
Sore ini, sebelum menjemput Natalie, Nicholas mengunjungi sebuah restoran mewah di pusat kota. Dia bertemu dengan teman lamanya, yang kini sudah menjadi seorang notaris terkenal di kota itu.
"Maaf membuatmu menunggu!" ucap Nicholas sambil duduk di kursi VIP yang khusus dia pesan untuk bertemu dengan sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa," sahut Anjeli, sahabat Nicholas. "Baru pulang?"
"Iya nih." Nicholas kemudian menenggak segelas minuman berwarna merah di depannya.
Anjeli menggelengkan kepalanya, "Masih suka minum juga ternyata."
"Kadang-kadang."
"Kurangi, Nic! kau benar-benar tidak mau berjuang?"
"Bukan tidak mau berjuang. Tapi rasanya ini semua sudah ada di ujung. Aku hanya tinggal menunggu takdir."
Tunggu!!! apa yang sedang mereka bicarakan?
Anjeli menatap kasihan sahabat di hadapannya. Nyatanya triliunan harta tak menjamin kebahagiaan seseorang. Buktinya ada di depan matanya.
Nicholas yang ditaksir takkan pernah mengalami kesulitan masalah finansial nyatanya tak pernah mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Hari-hari sahabatnya itu selalu saja dipenuhi dengan ketakutan dan kecemasan.
"Jadi, kau sudah membawa berkas-berkas yang ku minta?" tanya Anjeli. Tak ingin membahas hal yang menyesakkan itu, Anjeli pun segera mengalihkan pembicaraannya.
"Sudah," sahut Nicholas, kemudian dia mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tas-nya. "Ini saja kan?"
"Hmpp," sahut balik Anjeli. "Jadi kau sudah yakin akan memberikan 85% saham perusahaan untuk istrimu?"
"Iya." Nicholas menjawabnya dengan tegas. "Lalu sisanya limpahkan pada Reynald. Aku mau dia yang mengurus perawatan Ibuku setelah aku tiada."
Anjeli yang tengah membaca berkas-berkas biodata Natalie dan Reynald langsung menaruh kembali berkas-berkas itu di atas meja saat sahabatnya itu kembali membahas kematiannya.
"Kau masih bisa sembuh, Nic!" tegasnya, "jangan terlalu percaya pada perkataan dokter. Ingat!!! mereka bukan tuhan. Mereka tidak bisa menentukan kapan seseorang akan mati."
"Nyatanya memang usiaku tidak akan lebih dari tiga bulan ini, An."
Anjeli memijit-mijit pelipisnya pusing. "Oke ... aku tahu kamu sakit. Tapi bukan berarti kamu harus menyerah sedini ini. Mana Nicholas yang ku kenal dulu?" Anjeli jadi geram dibuatnya. Laki-laki yang dulu ia kenal sangat ambisius itu tiba-tiba menjadi lemah seperti sekarang.
Anjeli bahkan melihat Nicholas seperti sudah kehilangan semangat hidupnya hanya karena dokter mendiagnosa Nicholas mengidap penyakit kanker otak stadium akhir.
Sebenarnya Nicholas masih punya kesempatan lebih panjang lagi jika dia mau melakukan kemoterapi, tapi laki-laki itu menolak dengan alasan ia tidak mau orang lain mengetahui penyakitnya.
Kalau dia mengikuti kemoterapi, otomatis akan berdampak pada perubahan fisiknya, seperti rambut yang rontok, hingga menyebabkan kebotakan.
Jelas dia tidak mau membuat orang-orang terdekatnya jadi khawatir dan bertanya-tanya, apalagi Natalie, Nicholas bahkan merencanakan ini semua sampai ia benar-benar pergi untuk selamanya.
Dia tidak mau terlihat menyedihkan di depan orang.
"An, berjanjilah padaku! jika suatu saat nanti aku benar-benar pergi, kau harus melindungi Natalie dari orang-orang yang berniat merebut kekuasaan darinya."
__ADS_1
Anjeli menghembuskan nafasnya gusar. Sebenarnya ia malas membahas ini, karena jujur saja ini membuatnya sesak. "Oke ... terus apalagi yang harus kulakukan?"
"Berjanjilah juga, jangan pernah memberitahukan keluargaku tentang penyebab kematian ku nanti."
"Mana mungkin, Nic. Saat seorang pasien meninggal, dokter pasti akan memberikan hasil tes dari penyebab kematian pasien itu pada keluarganya. Orang tua kamu dan Natalie pasti tahu kalau kamu selama ini mengidap penyakit kanker."
"Untuk masalah itu, jangan khawatir! ... Aku sudah meminta dokter pribadiku untuk memalsukan hasil pemeriksaan nanti. Tugasmu hanya meyakinkan keluargaku dan juga Natalie bahwa hasil itu benar-benar nyata."
Nicholas memang sudah mengatur rencana dengan dokter pribadinya yang selama ini merahasiakan penyakitnya dari keluarganya. Nicholas berencana akan tinggal dan menetap di rumah sakit itu di hari-hari terakhirnya. Jadi, dengan begitu, hanya dokter itu yang dipastikan akan menangani kematiannya.
Anjeli tak bisa banyak berkomentar. "Oke. Ada lagi?"
Nicholas menggelengkan kepalanya. "Tidak.
Hanya itu saja. Intinya, permintaan terbesarku hanya satu! lindungi Natalie! hanya kau yang bisa ku percaya saat ini."
