun-racun yang selama ini bersarang karena efek dari obat itu bisa sepenuhnya hilang."
dokter itu memang akan menemani langsung selama proses pengobatan Merry di luar negeri. Nicholas yang tidak mungkin menemani Ibunya hanya bisa memberikan yang terbaik untuk kesembuhan orang tuanya itu. Ia sengaja menyewa dokter yang merupakan dokter kepercayaannya itu untuk secara khusus menjadi dokter sekaligus perawat Ibunya selama di luar negeri.
"Jangan khawatir!" dokter itu menepuk pundak Nicholas yang melamun. "Ibumu pasti akan sembuh seperti sedia kala, jika kita mau berusaha dan selalu berdoa."
Nicholas tertunduk lemah.
Bukan,
bukannya aku takut Ibu tidak akan sembuh.
Tapi aku takut, saat ibu sembuh, dia sudah tidak bisa lagi melihatku ada di dunia ini.
"Iya. Aku percayakan sepenuhnya kepadamu!" ucap Nicholas, lantas ia berdiri dari duduknya. "Kabari aku kapan kalian akan berangkat! Aku akan menemani kalian sampai bandara."
"Oke."
Nicholas pun keluar dari ruangan dokter itu. Tapi sebelum pergi, ia sempat mencium kening wanita yang tengah terbaring di atas tempat tidur dengan tangan dan kaki yang masih terikat.
"Bu, berjuanglah! aku yakin kau akan sembuh seperti sedia kala ... Maafkan aku tidak bisa menemanimu. Kuharap kau akan segera pulih." Nicholas tak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh.
Sesak, sakit, perih semua jadi satu. Dia merasa sangat bersalah karena telah membiarkan Ibunya tersiksa selama ini.
Karena kebodohannya, ia membiarkan begitu saja Merry tersiksa karena Kelly.
__ADS_1
Sebagai seorang anak yang ingin berbakti di hari-hari terakhirnya, Nicholas hanya ingin Ibunya bisa sembuh seperti sedia kala. Menikmati indahnya dunia tanpa dibayang-bayangi masalalunya. Meskipun harus tanpanya.
"Dan seandainya saat kau kembali nanti aku sudah tiada, kumohon jangan pernah membenci dan melupakanku! karena satu hal yang harus kau tahu, aku sangat bangga bisa menjadi anakmu. Meskipun kita tidak bisa berkumpul dan bahagia bersama di dunia ini, kuharap dunia lain sedang menunggu, Ibu, Lucia dan aku di sana."
Nicholas melepas ciumannya, lalu ditatapnya penuh cinta wajah wanita yang selama ini menjadi alasan Nicholas berjuang sampai sejauh ini. "Aku mencintaimu."
***
"Nona, kau tidak apa-apa?"
Ueek .. uek ...
Natalie menumpahkan isi perutnya di westafel kamar mandi. Sejak lima menit yang lalu entah kenapa perutnya terasa terkoyak-koyak dan sangat mual sekali. Tapi hanya cairan bening yang keluar, karena memang sejak tadi Natalie selalu menolak makanan yang Helena suguhkan.
Helena menyodorkan segelas air hangat, dan Natalie segera menenggaknya.
Wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya pun sedikit gemetar. "Terimakasih, Bi," ucap Natalie pelan seraya mengembalikan gelas itu pada Helena.
Helena pun membantu memapah Natalie keluar dari kamar mandi. "Biar saya bantu," ucapnya.
Helena membantu Natalie duduk di kursi makan, sementara dia langsung membuatkan teh hangat untuk membantu memulihkan tenaga Natalie.
"Kan saya sudah bilang, setidaknya makan dua sampai tiga suap saja nasinya ... setidaknya untuk melapisi lambung Nona agar tidak terkena asam lambung seperti ini." Helena selesai membuatkan teh hangat, dia segera menuangkannya ke dalam gelas dan menyodorkannya pada Natalie. "Minumlah ini! setidakya untuk sedikit memberikan tenaga."
Natalie menerima teh itu dari tangan Helena, lalu meminumnya. Sepotong roti yang Helena bawakan pun terpaksa ia sobek sedikit untuk melapisi lambungnya.
Tapi baru saja roti itu masuk, Natalie sudah mual lagi.
Uek ...
Natalie kembali berlari menuju westafel. Kembali menumpahkan isi perutnya. Helena yang melihatnya semakin khawatir. Buru-buru ia berlari kembali untuk memijit punduk wanita itu.
"Ya, Tuhan. Sebenarnya ada apa denganmu, Nona?" Helena terus memijit tengkuk leher Natalie.
