
Satu jam yang lalu.
"Kita ikuti mereka!" seru Nicholas pada Reynald yang baru saja datang membawa mobilnya.
"Kemana, Tuan?"
"Ke Mall XXX."
"Baik, Tuan!"
Reynald pun segera menginjak pedal gas mobilnya. Melaju, menuju tempat dimana Natalie dan Erick akan menonton film.
"Kau yakin hanya tinggal ini tempatnya?" tanya Nicholas. Mereka sudah menyambangi dua gedung bioskop di Mall itu, dan dari keduanya mereka tak berhasil menemukan Natalie dan Erick.
Hanya tinggal bioskop baru ini satu-satunya yang tersisa. Kalau sampai bukan ini, maka pupus sudah harapan Nicholas menggagalkan kencan mereka.
"Maaf, di studio berapa yang sedang menayangkan film XXX?" tanya Nicholas pada penjaga tiket.
"Oh, di studio 3. Di sana!" tunjuk penjaga itu.
"Ah, kalau begitu saya pesan satu tiket."
"Maaf, Tuan. Tapi gedung itu sudah di sewa. Dan tidak bisa dibuka untuk umum selama satu kali penayangannya."
Mendengar penuturan sang penjaga, Nicholas semakin yakin kalau Erick dan Natalie ada di sana. Dia yakin kalau Erick yang menyewa studio itu. Nicholas juga yakin, Erick tak ingin diganggu dengan Natalie.
"Dasar licik," batinnya.
Nicholas sempat berpikir bagaimana caranya agar dia bisa masuk ke tempat itu, tanpa di halang-halangi oleh penjaga.
Tiba-tiba tanpa diduga, Reynald menunjukkan bakat aktingnya.
"Nona, tolong adik saya!" ucap Reynald dengan wajah memelas. Nicholas yang melihatnya sempat jijik dibuatnya.
"Mau ngapain anak ini?" batin Nicholas.
"Tolong berikan dia kesempatan agar bisa masuk ke bioskop. Dia sangat ingin sekali menonton film ini sejak awal pemberitaan film ini akan keluar." Rupanya Reynald berakting agar bisa membuat Nicholas masuk.
"Maaf, Tuan. Tapi kami benar-benar tidak bisa. Tempat ini sudah di sewa. Dan kami tidak bisa menerima penonton lagi."
"Tolong, Nona. Adik saya punya penyakit kanker hati stadium akhir."
Nicholas tercengang tak percaya. Berani-beraninya Reynald mengatakan hal gila itu.
"Reynald gila," pekik Nicholas dalam hatinya.
__ADS_1
"Tapi kami benar-benar tidak bisa," ulang penjaga itu lagi.
"Saya akan membayar dua kali lipat dari orang yang menyewa itu."
Penjaga tiket itu mulai goyah saat Reynald menawarkan uang yang lebih besar. Tapi sepertinya keteguhan wanita penjaga tiket itu tak diragukan.
"Tolong, Nona. Kali ini saja. Saya janji tidak akan menggangu mereka. Saya hanya ingin mengabulkan permintaan terakhir adik saya. Apa Nona tidak kasihan melihat wajahnya yang sudah tidak bercahaya itu?"
Nicholas makin geram. Dia sudah rela di bully habis-habisan di depan penjaga tiket itu. Awas saja kalau rencananya tidak berhasil, dia bersumpah akan mencukur kepala Reynald hingga botak.
"Iya, saya mengerti. Tapi kan..."
"Tolong, Nona. Waktu hidup dia tidak banyak. Hanya tinggal beberapa hari lagi. Kalau sampai dia meninggal besok, Nona tidak mau kan dia datang dan menggentayangi Nona?"
Pelayan itu mulai bergidik. Nicholas yang merasa aksi Reynald mulai menarik perhatian, akhirnya ikut ber-akting juga.
Uhuk-uhuk
Nicholas pura-pura batuk. Dia kemudian memeluk tubuhnya sendiri dan berpura-pura sesak nafas.
"Kakak, dadaku sakit, aku kedinginan juga," ucap Nicholas berpura-pura. "Sepertinya penyakitku kambuh. Bagaimana kalau aku sudah terlebih dulu mati sebelum bisa menonton film ini?" lanjutnya.
Reynald ingin muntah rasanya melihat Nicholas terlihat manja. Siapa juga yang peduli kalau dia mati sebelum bisa menonton film bergenre romantis itu.
"Ah, tuh kan sudah kubilang. Dia pasti kesakitan. Jadi, tolonglah sekali ini saja. Berikan dia kesempatan." Reynald kembali memelas.
"Ya sudah. Ini aku berikan. Tapi tolong nanti nontonnya paling depan dan di pojok saja ya!" tegas wanita itu. "Satu lagi, jangan pernah membuat kegaduhan! dan jangan pernah mengganggu pelayan VIP kami!"
