
Melihat Natalie menangis, Nicholas merasa sangat bersalah. Tapi dia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan di depan Jennifer. Membela Natalie, itu tidak mungkin. Jennifer akan curiga padanya jika dia nyatanya memiliki perasaan berbeda.
"Sayang, makasih ya!" ucap manja Jennifer sambil bergelayutan di pelukan Nicholas. Dia berpikir bahwa Nicholas benar-benar membelanya, padahal alasannya takut dia curiga.
"Aku harus kembali ke kantor." Nicholas perlahan melepaskan tangan Jennifer dari tubuhnya, seraya mengambil dompetnya yang semula tertinggal di meja ruang tamu.
Jennifer yang sudah terlanjur bahagia hanya melambai-lambaikan tangannya mengiringi kepergian Nicholas. "Hati-hati sayang!" ucapnya. Sementara Nicholas tak memperdulikannya.
"Ikuti mobil Natalie!" Suara bariton milik Nicholas tiba-tiba mengejutkan Reynald. "Loh, bukannya sebentar lagi Tuan ada meeting dengan client penting?" tanya Reynald bingung.
"Batalkan semua janji hari ini. Aku tidak akan datang ke kantor."
"Tapi, Tuan?"
Nicholas menatap tajam ke arah Reynald.
"Baik, Tuan!"
Tanpa harus mengartikan, Reynald sudah paham maksud tatapan itu. Artinya adalah semua keputusan sudah diputuskan dan tidak ada pengecualian.
"Halo, batalkan semua pertemuan Tuan Nicholas hari ini!" ucap Reynald pada seorang sekretaris dibalik teleponnya. Setelah mendapat jawaban iya, Reynald pun segera menyalakan mesinnya. Mengejar wanita yang mengendarai mobil berwarna merah tak jauh di depannya.
***
"Aduh!" Nadia memegangi kepalanya yang sangat pusing sekali. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengannya semalam, yang pasti terakhir kali dia mengingat ada seseorang yang membekap mulutnya dan setelah itu dia sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Siapa yang melakukan ini padaku?" geramnya sambil terus memegangi kepalanya. Dengan sempoyongan Dia berjalan menuju kamar wanita bernama Merry. "Gara-gara orang gila sialan ini, aku terkena sial." umpatnya seraya mengeratkan giginya.
Karena lawan bicaranya itu tak bisa merespon, Nadia pun akhirnya kesal sendiri dan memilih untuk pergi dan membersihkan badannya dari sisa-sisa debu yang menempel di baju dan kulitnya.
"Masih waras aja udah nyusahin, apalagi sudah gila seperti ini." Nadia terus saja memaki Merry. Hingga Nicholas yang mendengarkannya lewat audio yang dikirimkan orang suruhannya mendadak geram tak tahan lagi untuk segera memberikan pelajaran yang lebih dari semalam.
"Tetap awasi dia! jangan sampai dia melukai Ibuku! ... kalau sampai itu terjadi, nyawa kalian adalah taruhannya!" ujar Nicholas seraya menutup teleponnya tanpa ingin mendengar jawaban dari orang-orang suruhannya itu.
Reynald menatap wajah Nicholas di cermin. "Sepertinya Nona Natalie kembali ke rumah," ucap Reynald mengingatkan Nicholas.
"Bagus kalau dia kembali ke rumah," sahut Nicholas.
Tak lama mobilnya sudah benar-benar sampai di depan rumah miliknya. Mobil yang dikemudikan Natalie pun sudah terlebih dahulu masuk garasi sebelum akhirnya mobil yang dibawa Reynald juga menyusul di belakangnya.
"Tunggu di sini! jangan sampai dia kabur dengan mobil ini," titah Nicholas pada Reynald.
"Baik, Tuan!" Reynald membungkukkan sedikit badannya.
Nicholas segera masuk ke dalam rumah mengejar wanita yang sudah terlebih dahulu masuk dengan air mata yang bercucuran.
"Mau kemana kamu?" tanya Nicholas saat melihat Natalie memasukkan baju-baju dan barang miliknya ke dalam sebuah koper.
"Bukan urusanmu!" sahut Natalie yang bicara tanpa menatap wajah Nicholas.
__ADS_1
"Masukkan kembali barang-barang itu!" Nicholas menarik tangan Natalie dari kopernya.
"Lepas!!!" Natalie memekik sambil menyingkirkan tangan kelas dari, "aku tidak bisa tinggal bersama dengan laki-laki yang tidak pernah menghargai kehadiran ku disini sebagai istri. Jadi, lebih baik aku hidup sendiri. Aku rasa itu lebih terhormat daripada memiliki status sebagai seorang istri tapi hanya dianggap sebagai seorang patung di sini." cibirnya lalu kemudian meneruskan kembali aktivitasnya memasukkan baju-baju ke dalam kopernya.
Tekad Natalie sudah bulat dia akan menggugat cerai Nicholas, dan dia juga akan kembali ke rumahnya. Tempatnya bukan di sini, rumah ini ini hanyalah sebuah ilusi yang tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan nyata Natalie.
Setelah slesai mengemas Natalie berdiri. ditatapnya Nicholas dengan tatapan penuh kekecewaan. "Aku akan segera mengurus surat surat perceraian. Dan secepatnya kau akan menerimanya." ujar Natalie seraya menarik kopernya. Namun, baru saja beberapa langkah tiba-tiba sesuatu yang mencengangkan membuat langkah Natalie terhenti.
"Kau tidak bisa menggugatku."
Teg
Langkah kakinya terhenti. Kemudian membalikkan badannya, "Kenapa? ... bukankah sudah banyak yang berhasil seorang istri menggugat cerai suaminya. Apa lagi ini kasusnya adalah perselingkuhan. Kurasa itu akan lebih mudah untuk diurus."