Anjeli terdiam beberapa saat. Sejak tadi, Nicholas sangat menunjukkan betapa berharganya wanita bernama Natalie itu. "Apa kau sangat mencintai wanita itu?" tanya Anjeli.
Nicholas menganggukkan kepalanya, tanpa menjawab. Dia pikir Anjeli sudah mengerti apa maksudnya.
"Seharusnya jika kau memang sangat mencintainya, katakan saja yang sebenarnya! katakan padanya jika memang kamu mengidap penyakit kanker. Kurasa Natalie akan mengerti itu."
"Tidak, dan selamanya tidak akan pernah. Aku tidak akan mengatakan apapun padanya."
"Nic, dia berhak tahu. Kalau seperti ini terus, sama saja kau menyiksa dia. Apa kau tidak kasihan padanya?"
Tapi dia pikir ini lebih baik daripada dia harus memberitahukan Natalie yang sebenarnya dan membuat wanita itu bersedih setiap hari karena melihat kondisinya. Jelas Nicholas tidak mau itu terjadi.
Dia ingin saat kepergiannya nanti, Natalie hanya bersedih dalam selang waktu 1 sampai 3 hari, dan setelah itu Natalie akan melupakan Nicholas seperti halnya melupakan baju seragam sekolah yang kekecilan.
"Aku tahu aku sudah menyiksanya. Tapi kurasa, ini lebih baik daripada dia mengetahui yang sebenarnya."
"Tapi bagaimana kamu menyembunyikan penyakitmu saat gejala itu kambuh di depan Natalie?"
***
**Kanker otak adalah suatu keadaan diamana terdapat tumor ganas pada otak yang dapat menyebar ke organ tubuh yang lain akibat pertumbuhan sel yang tidak normal pada otak. Beberapa gejala yang dapat ditimbulkan kanker otak adalah:
Sakit kepala
Muntah tanpa alasan yang jelas
Perubahan kepribadian
Kejang
Gangguan penglihatan, pendengaran atau keseimbangan**.
***
__ADS_1
"Apa Natalie tidak pernah curiga padamu?" tanya Anjeli.
Nicholas tersenyum. "Tenang saja! aku selalu menghindar dari Natalie saat penyakit itu mulai terasa berkontraksi di tubuhku."
"Lalu, saat kamu tiba-tiba emosi? apa kau bisa menahannya?"
Kali ini Nicholas terdiam. Untuk hal yang satu ini Nicholas memang sangat sulit untuk mengontrolnya.
"Aish, jangan bilang kau sering kasar padanya!"
"Maaf, tapi untuk yang satu itu aku tidak bisa mengendalikan diriku."
Salah satu gejala yang ditimbulkan dari penyakit kanker otak adalah perubahan sikap yang terkesan mendadak, dan itulah yang menyebabkan kenapa Nicholas sering sekali mudah berubah sikap, kadang dia sangat manis pada Natalie, tapi kadang juga berubah sangat menyeramkan dan kejam.
"Ah, ya sudahlah. Aku akan berusaha untuk segera mengurus surat-surat ini." Anjeli kemudian merapikan berkas-berkas di depannya. "Tapi ingat pesanku! kau harus tetap semangat dalam menjalani hidupmu. Semua manusia diciptakan dan memiliki kesempatan yang sama, semuanya sama-sama memiliki kesempatan untuk hidup di dunia hanya satu kali. Semua akan kembali pada waktunya. Jadi, Jangan pernah menganggap ini adalah akhir dari segalanya."
Setelah menasehati sahabatnya, Anjeli pun pamit untuk pulang karena ada urusan dengan client lainnya.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi duluan ya!" ucap Anjeli seraya menepuk pundak Nicholas, memberikannya kekuatan. "Nic, soal ucapanku yang tadi, jangan terlalu dipikirkan ya! ... kalau kau tidak mau membuat Natalie khawatir, itu adalah hakmu. Lagipula, kalau aku ada di posisi Natalie, mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia saat ini, karena memiliki suami sepertimu. Aku bangga memiliki sahabat sepertimu."
Nicholas tertegun mendengar setiap inchi ucapan sahabatnya, dia tersenyum membalasnya, "Iya. Hati-hati, dan terimakasih!"
"Sama-sama."
**Pada penjelasan kali ini, menjawab pertanyaan kenapa Nicholas selalu membuat Natalie terluka, padahal dendam Nicholas adalah pada orangtuanya.
Jadi, sudah terjawab kan?
Selain dendam pada keluarga Natalie, Nicholas memang sengaja membuat Natalie membencinya, agar Natalie tidak sedih saat Nicholas pergi untuk selamanya.
Dan untuk perubahan sikap Nicholas yang labil juga disebabkan karena efek penyakitnya. Dia kadang tidak bisa mengontrol emosinya.
Nicholas ingin Natalie benci padanya, tapi dia juga tidak ikhlas melihat laki-laki lain mendekati wanita itu. Apalagi laki-laki tang terlihat tidak baik untuk Natalie.
Karena semua masalah itu, jadilah Nicholas yang plin-plan, yang tak mau memperlakukan Natalie selayaknya seorang istri, tapi juga tidak terima kalau ada laki-laki lain yang mendekatinya.
Untuk alasan kenapa Nicholas bisa menjalin hubungan dengan Jennifer?
Itu karena Nicholas tidak pernah menyangka kalau Natalie akan kembali di kehidupannya, sebagai seorang anak dari wanita yang bernama Nadia.
Fakta-fakta lainnya akan kita bahas di next chapter.
Pusing gak?
Semoga tidak ya.
Salam manis dari author kinyis-kinyis
To be continued**
__ADS_1