Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Seiring berjalannya waktu


__ADS_3

Setelah dua jam terlelap, Nataliale pun tersadar.


"Mpppp." Dia menggeliat, setengah meringis merasakan ngilu di perutnya. "Arghh."


Natalie melihat seorang laki-laki terlelap di sampingnya. Laki-laki itu adalah suaminya. Laki-laki yang saat ini menggenggam erat jemari tangannya.


"Eh, kau sudah bangun." Nicholas bangun saat merasakan tangan yang ia genggam bergerak. Dia buru-buru memegangi lengan wanitanya, "masih sakit, Sayang?" Nicholas terlihat begitu khawatir saat melihat sebelah tangan wanitanya memegangi perut.


Natalie menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita itu terlihat menahan kesedihannya. Bagaimana tidak sedih, dia baru saja kehilangan calon buah hatinya untuk selamanya.


"Hikss." Natalie terisak. "Maafkan aku! ... aku tidak bisa menjaga anak kita."


Melihat Natalie menangisi kepergian calon buah hatinya, Nicholas justru merasa bahwa dirinya adalah penyebab semua ini. Nicholas merasa bahwa dirinyalah yang tidak bisa menjaga anak dan istrinya itu.


Nicholas segera memeluk Natalie. Memberikan kekuatan untuk wanita yang sangat dia cintai itu. "Ini bukan salahmu, ini salahku. seandainya saja aku bisa lebih cepat menyelamatkanmu dan juga anak kita mungkin keadaannya tidak akan seperti ini."


Nicholas mengusap lembut rambut Natalie. Dia bahkan mengecup kening wanita itu beberapa detik lamanya. "Udah ya! Jangan sedih lagi! biarkan anak kita bahagia disana. Suatu saat nanti kita akan kembali berjumpa dengannya."


Natalie pun mengangguk-anggukkan kepalanya dan dia juga membalas pelukan suaminya nya, menangis lalu bahkan seluruh rasa sesak di dadanya yang sejak tadi ia tahan tahan.


"Udah ya! senyum dong! ... udah lama banget aku gak lihat senyum kamu yang manis."


Tak ingin membuat laki-lakinya bersedih, Natalie pun berusaha tegar. Dia memberikan senyuman yang selalu jadi candu untuk Nicholas itu.


"Nah, gitu dong. Kan cantik, arghhh."


"Nic, kamu kenapa?"


Natalie panik saat melihat suaminya memegangi kepalanya.


"Nggak apa-apa kok."


"Kamu istirahat aja ya!" titah Natalie. Dia menggeser duduknya ke tepian sedikit, memberikan ruang untuk suaminya. Beruntung luas tempat tidur itu lumayan besar, jadi cukup untuk berdua. "Sini, tidur di samping aku!"


"Gak usah. Kamu aja yang istirahat! kamu kan abis operasi."


"Nggak apa-apa. Sini! muat kok."


Natalie memperlihatkan raut wajah penuh permohonan, yang berhasil membuat Nicholas tak bisa menolak permintaan wanitanya itu. Nicholas pun naik ke atas kasur, merentangkan tubuhnya sejajar dengan wanitanya.


"Baiklah, jika itu yang kau mau."


Setelah sejajar, Nicholas pun merentangkan sebelah tangannya, meminta Natalie untuk datang ke pelukannya. Tanpa pikir panjang lagi Natalie pun segera masuk dalam dekapan hangat suaminya itu.


Keduanya saling berpandangan, menatap dengan hangat mata yang selalu meneduhkan hati keduanya.


"Nic, kamu tau gak?"


"Nggak, kan kamu belum cerita."


Natalie terkekeh Iya, benar juga dia kan belum bilang apa-apa.


"Kamu tahu kan kalau pelangi itu datang setelah hujan."


"Mppp, lalu apa hubungannya?"


Natalie tersenyum manis, meskipun bibirnya sedikit pucat.