"Kau benar." Nicholas berjalan mendekat ke arah Natalie. "Tapi kali ini berbeda."
Nicholas berjalan mengelilingi tubuh Natalie, membuat Natalie mau tak mau mengikuti kemana arah laki-laki itu berputar. "Apa maksudmu?"
Nicholas berhenti tepat di belakang Natalie. Dia diam beberapa detik. "Kau lupa, dimana Ibumu sekarang berada?"
Teg
"Maksud ... maksudmu?" Natalie langsung membalikkan badannya. Dia terkejut ketika Nicholas membahas perihal masalah ibunya. "Apa yang kau lakukan pada ibuku?"
Nicholas terdiam, menunggu Natalie berekspresi kembali.
"Jawab aku, Nicholas!!! apa yang kau lakukan pada ibuku?" dimana kau sembunyikan ibuku?" Nafasnya mulai terengah-engah.
"Lepaskan ibuku, Nicholas! kenapa kau tega melakukan ini pada keluargaku? dia juga Ibumu."
"UPS, maaf. Sejak kapan aku memiliki seorang ibu yang kejam seperti dia?" Nicholas tertawa miring mendengar Natalie menyebutkan bahwa Nadia juga adalah ibunya. Meskipun hanya sebatas ibu mertua, tapi Nicholas tidak sudi jika ada orang yang mengatakan nadia adalah ibunya.
"Kumohon lepaskan ibuku, Nicholas!" Kini Natalie mulai melemah. Dia benar-benar takut sesuatu terjadi dengan ibunya. Dia takut kalau Nicholas akan berlaku kasar kepada ibunya. Terlebih beberapa hari ini Natalie pernah mendengar Nicholas menyuruh orang suruhannya untuk berbuat sesuatu yang tidak baik, jelas saja itu membuat Natalie khawatir.
Mungkinkah orang-orang suruhan itu dibayar untuk melukai ibunya. Natalie sudah benar-benar panik dibuatnya.
"Mudah saja ... aku bisa memberikan opsi untukmu sebagai anak agar bisa berbakti padanya."
"Apa itu? cepat katakan!!!" Natalie sudah tidak sabar.
"Baiklah, yang pertama lunasi semua hutang hutang ibumu!"
Natalie tercengang saat mendengar kata hutang. Mana mungkin dia bisa membayar semua hutang-hutang ibunya dalam waktu sekarang-sekarang ini. Sedangkan nominalnya saja mencapai ratusan juta. Dari mana Natalie bisa mendapatkan uang sebanyak itu.
"Opsi selanjutnya?" tanya Natalie.
"Kenapa? kau tidak bisa melakukan opsi yang pertama?" ejek Nicholas.
"Cepat katakan apa opsi kedua?" geram Natalie.
__ADS_1
"Sabar, tenanglah! ini sangat mudah. Kukira kau bisa melakukannya."
Ada rasa bahagia dalam hati Natalie. Ia berharap opsi kedua ini bisa ia lakukan untuk menolong ibunya. Tapi rupanya salah. Opsi kedua lebih sulit
"Opsi kedua adalah, kau tetap menjadi istriku sampai Ibumu bisa melunasi hutang-hutangnya."
"Apa?" Natalie tercengang.
"Iya. Mudah bukan. Kau hanya perlu menjadi istriku. Tenang saja! selama kau menjadi istriku, aku akan tetap memberikan nafkah sebagai seorang suami yang baik."
"Aku tidak mau."
"Oh, tidak masalah. Kalau kau tidak mau, itu artinya kau menyerahkan sepenuhnya masih Ibumu di tanganku. Bukan begitu?"
Natalie mengepalkan tangannya. Pilihan satu dan dua benar-benar sangat sulit baginya. Tapi bagaimanapun ia harus memilih agar setidaknya dia bisa memastikan bahwa Nicholas tidak melakukan hal yang tidak-tidak kepada ibunya.
"Dia benar-benar bukan manusia. Dia bahkan tidak layak dipanggil suami."
Natalie pun akhirnya memutuskan.
"Oke ... aku sudah memutuskan."
"Ya, katakan!"
Natalie menutup matanya dan mengumpulkan segala keberaniannya. "Aku pilih opsi kedua."
"Ckk, sudah kuduga dia pasti tidak akan sanggup membayar semua hutang hutang ibunya." batin Nicholas.
"Tapi aku ada syarat." Natalie memecah kesunyian.
"Ya, katakanlah!"
"Izinkan aku untuk membantu melunasi hutang hutang Ibuku agar hutang-hutang itu cepat lunas sebelum waktu yang ditentukan tiba."
"Oke, tidak masalah." sahut Nicholas. "Kau pikir kau bisa kerja apa untuk menghasilkan uang ratusan juta rupiah itu?" batin Nicholas.
"Oke, sepakat!"
Setelah mengucapkan kata sepakat, Natalie pun kembali memasukkan baju-baju ke dalam lemarinya. Setelah beres, ia menarik jas di dalam lemari.
"Kau mau kemana?" tanya Nicholas yang melihat Natalie seperti hendak pergi.
"Aku harus kerja." Dia menatap lekat mata Nicholas.
"Bukankah kau tadi pagi bilang tidak mau masuk kerja?"
"Tidak jadi ... karena ternyata aku justru harus bekerja lebih giat lagi untuk melepaskan ibuku dari jeratan suami sepertimu," ucapnya seraya meninggalkan rumah. Membuat Nicholas hanya menatapnya dari arah belakang.
"Bekerjalah sampai kau lelah Natalie! kau tidak akan mampu membayar semua hutang-hutang Ibumu itu."
__ADS_1
To be continued