"Nona, apa kau lupa bahwa aku juga VIP?" Nicholas segera menarik tiket dari wanita itu. "Aku juga berhak atas seisi ruangan itu, bukan? jadi aku berhak menentukan dimana tempat dudukku."
"Hey, tunggu!" pekik penjaga itu, namun sayangnya Nciholas sudah berhasil masuk setelah memberikan tiket itu pada penjaga studio.
Sesampainya di dalam gedung bioskop, pandangan mata Nicholas langsung tertuju kepada dua orang yang duduk di tengah-tengah. Sepertinya mereka sangat menikmati suguhan film romantis itu.
"Berani-beraninya kau membangunkan singa Asia?" batin Nicholas. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung berjalan dan mengambil tempat duduk tepat di samping Natalie.
"Nicholas," cicit Erick.
"Kamu?" Natalie menatap tak percaya. Kenapa Nicholas bisa ada di sana, pikirnya.
"Udah mulai dari tadi ya filmnya?" tanya Nicholas. "Yah, sayang sekali aku telat," ucapnya seraya duduk di samping Natalie dengan santainya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Erick mengepalkan tangannya geram. Kenapa Nicholas bisa sampai lolos masuk ke studio itu, padahal dia sudah menyewa seisi studio itu.
"Sial, kenapa anak kudanil ini bisa masuk?" geram Erick.
__ADS_1
Nicholas melirik ke arah Erick. Melihat dia marah, entah kenapa rasanya Nicholas puas.
"Kau pikir aku bodoh?" batin Nicholas.
"Kenapa kamu di sini?" cicit Natalie pelan, tak ingin Erick mendengarnya.
"Kenapa? kau tidak suka kencanmu aku ganggu?"
"Bu_bukan begitu."
Natalie tak bisa mengelak, kali ini memang terlihat seperti kencan, bukan sebuah kunjungan. Andai saja pemilik Mall itu datang, mungkin Natalie punya alasan yang kuat.
"Ya sudah, terserah. Tapi tolong jangan merusak suasana."
"Oke!"
Ketiganya pun kembali fokus ke layar, meskipun sebenarnya Erick sudah tidak bisa menikmati suguhan itu karena kehadiran Nicholas.
Begitu juga dengan Nicholas, laki-laki itu juga nyatanya tak menikmati film itu. Bagaimana dia akan menikmati film itu, kalau sebenarnya saja Nicholas paling tidak suka nonton film bergenre romantis.
Baginya film bergenre romantis itu hanya membuang waktu percuma. Menangis dan menguras emosi dengan cuma-cuma, terasa sangat lebay baginya.
Delapan puluh menit sudah berlalu. Tinggal 10 menit terakhir.
Ending film itu ternyata sad ending, dimana pemeran utama wanitanya meninggal karena mengorbankan dirinya kepada penjahat demi menolong nyawa laki-laki yang sangat dicintainya.
Melihat kejadian pilu di depan matanya, entah kenapa tiba-tiba air mata Nicholas menggenang. Dadanya berdebar tak karu-karuan. Ruangan yang dingin itu nyatanya berhasil membuat tangan Nicholas berkeringat.
Nicholas mendadak sangat takut kehilangan Natalie.
"Bagaimana kalau sampai Natalie pergi seperti tokoh karakter wanita itu?" gumam Nicholas salam hatinya sambil terus menatap wajah Natalie dari samping.
Rupanya film itu secara tak langsung telah menyadarkan Nicholas bahwa ia takkan sanggup kehilangan Natalie, wanita yang kini ada di sampingnya. Wanita yang kini terfokus pada film itu.
Sebelah tangan kiri Nicholas tiba-tiba terangkat, dia menggenggam erat jari jemari Natalie perlahan.
Natalie sontak terkejut saat Nicholas menyentuh tangannya.
Beruntung Erick sedang fokus bermain dengan ponselnya, karena memang sejak kedatangan Nicholas, film romantis itu berubah menjadi film horor di matanya, jadi Erick tidak melihat adegan romantis di sebelahnya.
Dada Natalie berdebar hebat. Meskipun ia sudah mencoba untuk membuang jauh-jauh rasa itu, nyatanya sentuhan Nicholas tetaplah jadi yang ternyaman saat ini. Dia tak bisa mengelak kalau dia ingin selalu seperti ini.
"Nat, jangan pernah pergi dariku! ... jangan lakukan hal bodoh seperti wanita di film itu. Karena aku tidak akan pernah sanggup hidup tanpa kamu."
To be continued
__ADS_1
Berikan bukti cinta kalian untuk Author abal-abal ini 😂