"Tuhan selalu memberikan keajaiban kepada orang yang bisa melewati semua rintangan nya. Termasuk kita yang merupakan salah satu hamba-nya."


Nicholas masih diam dan berusaha mencerna setiap ucapan yang Natalie keluarkan. Masih abu-abu rasanya, dia tidak tahu lurusnya kemana.


"Meskipun aku sangat sedih karena kehilangan anak kita, tapi ternyata Tuhan punya rencana yang sangat indah dibalik ini semua," ucap Natalie.


"Maksudmu?" Nicholas mengerutkan keningnya.


Sementara Natalie tersenyum membalasnya. "Bukankah dengan keadaan seperti ini aku bisa ikut menemanimu berobat ke luar negeri."


Oh jadi ini rupanya maksud perkataannya Natalie sejak tadi, batin Nicholas.


Natalie benar, pelangi ada setelah hujan. Tak ada ujian yang tak berbalas dengan indah jika kita bisa melewatinya dengan ikhlas dan tabah.

__ADS_1


"Iya sayang. Kita akan pergi bersama." Nicholas lantas kembali memeluk wanitanya. "Tapi setelah kondisimu pulih ya!"


"Hmpppp," sahut Natalie. "Oiya, bagaimana kabar Rey? apa dia baik-baik saja?"


Natalie teringat akan seseorang yang sudah berjuang mati-matian menyelamatkannya juga Nicholas.


"Reynald sudah melewati masa kritisnya. Papa bahkan bilang dia sudah siuman."


Natalie menghela nafas lega, "syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya." Natalie merebahkan kepalanya di atas dada bidang Nicholas. "Kita sangat berhutang budi padanya, kalau bukan karena bantuan dia, entahlah apakah aku masih bisa tidur di atas pangkuanmu seperti ini?"


Nicholas menarik pinggang wanita nya agar jarak keduanya semakin dekat. Dia juga mendekap Natalie sambil tak henti-hentinya mengecup kepala wanita itu dari ujung kepala hingga ujung rambutnya. "Ya, Kau benar. Kita sangat berhutang budi padanya, sebab itulah kita harus membalasnya."


"Boleh aku bertemu dengannya?" tanya Natalie sambil mengangkat wajahnya, menatap mata Nicholas.


"Tentu boleh sayang. Tapi nanti ya! setelah kamu istirahat."


Natalie mengangguk, lantas ia kembali pada posisi ternyamannya, di atas dada bidang suaminya.


"Sayang, tadi operasinya sakit banget 'gak?" Wajah Nicholas memelas, menatap sendu. Ia masih trauma saat melihat beberapa benda tajam menyayat perut wanitanya.


Meskipun hanya dari luar, tapi tetap saja Nicholas merasa itu sangat menyesakkan dadanya.


"Nggak kok. Kan udah dikasih obat dulu, biar gak terlalu berasa sakit," jawab Natalie. "Cuma masih berasa ngilu aja."


"Sini."


Sebelah tangan Nicholas tiba-tiba turun, mengelus-elus lembut perut Natalie. "Aku usapin ya! biar cepet ilang ngilunya."


Natalie terharu melihat sikap suaminya yang begitu sangat perhatian padanya. Dia tidak pernah menyangka, sosok laki-laki yang dulu sangat menyeramkan itu berubah menjadi selembut sutra.


Ceklek


"Eh, maaf."


Saat pintu terbuka, seorang perawat terkejut melihat penampakan di depan wajahnya.


Natalie dan Nicholas jadi malu saat mereka dipergoki tengah bermesraan di dalam ruangan itu.


"I_ini saya hanya ingin mengantarkan makanan untuk Nona Natalie."


"Letakkan di atas meja saja!" seru Nicholas.


suster itu mengangguk, dia meletakkan beberapa menu makanan di atas meja. Setelah itu, dia pun segera bergegas kembali pamit keluar ruangan, karena tak ingin berlama-lama di dalam ruangan dua manusia yang tengah dimabuk asmara itu.