Nicholas baru saja sampai rumah. Ia langsung bergegas ke dapur ketika Ia mendengar suara wanita muntah-muntah, dan sepertinya itu suara Natalie.
"Ada apa dengan Natalie?" tanya Nicholas pada Helena yang sedang mencari tisue, karena tissue di kamar mandi habis. Ekspresi Nicholas terlihat begitu sangat khawatir, terlebih saat melihat Helena juga sangat tergesa-gesa.
"Ah, itu Tuan. Dari tadi Nona terus menerus muntah," jawabnya sambil terus mencari tissue. "Ah, dimana lagi itu tissue. Kalau sedang diperlukan suka menghilang."
"Muntah?" Nicholas mengulang perkataan Helena. Kenapa anak itu? apa dia sedang sakit?
Tanpa basa-basi lagi Nicholas langsung bergegas mendekati Natalie. Benar apa yang dikatakan Helena, Natalie masih belum berhenti juga mengeluarkan isi dari perutnya itu.
Saat Natalie berbalik badan, Nicholas langsung menarik tangannya. "Kau sakit? ... Kita ke dokter sekarang!" titahnya, namun tangan Nihcolas buru-buru ditepis.
__ADS_1
"Lepas!!! aku tidak sakit." Natalie menatap tak suka Nicholas. Untuk apa dia bersikap sok perhatian, padahal aslinya laki-laki sangat jahat, batinnya.
"Tidak usah bersikap seolah kau peduli padaku, karena aku tidak membutuhkan itu semua dari laki-laki yang sebentar lagi akan meninggalkanku."
Teg
Nicholas terdiam.
Melihat sikap Natalie yang begitu sangat tidak menyukai perhatiannya, Nicholas pun hanya diam mematung, membiarikan wanitanya itu pergi begitu saja. Padahal niatnya baik. Ia hanya ingin membawa Natalie ke dokter.
"Tuan," Helena menyadarkan lamunannya. "Lebih baik panggil dokter saja ke rumah kalau Nona tidak mau diajak ke luar."
Sepertinya ide yang bagus. "Ya sudah, tolong segera hubungi dokter terdekat!" titah Nicholas.
"Baik, Tuan." Helena pun segera bergegas menghubungi dokter lewat telepon rumah, sementara Nicholas menghembuskan nafasnya gusar, berusaha menerima kenyataan bahwa memang rumah tangga mereka tak harmonis seperti pada umumnya. Dan sikap seperti itu rasanya wajar jika Natalie berikan padanya, mengingat semua perlakuannya terhadap Natalie juga tak kalah jahatnya.
Brugh
"Nona!!!" pekik Helena saat melihat Natalie terjatuh di lantai saat hendak menaiki anak tangga.
"NATALIE!!!" Nicholas langsung berlari dan dia sudah mendapati Natalie tergeletak di lantai. Beruntung Natalie belum menaiki tangga itu. Nicholas tidak bisa membayangkan jika Natalie pingsan dari ketinggian.
"Natalie, bangun, Nat!!!" Nicholas menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu, tapi sepertinya Natalie pingsan. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan tubuhnya juga lebih dingin dari biasanya.
Melihat keadaan 'tak kunjung juga membaik, Nicholas buru-buru mengangkat tubuh wanita itu, menggotongnya dan merebahkannya di atas kasur, sementara Helena terus membuntuti Nicholas di belakangnya, bersiap siaga jika Nicholas membutuhkan bantuannya.
"Nat, please jangan buatku takut." Nicholas mulai takut. Takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada wanitanya itu.
"HELENA, CEPAT SURUH DOKTER ITU DATANG SEKARANG JUGA!!!" pekik Nicholas. Helena langsung terperanjat kaget. Baru kali ini dia mendengar suara Nicholas begitu tinggi. Tapi dia harus mengerti. Nicholas seperti ini karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Natalie.
"Ba_baik, Tuan."
Helena pun segera berlari kembali meraih gagang telepon untuk menghubungi dokter, memintanya segera datang, sementara Nicholas terus menggenggam tangan wanitanya, seakan ia takut sekali kehilangannya.
Melihat cincin yang melingkar di jari manis Natalie, mendadak Nicholas teringat hari dimana dia mengucap janji dengan wanita itu.
Hari dimana mereka berjanji akan menjalani sehidup semati.
Kini Nicholas merasa bahwa ia adalah laki-laki paling berdosa di dunia ini, karena telah mengingkari janjinya sendiri pada wanita yang sangat dia cintai.
"Maafkan aku, Natalie. Maafkan aku! kau terlalu sempurna untuk laki-laki biadab sepertiku."
To be continued
__ADS_1
Kira-kira apa yang terjadi dengan Natalie ?
Berikan komentar terbaik kalian di part ini!