"Mau makan dulu 'gak?" tanya Nicholas.


"Nggak ah. Nanti aja!"


"Bener? ... aku suapin nih."


"Nggak mau, aku belum lapar."


"Beneran?" goda Nicholas. Dia mendekatkan wajahnya, sangat dekat bahkan jaraknya sudah kurang dari satu centimeter. "Kali ini suapannya spesial loh."


"Spesial gi_gimana maksudnya?" Lagi-lagi Natalie gugup. Ah, kenapa juga harus gugup? padahal kan mereka suami istri.


Nicholas makin menjadi-jadi. Dia membisikkan sesuatu di telinga Natalie. "Aku siapin pake bibir langsung."


Deg


Jantung Natalie langsung berdetak kencang saat perbuatan nakal suaminya itu kembali mode On.


Melihat Natalie grogi, Nicholas tak tahan untuk tertawa.


"Ha-ha-ha, aku becanda sayang. Serius banget sih muka kamu ya ampun."


Wajah Natalie yang semula terlihat merah muda itu kini berubah jadi terlihat merah tua. Nicholas benar-benar menyebalkan, sempat-sempatnya dia bercanda padahal keduanya tengah sakit.


"Nicho, gak lucu tau," protesnya. "Kamu tuh ya bikin aku emos_"


Cup

__ADS_1


Ucapan Natalie terhenti kala satu kecupan berhasil mendarat di bibirnya.


"Di cium aja baru diem ngomelnya."


Natalie benar-benar diam. Laki-laki di depannya itu berhasil membuatnya tak bisa bicara.


"Mau lagi?" tanya Nicholas.


Natalie buru-buru menggelengkan kepalanya, berkata seolah dirinya tak mau lagi. Tapi bukan Nicholas namanya jika tak berhasil membuat wanitanya kesal sekaligus senang.


Cup


cup


cup


Di pipi kanan, kiri dan berakhir di bibir lagi.


"Nicho, ih..." protes Natalie. "Malu ah, takut ada yang masuk lagi."


"Biarin aja sih, orang udah suami istri ini."


"Tapi kan_"


"Tidak ada alasan," ujar Nicholas sambil kembali memeluk wanitanya. "Pokoknya dimana pun dan kapanpun aku mau cium bidadari aku ya terserah aku."


Natalie tersipu malu dibalik pelukan suaminya, membuat Nicholas yang melihat senyuman manis itu tak tahan untuk tidak menggigit bibir bawah wanitanya.


"Bener-bener ya kamu!" Natalie mencubit pinggang Nicholas ketika Nicholas menggigit bibir bawahnya.


"Aduh, sakit sakit, sayang."


"Makanya jangan nakal."


"Iya iya, maaf."


Melihat Nicholas merajuk, Natalie pun tak tega. "Uhhh sayangnya aku ngambek."


Nicholas masih diam, berpura-pura marah pada Natalie.


"Sini peluk!" titah Natalie sambil merentangkan tangannya.


Melihat ada lampu hijau di depan mata, Nicholas pun langsung menghamburkan pelukannya.


"Nat, aku sayang banget sama kamu."


"Aku juga."


.


.


.


Aku takut kamu jatuh cinta pada laki-laki lain setelah aku pergi, aku takut namaku di hatimu hilang dan tergantikan oleh laki-laki lain seiring berjalannya waktu (Nicholas Jhonson)


To be continued


Cuap-cuap Author


Hallo Assalamualaikum semuanya.


Semoga kabar sehat selalu mengiringi langkah kita semua.


Oiya, mau nanya saran dong. Kira-kira kalau aku revisi ulang untuk penokohan novel ini, kalian mau kasih rekomendasi siapa?


atau gak perlu? ya udah ah ini aja gitu, udah cocok kok!


Kalau ada saran, kasih komentar ya di bawah ini.


Tapi sebelum kasih saran, usahakan kasih komentar dulu ya untuk part ini.

__ADS_1


See you


__ADS_2